
Setelah Yola membuka pintu, terlihat Rei yang masih memegangi perutnya. Yola yang melihatnya, sangat merasa bersalah. Hanya karena dia kesal kepada suaminya, dia sampe tidak memperhatikannya.
"Udah setengah satu lebih, maafin saya ya. Harusnya saya pulang lebih awal. Janga marah ya! Ayo turun!" ajak Yola.
Rei tidak menjawab.
"Rei? Ayo!" ajak Yola lagi. Rei hanya mengulurkan tangan kananya. Isyarat kalau dia ingin jalan bareng dengan Yola.
"Manja sekali!" batin Yola sambil melirik tangan Rei.
"Astagfirullah. Dingin sekali tangan kamu. Ayo buruan! Tunggu yah! Saya kunci pintu dulu!" Yola mnegunci pintu kamarnya, lalu dia buru-buru menggandeng tangan Rei dan pergi kebawah.
Dilantai bawah
"Mau nunggu dimeja makan apa di Sofa?" tanya Yola.
Rei tidak menjawab, dia langsung duduk dimeja makan.
"Wah, untungnya bibi udah masak. Em, enak. Sepertinya, ini makanan yang dimasak malam ini. Masih seger banget. Enak sekali, tapi perutku masih terasa kenyang" ucap Yola sambil mencicipi makanan yang ditutup tudung saji dan dibukanya. Rei hanya melirik ke arah lain, sambil memegangi pelipis.
Ilustrasi Rei malam itu
"Hehe. Maafya! Tadi saya gak keburu masak." Yola tersenyum. Rei masih sama dengan posisinya tadi, tidak menjawab.
Lalu Yola hanya mengambil nasi panas dan sayur sop bakso. Sengaja tidak dipakaikan sambal goreng kentang dan ayam. Karena itu , sudah malam.
Kemudian dia menghampiri Rei. Tidak lupa membawa segelas air putih hangat.
"Rei? Makan dulu ya! Gak apa-apa kan ditinggal?" Yola menyodorkan nasinya. Namun, Rei tidak menerimanya. Dia hanya melirik makanannya sebentar.
"Ayolah Rei!" Bujuk Yola. Karena merasa tidsk dianggap, Yola pun duduk disebelah Rei.
"Jangan merajuk ya sayang! Maafkan saya kurang memeperhatikan kamu hari ini. Jam segini baru makan. Ayo makan yah!" bujuk Yola.
"Minum" ucap Rei. Yola pun memberikannya.
"Suapin?" tanya Yola. Rei hanya terdiam dan mengagguk, sambil melihat gelas yang masih dipegangnya.
"Kamu pergi sama Rafael tadi?" tanya Rei sambil mengunyah makanan.
"Iya ada perlu. Tidak hanya sama dia kok, teman kampus yang lain juga banyak."
"Tapi tadi berdua doang sama dia?"
"Iya. Abis makan dulu ditempat lesehan. Saya dari pagi belum sempat makan, hanya roti doang pas sebelum izin ke kamu mau pergi tuh." jawabnya santai, tidak ingin merusak mood suami.
__ADS_1
"Besok saya ada meeting di Hotel. Kamu mau kemana?"
"Pergi lagi. Saya ada keperluan, tapi maaf saya gsk bisa cerita." ucapnya.
"Saya tidak akan memaksa. Tapi, besok siang temannya papa ngajak makan siang bareng. Kamu suruh ikut."
"Saya gak janji ya." Yola cuek. Rei tiba-tiba berhenti mengunyah dan langsung minum. Yola kaget, dan langsung mengejar Rei yang pergi ke kamarnya dengan tiba-tiba marah.
Rei sedikit membanting pintu. Yola langsung membukanya.
"Rei, makannya belum habis. Apa perkataan saya ada yang salah!" ucap Yola sambil mengetuk-ngetui pintu. Namun, karena Rei tidak menjawabnya.
Yola langsung masuk. Dia melihat Rei yang sengaja membuka jendela dan menatap keluar jendela tersebut. Karena tidak ingin membuat Rei marah. Yola langsung memeluknya dari belakang.
"Maafkan saya, jika perkataan saya ada yang salah. Jangan marah ya!"
Rei yang kaget karena pertama kalinya dipeluk Yola; hanya terdiam kaget.
"Rei?" tangan Yola menggenggam tangan kanan Rei yang masih terasa dingin. Lalu dia melepaskan pelukannya. Tangan kirinya membuka french khimar yang menutupi wajahnya.
Kemudian tangan Rei yang masih digenggamnya, langsung dikecup dengan tekanan yang agak lama. Rei yang melihatnya hanya terdiam kaget. Terlebih lagi, dia melihat wajah Yola yang udah lama ditutupnya.
Yola melepaskan kecupan ditangan Rei tersebut. Kemudian beralih menatap Rei.
"Jangan marah suamiku. Sayang." Yola tersenyum dan memeluk Rei dari depan. Sedangkan Rei mengalihkan pandanganya ke luar jendela lagi. Agar Yola menyangka bahwa dia tidak melihat dirinya.
"Maafya Rei! Waktunya tidur." Yola menutup jendela. Namun, tiba-tiba Rei memeluknya dari belakang. Dia menyenderkan tubuhnya ke pundak Yola. Tanpa mengatakan apapun.
"Apa dia mencintaiku?" batin Yola, bibir imutnya mengukir senyuman indah.
"Rei? Apa kamu merasa pusing lagi?" tanya Yola, menghilangkan keheningan.
"Biarkan seperti ini dulu." ucap Rei singkat. Yola hanya mengangguk, lalu tanganya menggenggam tangan Rei yang melikar ditubuhnya.
"Seharusnya malam ini, saya mengatakan perasaan saya. Bahwa saya mencintai kamu. Namun, bagaimana dengan kasus itu? Saya tidak mungkin ingkar janji kepadanya." ucap Rei dalam hatinya, sambil menutp matanya.
Karena merasa berat oleh tubuh Rei yang menyender dibahunya.Yola pun melepaskan pelukannya.
"Tidur dulu! Saya gak akan ganggu kamu. Tangan kamu semakin dingin." ucap Yola sambil mengajak Rei berjalan ke arah tempat tidur.
Ketika Rei sudah berbaring ditempat tidurnya, Yola kembali menutup jendela. Sedangkan Rei pergi ke ruang gantu baju. Mungkin karena keringetnya banyak.
Beberapa menit kemudian
Rei sudah keluar dari tempat ganti. Dia langsung duduk dikasur. Tanpa melirik atau menyapa Yola.
"Ah dia masih saja terdiam. Padahal aku ufsh menunggunya. Apa saya isengin aja ah." Yola tertawa kuda dalam hatinya. Setelah menutup jendela, bukannya menghampiri Rei. Dia malah berjalan ke arah pintu, sambil senyum-senyum. Rei yang melihatnya, langsung mematikan lampu sambil berkata,
__ADS_1
"Saya mau tidur," teriak Rei dengan nada biasaanya yang seperti anak kecil.
Yola tidak menjawa, dia hanya terenyum tanpa melihat Rei.
"Yaudah tidur, saya juga mau tidur diatas." Yola membuka gagang pintu.
"Yolaaaaaaaaa!" Rei merajuk. Spontan Yola pun tertawa, diapun mengunci pintu dan menghampiri Rei.
"Maafya!" ucap Yola sambil mendekat ke arah Rei. Karena tidak ada jawaban, Yola menyalakan lampu kembali. Hal itu membuat Rei yang sedang merajuk, menyipitkan matanya karena kena silauan lampu.
Yola naik ke atas kasur, lalu dia menyelimuti Rei dengan rapi. Setelah itu, Rei tertidur dengan elusan tangan lembut Yola dirambutnya.
"Memakai baju tidur biru seperti ini, dia terlihat tampan sekali." ucap Yola sambil tersenyum.
Setelah Rei tertidur, Yola mematikan lampu kembali. Merasa tidak ada silauan lagi, Rei membuka matanya.
"Yolaa?" panggil Rei.
"Loh? Kirain udah tidur," Yola kaget.
"Mau kemana?" tanya Rei.
"Nggak kemana-mana. Hanya matiin lampu doang, Rei." ucapnya.
"Dingiiiiin" ucap Rei.
"Yola pun langsung naik lagi ke kasur. Rei yang menyadarinya, seperti biasa langsung tidur dipangkuannya. Dia seperti itu, agar Yola tidak kabur.
Lantas Yola, langsung menyelimuti Rei. Sampai hanya terlihat kepalanya saja, yang dielus-elus olehnya.
Sayang sekali, elusannya tak membuat Rei hampir tertidur. Rei malah bangun, kemudisn duduk.
"Apa yang ingin kamu lakukan? Ini udah mau jam 2 Rei. Jam setengah 5 aku harus udah bangun. Ada ujian english besok." Yola kesal karena suaminya belum tidur.
"Buka kacamata kamu, sama hijabnya." titah Rei.
"Enak sekali kamu bicara. Tidak akan Rei. Tadi juga saya membuka penghalang wajah karena kamu yang suka tiba-tiba merajuk." Yola kesal.
Sedangkan Rei kaget dengan jawaban Yola.
"Ayolah! Kalau mau tidur!" ajak Yola kepada Rei yang masih merajuk.
Rei langsung tidur kembali, lampu sengaja dinyalaian, dan dia menarik selimutnya sendiri. Lalu memaksakan diri menutup matannya. Yola yang melihatnya, hanya tersenyum puas.
Ilustrasi Rei saat tidur ketika merajuk
__ADS_1