Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Yolanda Menelpon Ricard


__ADS_3

Satu jam sudah berlalu. Kedua pria suruhan Dewa membawa Yola yang pura-pura masih pingsan ke Markasnya. Markasnya Dewa berada di Apartemen. Satu Apartemen dengan yang ditempati olehnya, Melinda, dan Laura.


Ketika Yola sedang digendong dengan cara fireman's carry,  oleh salahsatu dari pria tersebut. Tanganya melihat benda seperti kertas yang membungkus benda kecil berbentuk persegi dibelakang saku celana pria tersebut. Saat dia melihatnya. Ternyata itu adalah kartu untuk membuka pintu Apartemen. Dikertas tersebut terdapat kode untuk membukanya. Yola lalu menuliskan kode tersebut dipergelangan tanganya dengan pulpen yang ditaro dijaketnya, bekas menulis pesan untuk Ricard waktu dimotor itu. Lalu dia buru-buru menyimpan kembali kartu itu ke tempatnya.


Pria yang menggendong Yola mengganti pakaianya dengan pakaian formal. Sehingga orang-orang yang berada di Apartemen tidak mencurigainya. Karena saat sudah didekat pintu masuk Apartemen. Dia merubah posisi Yola dengan menggendongnya didepan. Orang-orang termasuk resepsionist hanya tersenyum melihat pria tersebut. Karena pria tersebu sering bolak-balik ke Apartemen itu. Dia memberi tahu, bahwa Yola adalah istrinya yang sedang pingsan. Yola yang mendengarnya. Tidak menghiraukanya, dia hanya mengikuti permainan orang-orang tersebut.


Saat dia sudah sampai di Apartemen yang dimaksud, dengan menggunakan lift. Pria itu langsung membuka pintunya. Dan membaringkan Yola dikasur. Lalu keluar dan mengunci pintu lagi. Yola yang menyadari bahwa dia sudah sendiri. Langsung menyembunyikan hp, pistol, dan kunci motornya dibelakang kulkas.


Beberapa menit kemudian. Pria tersebut masuk lagi. Yola yang saat itu pura-pura memegang pelipisnya sangat kaget.


"Siapa kamu? Saya ada dimana sekarang?"


"Kamu tidak perlu tahu siapa saya. Sekarang buka jaket kamu dan lempar ke saya."


"Saya tidak mau. Untuk apa? Lagian saya tidak mengenal kamu."


"Lempar kesini atau saya yang membuka paksa?" Pria tersebut mendekat ke arah Yola. Dia yang pura-pura kaget langsung membuka dan melempar jaketnya.


Pria tersebut menelpon seseorang dan meload speaker telpon tersebut.


"Bos, ini jaketnya."


"Periksa! Ambil hpnya!


Lalu pria tersebut memeriksa jaket Yola. Yang hanya ada dompet kecil berisi uang recehan dan pulpen.


"Dimana handphone kamu?"


"Mana saya tahu."


"Jangan bohong!"


"Hp? Apah? Apah jangan-jangan tertinggal ditempat tadi sama motor saya? Tidaaaaaaaakkk (Yola pura-pura teriak). Sebenarnya aku ada dimana? Kamu siapa? Hp dsn motorku apa masih ditempat yang tadi? Bagaimana kalau ada yang mencurinya? Dia bisa marah." ucap Yola yang pura-pura nangis dan langsung mengambil selimut lalu menghalangi tubuhnya.


"Dengar kan bos? Sepertinya tertinggal ditempat yang tadi."


"Tinggalkan dia dan kunci. Balik ke tempat yang tadi. Amankan hp dan motornya jika masih ada." ucap Dewa lalu mematikan telponnya.


Pria tersebut langsung pergi.


Beberapa menit kemudian. Dia mencari sumber cctv. Dan benar saja, ada cctv disana. Dia langsung mencabut kabel cctv tersebut. Lalu menelpon Rei.


Truut truut truut


Telpon tidak diangkat


Truut truut truut


Telpon tidak diangkat


Truut


"Hallo?" jawab Rei yang baru saja datang ke rumahnya. Dan sedang membuka kancing kemejanya. Dia meload sepakerkan telpon Yola.


"Rei tolong aku! Aku takut!"

__ADS_1


"Kamu dimana? Sama siapa?"


"Apa yang terjadi?" Rei tiba-tiba panik.


"Aku gak tahu. Aku takut. Rei cari aku. Temui Revan tolong!"


"Kenapa gak sharelok?"


Tut tut tut (Telpon terputus)


Saat Yola akan mensharelok. Hpnya hanya 2 persen. Tidak akan keburu jika dia mencari lokasi dulu.


Dia hanya mengetik.


"Temui Revan !"


Lalu dia keluar dari aplikasi WA.


Revan yang saat itu sedang berkumpul bersama David, Dewa, dan para marketing. Dia teringat Yola. Lalu, dia membuka aplikasi temui perangkat. Disana dia menemukan keberadaan Yola yang berada di Apartemn mewah ternama. Spontan dia menautkan kedua alisnya. Karena dia sering kesana, saat masih berpacaran dengan Laura. Hanya saja, dia tidak pernah masuk kesana. Hanya menjemput atau mengantar Laura sampai halaman depan Apartemnnya.


Hp Yola yang menerima notifikasi perangat ditemukan. Langsung mati.


"Revan? Semoga kamu berhasil menemukan aku."


Satu jam telah berlalu.


Motor Yola ditemukan oleh 3 orang tukang kayu yang membawa mobil losbak. Mereka mengamati motor Yola. Lalu, menemukan tulisan yang Yola simpan. Salahsatu dari mereka langsung menelpon Rei.


Truut truut truut


Rei yang sudah ada didalam mobil untuk menemui Revan mengangkat telpon dari nomor baru tersebut.


"Hallo?"


"Tulisan apa?"


"Kenapa kamu tidak mengangkat telpon saya? Saya diikuti oleh orang yang tidak saya kenal. Mereka mengikuti saya menggunakan mobil."


"Astagfirullah. Itu istri saya pak. Saya minta tolong. Motornya dibawa ke kantor polisi terdekat saja pak. Kita janjian disana. Tadi istri saya nelpon, sepertinya dia diculik. Karena dia ketakutan." Rei mematikan telponnya. Lalu dia buru-buru pergi dan mamebawa kencang mobilnya untuk menemui Revan di PT nya.


Revan yang saat itu tidak bisa meninggalkan tempat itu. Hanya menyuruh orang untuk terus mengaawasi mobil Dewa.


Yola yang saat itu takut ketahuan. Dia langsung memakai jaketnya kembali. Lalu memasukan hp, kunci motor dan pistolnya.


Dia diam didekat pintu Apartemen tersebut. Sambil mengikat rambutnya dan menyender.


Setengah jam kemudian.


Rei sudah ada di kantor mewah Revan.


Mereka yang baru saja keluar dari ruangan melihat kedatangan Rei. Para marketing pamit pulang.


Rei yang saat itu memakai masker dan jas. Disangka anak dari Investor oleh David. Dewa yang melihatnya buru-buru pergi, karena takut disuruh David untuk menghadapinya. Sedangkan, Revan memilih untuk menyambutnya. Saat Rei membuks maskernya, Revan terkejut. Begitupun dengan David.


"Luar biasa. Tampan sekali. Sulit dibandingkan dengan kamu van ketampananya." Puji David.

__ADS_1


"Apasih pah. Pah kenalin ini teman aku." Revan mengisyaratkan Rei untuk memberikan uluran tangan kepada David. Revan yang sudah duluan memahaminya, tidak pikir panjang. Dia langsung mengajak David salaman dan memperkenalkan diri.


"Salam kenal Pak, Saya Ricard Putra Alexandar."


David tidak menjawabnya. Dia hanya menatkan alisnya dan sedikit mimik yang seperti penasaran.


"Kenapa pah?" tanya Revan.


David melepaskan tangan Rei.


"Tunggu! Sepertinya saya tahu kamu. Nama kamu gak asing untuk saya."


"Apa kita pernah bertemu pak?"


"Apa kamu CEO Hotel *A* di Jakarta Timur?"


"Iya. Baru dibalik nama setahun yang lalu pak."


"Itu Hotel, tim property Kami yang bangun." ucap David


"Massya Allah. Saya baru tahu pak."


David hanya mengangguk. Lalu pamit ke Rei dan Revan. Meninggalkan Mereka berdua.


"Ada apa?" tanya Revan tersenyum ramah.


"Ada apa? Anda masih nanya ada apa? Dimana Yola?"


"Saya belum bertemu denganya. Tapi saya tahu dia dimana."


"Cepat katakan dimana dia? Dia dalam bahaya." bentak Rei.


"Anda peduli atau pura-pura peduli? Memangnya anda mencintainya?"


"Dia istri saya. Tanggungjawab saya. Masalah cinta nggaknya saya hanya yang tahu. Cepat katakan dimana dia!"


"Saya akan kesana sekarang. Dia ada di Apartemen," Revan belum selesai berbicara.


Nb: Kantor saat itu sudah sepi.


"Kenapa bisa disana? Apa yang anda lakukan terhadapnya?" darah muda Rei mulai mendidih.


"Maksud anda apa?" tanya Revan yang mulai terpancing.


"Apa anda akan melakukan hal yang sama? Seperti apa yang anda lakukan kepada kekasih anda?" Rei melotot.


"Apa yang anda maksud? Apa anda menuduh saya membunuh calon istri saya?"


"Anda sudah menjawab duluan pertanyaan saya."


"Anda salah sangka. Kumpulkan bukti jika memang itu benar." ucap Revan berlalu.


"Tunggu! Saya kesini bukan untuk itu. Tapi, untuk istri saya. Dimana dia sekarang? Apa anda menculiknya? Dan mengurungna di Apartemen anda?"


Revan yang sedang emosi, tidak meresponnya. Dia hanya menyuruh Rei untuk mengikutinya.

__ADS_1


"Ikuti saya!"


Revan membawa mobil sendiri dan dibuntuti oleh mobil Rei dari belakang. Dia pergi ke Apartemen yang dimaksud.


__ADS_2