Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Azka Berkhianat


__ADS_3

Dua bulan kemudian


Terlihat Yola sedang asyik mengobrol dipinggir Pantai. Yola yang saat itu memakai gamis dan cadar berwarna coklat milo sedang membawa camera. Roknya berkibar terbawa angin. Lalu dia menghampiri Revan yang sedang berenang dan menunggu teman-temannya datang.


Revan yang rambutnya dan pakaiannya basah, terlihat sangat berkarisma. Dia sangat takjub melihat wanita yang sedang berjalan untuk menghampirinya.


Saat itu terik matahari sangatlah panas. Sehingga, mereka memesanEs kelapa muda.


Sesekali Revan melihat Yola yang terlihat sangat cantik menggunakan cadarnya. Yola terus menikmati pemandangan dengan Laut yang sangat terlihat biru.


"Saya boleh nanya sesuatu gak?" tanya Revan.


"Bolehlah kak. Gak usah terlalu formal sih. Nanya-nanya aja. Gak usah izin dulu."


"Kamu sudah lama tidak menceritakan rumah tangga kamu. Semenjak kamu pakai pakaian seperti ini. Kenapa?" Revan menyenderkan tubuhnya dikursi sambil menatap Yola.


"Karena masalah rumah tangga. Jangan ada seorang pun yang tahu. Walaupun hanya sebuah piring yang jatuh. Dan aku baru tahu itu, pas aku dengerin kajian di daerah Kalibata kak."


"Massyaallah. Pergi sama siapa kesana?"


"Sama Imelda."


"Terus hubungan kamu sama Rei gimana? Apa kalian sudah saling mencintai?"


Yola spontan tertawa. Dia lalu menatap layar hpnya.


"Gak usah dibahas kali kak. Itu mah kakak mancing aku buat aku cerita." Tertawa kuda.


"Ya gak gitu. Kemana-mana kamu sendiri. Apa dia gak nyariin kamu?"


"Hem. Intinya sekarang, aku hanya bisa berusaha. Berusaha ya kak. Menjadi istri yang baik buatnya. Walaupun dia masih belum mencintaiku. Sudah hampir sebulan, dia tinggal di Hotel. Ke rumah kalau hari minggu doang kak. Lagian kata dia kalau mau kemana-mana gak usah izin dulu."


"Ya gak gitulah. Dia kan mualaf mungkin gak tahu. Di agama kita kan, kalau istri keluar rumah tanpa izin suami kan dosa."


"Ya sih. Tapi gimana lagi aku malah bingung sendiri. Rumah tanggaku benar-benar sangat menggantung. Arahnya gak jelas. Ibarat Bahtera di Laut. Bahteranya masih utuh, cuma gak ada yang ngendaliin. Jadi tuh bahtera diam di Lautan. Hanya terombang-ambing air."


"Emm. Sebenarnya apa sih yang dia mau?"


"Gak tahu. Orang nya tertutup banget. Kalau bicara to the point. Kalau aku yang nyerocos mulu, malu lah. Dan setahu aku, dia lagi menyelesainkan satu kasus kak. Aku tahu kasus itu masih dia selidiki. Dan hal itulah yang menjadi salahsatu alasan, kenapa dia masih belum mencintai aku kak. Eh astagfirullah tuh kan. Aduh tuh kan, mulutku kadang lemes."


"Kasus?"


"Ya. Kakak? Apa boleh aku cerita? Tapi kakak jangan kaget!"


"Kaget?" Revan tertawa.

__ADS_1


"Ceritainlah!"


"Kakak? Apa Manager di Perusahaan kakak bernama Dewa?"


Revan mengerutkan kening


"Ya. Kenapa kamu bisa tahu?"


"Apa dia saudara tiri kakak?"


"Saudara tiri? Maksudnya gimana?"


"Udah kak. Identitas semua keluarga kakak aku udah tahu. Jadi gak usah disembunyiin lagi."


"Ya mereka saudara tiri kaka. Dewa dan Laura. Apa mama yang cerita?"


"Bukan. Oke deh. Biar aku ceritain kak. Jadi gini," Yola pun menceritakan semuanya.


Ditempat yang sama.


Azka dan Laura sedang makan bersama. Dia sudah mengutrakan cintanya ke Laura. Sekitar sebulan yang lalu. Hingga saat itu, mereka berpacaran.


Terlihat mereka yang sedang berfoto-foto diatas batu karang. Azka benar-benar sudah dibutakan oleh cinta. Dia berbohong kepada Yola. Dia mengatakan kalau Hans tidak bisa dihubungi. Itu semua dia lakukan agar kebenaran dilupakan untuk diungkapkan. Karena dia tidak mau Laura sampai berpisah dengannya. Apalagi Hans yang sangat kejam pasti akan mencelakainya, saat dia tahu Salma anaknya sudah meninggal. Tidak hanya Laura. Tapi Melinda dan Dewa juga.


Satu jam kemudian.


Laura merasa kehausan setelah beberapa jam bersenang-senang. Mereka pun pergi ke warung dimana Yola dan Revan berada disana.


Yola saat itu sedang menelpon dengan ayahnya. Dia berada di belakang warung, sambil duduk dibangku panjang yang disediakan oleh warung tersebut.


Sedangkan Revan, dia sedang bermain selancar air bersama teman-temannya yang sudah datang.


Yola terlihat merenung dan berkaca-kaca setelah dia menceritakan semua yang terjadi di rumah tangganya. Dia memberitahukan itu semua hanya kepada ayahnya.


Ayahnya tidak galak. Dia hanya tegas, sangat sayang kepada Yola, dan mereka sangat dekat.


Dia mendekat ke arah Laut lalu membuka cadarnya. Dan menikmati keindahan Laut. Karena ingat amanah ayah nya. Dimana dia harus tetap menyapa suaminya. Akhirnya, dia mencoba menelpon Rei.


Di Cafe Mewah Jakarta


Saat itu, Rei bertemu dengan Sarah disebuah Cafe. Sarah yang saat itu sedang hamil. Terlihat sangat cantik dan cubby. Dia sudah mengenakan hijab. Namun, belum bercadar.


Rei yang melihatnya sering kali menarik nafas. Dan memalingkan wajahnya.


"Sarah? Sebulan yang lalu kamu menelpon saya. Kamu bercerita, katanya rumah tangga kalian sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Kamu sangat kesal kepada Alvin. Karena kamu cemburu kepada rekan kerjanya.


Sampai kamu bilang, Alvin malah pergi ke Kalimantan meninggalkan kamu. Dan sampai sekarang masih belum pulang.


Saat ini, usia kandungan kamu berarti 9 bulan. Semalam kamu nelpon dan meminta saya untuk menemani kamu ke rumah sakit." ucap Rei kepada Sarah, yang saat itu hanya menunduk dan terlihat sangat banyak fikiran.


"Jujur rasa ini masih ada. Cemburu masih terasa. Namun, disisi lain saya sudah membuka hati saya untuk istri saya. Hanya saja, saya belum menyelesaikan kasus itu." ucap Kembali Rei sambil melihat hpnya.


Lalu dia terlihat kaget dan mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" tanya Sarah yang dari tadi tidak mengatakan apapun.


"Harusnya tadi saya menggetarkan hp dan tidak mensilnetnya seperti ini." Berdecih kesal.


"Kenapa memangnya?"


"Saya belum cerita ke kamu."


"Cerita apa?" tanya Sarah penasaran.


"Sebenarnya sebulan yang lalu. Saya dan Yola berantem. Sampai Yola ngurung diri dikamar. Saya mencoba menjelaskan ke dia, tapi dia tetap tidak mau menemui saya. Karena gak enak dirumah, saya tinggal di Hotel."


"Kenapa Yola bisa salah faham?"


"Dia tidak sengaja mendengar kamu menepon saya."


"Kok dia bisa tahu? Bukannya kamu menelpon diruang rahasia itu?"


"Iya. Tapi kamu tahu sendiri. Saya lagi sakit saat itu. Jadi, dia nganterin saya makanan dan masuk ke dalam kamar.


Kamu ingat kan waktu saya tiba-tiba mematikan telpon?"


"Iya. Kenapa?"


"Lukisan yang saya pajang untuk menghalangi pintu rahasia itu, dia jatuhkan. Lalu dia menangis histeris. Dia benar-benar marah. Namun dia langsung berlari ke kamarnya."


"Oh gitu. Terus kamu tadi kenapa? Kenapa nyesel udah mensilenet hp?"


"Dia menelpon. Dua kali panggilan tak terjawab." Rei menunduk.


Di pantai.


Terlihat Yola yang sudah memakai cadarnya kembali. Dia berjalan sambil menghentak-hentakan kaki. Terlihat sangat begitu kesal.


"Nasiiiiiiib. Ya Allah. Nasiiiiib. Punya suami kaya begitu." ucap Yola ngedumel.

__ADS_1


__ADS_2