
Yola yang saat itu akan kembali ke meja. Tiba-tiba dia dikagetkan oleh sosok Azka yang sedang menelpon bersama seseorang.
Dia sedang berdiri tidak menyadari bahwa Yola yang memakai cadar berdiri dibelakang warung tersebut. Dan mendengarkan percakapannya.
Beberapa menit kemudian. Azka beranjak pergi menemui Laura kembali.
"Oh jadi itu Tuan Hans. Kamu bilang, dia gak bisa dihubungi. Beraninya kamu bermain-main dengan saya. Lihat saja Azka. Kamu benar-benar penghianat." Batinya sambil berdecih kesal.
"Sekarang biarkan saya yang mengungkapkan sendiri kebenarannya" ucapnya sambil berlalu. Dia memutuskan untuk pulang.
Tengah malam telah tiba.
Disana terlihat Yola yang sedang fokus menatap layar laptopnya. Setelah itu, dia pergi ke dalam Lemari. Dia mengambil jaket yang berisi pistol itu.
Dia menatap pistol tersebut sambil tersenyum sinis.
"Saatnya kita beraksi kawan!" ucapnya. Lalu menutup lagi lemarinya dan mengambil hpnya yang berada dikasur.
Truut truut truut
Yola menelpon Rafael
"Hallo?" jawab Rafael yang saat itu sedang berada disalahsatu Markas bersama teman-temannya.
"Besok ke kampus kan?"
"Iya. Kalau kamu gimana? Besok pelajaran Pak Ricard loh."
"Aku akan masuk. Kita harus menjalankan visi kita el."
"Pulang kuliah kita jalankan yol."
"Iya. Anak-anak gimana? Siapkan?"
"Si Devan udah mengatur semuanya. Tenang aja!"
"Oke deh. Udah dulu ya. Selamat malam. Oh iya makasih udah mau bantu."
"Iya. Saya suka sesuatu yang menantang. Apalagi mengungkap kebenaran."
"Iya iya."
"Oke" Rafael mematikan telponnya.
Saat Yola akan menyimpan hpnya dimeja. Tak sengaja dia melihat foto yang terbingkai. Foto itu sengaja dia balik. Karena ingin melihatnya, dia pun mengambil foto tersebut.
"Rei? Aku merasa benar-benar menjadi wanita yang kuat. Sebentar lagi kasus kamu akan selesai. Itu salahsatu bukti. Kalau aku benar-benar mencintai kamu.
Setelah itu, aku akan mengajukan gugatan cerai Rei.
Cinta memang tak harus memiliki Rei. Aku sangat mencintai kamu.
Aku jadi ingat pesan ayah. Bahagiakan orang yang kita cinta. Dan aku akan membahagiakan kamu.
Setelah sidang perceraian nanti, kamu pasti bisa menemukan kebahagiaan Rei. Kamu udah bebas." ucapnya sambil menyimpan foto tersebut kembali.
__ADS_1
Pagi hari diKampus
Terlihat Imelda yang memasuki kelas dengan penampilannya yang seperti Yola. Dia meninggalkan Yola diluar depan kelas, ketika Rafael mengajak Yola mengobrol.
Mereka bercakap-cakap dengan sangat serius.
Disisi lain, Rei sedang berjalan melewati kelas lain. Dia akan mengadakan ujian dikelas Yola.
Hari itu, penampilannya benar-benar sangat berkharisma. Karena dia tahu dari Dimas. Bahwa Yola akan masuk kelas hari itu.
"Sebulan lamanya saya tidak bertemu dia. Sudah 4 kali pertemuan dia selalu tidak masuk kelas. Hari ini kan ujian, apa dia akan bisa menjawabnya?
Dan ntah kenapa, saya selalu memikirkannya. Saya sangat rindu diperhatikan olehnya. Jadi, apa benar saya sudah mencintainya? Apa saya harus pulang ke rumah?
Untuk ngasih tahu, kalau saya sudah mencintainya? Tapi bagaimana dengan kasus itu?
Apa ini akan berkepanjangan? Masalahnya Laura sudah tidak dekat dengan saya lagi." batinnya. Lamunannya saat itu, terbuyarkan saat dia melihat Yola yang masih bercakap-cakap serius dengan Rafael.
Dia hanya menatapnya. Tidak ada sepatah katapun yang terucapkan atau terucap dalam lamunanya.
Karena hatinya tiba-tiba bergetar saat melihat Yola.
"Yol, udah ada Pak Ricard." ucap Rafael sambil melihat ke arah Rei.
Namun, Rei tidak melirik mereka. Dia langsung masuk ke kelas. Dan membuka laptopnya.
Semua yang ada didalam kelas seperti biasa, menyapa dirinya. Banyak Mahasiswi yang berbisik-bisik, mereka memuji paras tampan Rei yang berkharisma itu.
Ditambah lagi, dia tidak memakai kemeja. Dia memakai kaos panjang seleher, jas hitam yang dibiarkan terbuka dan celana hitam. Benar-benar seperti Aktor China.
"Tolong fokus Rei!" batinnya.
"Tolong bagikan kertasnya!" ucap Rei yang masih fokus melihat layar laptopnya.
"Kertas yang tadi saya bawa pak?" tanya Dimas berdiri.
"Ya."
"Yaudah. Yolanda? Ayo bantu saya biar cepat!" ajak Dimas sengaja, sambil menggenggam tangan Yola yang sedang memegang pulpen.
"Ya gak usah pegangan Dimas!" ucap Yola sambil berdiri.
Dimas duluan membagikan kertas ujian tersebut. Sedangkan Yola, yang akan membagikan kertas tersebut. Tiba-tiba diperlihatkan kertas yang berisi "Sebelum mengisi soal. Buka dulu blokiran nomor saya!" Oleh Rei.
Dia tercengang. Dan malah berdiri mematung sambil menatap tulisan tersebut.
"Yola ngapain? Buruan bagikan!" teriak Dimas
"Iya iya." jawab Yola. Yang tak merespon tulisan tersebut. Dia langsung membagikan kertas tersebut.
Rei yang merasa tidak dapat respon hanya terdiam. Lalu menatap tajam ke arah Yola.
"Jika sampe blokiran itu tidak dibuka, lihat nanti!" ucap Rei dalam hati.
Yola yang baru selesai membagikan kertas tersebut, langsung mengeluarkan hpnya ditas. Lalu dia membuka blokiran Rei.
__ADS_1
"Ada perlu apa?" Chat Yola terkirim. Lalu dia buru-buru menyimpan hpnya kembali. Karena ujian akan dimulai.
Rei berdiri
"Perhatikan! Jangan ada yang menulis dulu. Ujian dimulai setelah saya selesai berbicara.
Ada dua pilihan, jika nanti nilai kalian dibawah rata-rata. Pertama, membuat Modul Biologi bab semester sekarang. Kedua, test lisan.
Ada yang kurang jelas?"
"Test lisannya dari bab semester sekarang juga pak?" tanya Rafael mengangkat tangan.
"Ya." jawab Rei melihat ke arah Rafael lalu melihat jam ditanganya.
"Ujian dimulai."
Mereka pun melaksanakan ujian. Rei kembali duduk, lalu melihat layar hpnya.
Tiba-tiba dia melihat ke arah Yola, yang sedang fokus mengisi soal ujian.
"Nanti pulang, tunggu saya!" chat Yola dibalas.
Di Kantor Revan
Terlihat David yang sedang berada di ruang meeting bersama Dewa, HRD, Agent, dan Marketing. Sedangkan Revan, dia belum datang.
Sebelum rapat dimulai, Dewa menghampiri David yang sudah duduk dikursi CEO. Saat itu, dia baru saja selesai berdiskusi dengan salahsatu staffnya.
Dewa hanya menatap David tanpa mengatakan apapun. Revan yang saat itu melihatnya, mencoba mendengarkan dan memperhatikan apa yang akan dilakukan Dewa.
"Apa yang ingin kamu katakan, Dewa?" tanya David serius.
Dewa tidak menjawab.
"Apa jabatan? Sudah saya katakan. Saya tidak akan menaikan jabatan kamu."
"Kenapa?"
David tidak menjawabnya.
"Anda tidak mau menaikan jabatan saya disini. Sedangkan, anda juga sudah tidak pernah menyentuh mama saya. Padahal dia masih istri anda. Sebenarnya apa yang anda mau?"
"Jangan bahas itu disini!" ucap David.
Spontan Dewa menggebrak meja.
"Apa yang anda mau?" teriak Dewa.
Semua orang yang ada diruangan tersebut kaget dan melihatnya.
"Sudah saya katakan, jangan bahas itu disini!" teriak David.
"Si*lan" ucap Dewa sambil memukul meja. Lalu mendorong kursi yang diduduki David.
Saat Dewa akan memukul David. Tiba-tiba bahu kanan nya ditarik oleh Revan yang baru saja datang. Revan memegang kedua tangan Dewa dan membalikannya ke belakang.
__ADS_1