
Setelah itu, dia melihat kotak berwarna hitam yang luarnya bertuliskan SECRET. Dibawahnya tercantum nama dan tanda tangan. Dia shok saat melihat salahsatu dari kedua nama tersebut. Satu nama Ricard Putra Alexandar. Dan satu nama lagi. Yaitu, nama sahabatnya. M.Dimas Elbert. Dia sangat tercengang. Buru-buru dia langsung membuka kotak tersebut.
Didalam kotak tersebut, terdapat banyak sekali biodata dan foto. Serta lembaran tulisan yang berisi cerita. Semua itu, dibagi-bagi dan tersusun rapih.
"Saya gak bisa kalau lihat ini satu persatu. Sepertinya saya harus membawa ini dulu. Tapi lembarannya aja. Kotaknya biar disini saja."
Satu jam kemudian dikampus
Laura yang sudah berada didepan kelasnya. Terlihat sedang mondar mandir sambil mencoba menghubungi seseorang. Beberapa kali dia menghentakan kaki karena kesal.
Rei yang saat itu akan mengajar dikelasnya Laura, berhenti didepannya tanpa mengatakan apapun. Laura yang melihatnya langsung menghampirinya.
"Hp kamu kemana? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Yola sedikit nyolot.
Rei hanya menatapnya dan berlalu masuk ke kelas. Semua yang ada didalam terpusat kepadanya. Namun, merek dibuat risih oleh Laura yang sepertinya sedang ngambek kepada Rei.
"Aku gak mau tahu. Selesai ini, kita bicara dulu. Ini sangatlah penting." ucapnya sambil berlalu duduk.
"Pak, pak. Mau aja dekat sama Laura. Orang nya posesif loh." celetuk salahsatu Mahasiswi tomboy.
"Apa kamu bilang?" Laura menggebrak meja.
Ketika dia akan menghampiri Mahasiswi tersebut. Tiba-tiba Rei teriak.
"Kelas akan dimulai. Tolong jaga sikap! Patuhi aturan kelas saya. Jika tidak suka, silahkan keluar." ucap Rei sambil berdiri membawa buku yang sudah dibukannya.
Laura hanya menatap tajam Mahasiswi tersebut lalu kembali duduk sambil memutarkan bola matanya.
"Kamu Rei. Awas saja. Jika sampe benar, si ondel-ondel itu istri kamu. Saya tidak segan-segan akan mencelakai dia. Bahkan jika nasibnya seperti si Salma."
"Sebelum saya kasih materi. Ada pengumuman dulu dari saya dan tim organisasi. Nanti saat PHBN. Saya dan Dosen biologi yang lain akan mengadakan lomba. Dan perwakilan dari tiap kelas per angkatan harus mengikuti lomba tersebut."
"Apa lomba nya pak?" tanya Mahasiswi yang tadi akan berantem sama Laura.
"Sabarlah! Orang lagi dijelaskan gimana kali." Spontan Laura menjawab.
Rei hanya melirik bergantian Laura dan Mahasiswi tersebut.
__ADS_1
"Tunggu gue keluar dari kelas ini ra. Lho belum ngerasain cakaran gu."
"Cakaran yah? Dasar kucing."
Semua Mahasiswa dan Mahasiswi berteriak, mensoraki.
"Gue kucing. Lho tikusnya." ledek Mahasiswi tersebut.
Semuanya bersorak kembali. Rei yang melihatnya merasa tidak dianggap. Akhirnya, dia menutuo bukunya. Dan keluar tanpa mengatakan apapun.
"Pak Rei marah"
"Gara-gara kalian sih."
"Benar-benar ya kalian berdua. Keterlaluan."
Oceh para Mahasiswa dan Mahasiswi.
Mahasiswi tersebut hanya menatap tajam Laura. Sedangkan Laura, buru-buru mengejar Rei.
"Tunggu!" Laura memgang bahu Rei. Rei menepisnya.
"Sangat tidak sopan. Pintar itu nomor dua, setelah adab kepada guru." Rei membentak Laura.
"Aku tahu. Tapi ini sangatlah penting Rei."
Rei tidak menjawabnya. Dan berlalu pergi. Namun, Yola teriak.
"Apa si cewek ondel-ondel itu istri kamu?"
Semua orang yang ada disana melongo dan tidak menyangka.
Rei yang sangat kaget, tidak menjawabnya dan berlalu pergi.
"S*al. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Berarti itu benar. Tidaaaaakkkkkkk. Awas aja kamu wanita ondel-ondel." teriak Yola.
Sore hari telah tiba
__ADS_1
Yola baru saja keluar dari kelasnya. Lalu, dia buru-buru mencari sosok suaminya. Yang ternyata dia masih mengadakan bimbingan dikelas lain. Rei yang melihat Yola sedang menatapnya, dia menatap balik. Namun, karena ingat apa yang tertulis difoto itu. Yola langsung membuang muka, dan berlalu meninggalkan kelas tersebut. Rei hanya cuek dan tidak menghiraukannya.
"Aku harus buru-buru pergi memfoto copy semua berkas ini. Mempeng Rei masih disana." ucapnya sambil berlalu ke parkiran. Untungnya, dia selalu membawa motor R15. Jadinya, dia pergi dengan cepat.
Setengah jam sudah berlalu.
Yola buru-buru masuk ke tempat rahasia itu. Dia menyimpan kertas itu dengan rapih kembali.
Diluar. Terdengar suara mobil yang akan parkir. Yola sangat panik. Dia buru-buru mengunci tempat tersebut. Dan menyimoat kunci itu dilantai. Tepatnya, dibawah kasur Rei. Agar Rei tidak curiga. Lalu dia menutup pintu kamar Rei. Tanpa mengubah posisi kuncinya. Diapun buru-buru pergi ke kamar dan mengunci pintunya.
Karena penasaran, Yola langsung membaca satu persatu berkasnya.
Setelah 15 menit.
"Selain karena mantannya. Jadi itu alasan, kenapa Rei mendekati Laura. Dan Dimas? Dia adalah adiknya Salma yang terbunuh di Hotel A, milik Rei? Dia meninggal karena ada yang meracuni? Untuk pelakunya, masih diselidiki." Yolanda melamun.
"Astaga. Lihat-lihat!" Yolanda melihat biodata Revan, sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Jadi, Rei dan Dimas memiliki perjanjian. Mereka menuduh Revan, pelaku pembunuhan itu. Pantes saja, dia perkataan Dimas waktu itu seperti tidak suka, karena aku dekat dengan Revan."
Beberapa menit Yola melamun.
"Dari semua tulisan ini, aku bisa menyambungkanya dengan perkataan Azka. Ternyata, bu Laila itu, istri Sah nya Tuan Hans. Salma itu anak tirinya. Sedangkan Dimas, dia itu anak kandung Tuan Hans." Yola mencoba mengingat perkataan Azka.
"Oke. Kebenaran sudah terungkap. Salma itu, anak kandung dari tuan Hans dan Melinda. Dia anak yang paling bungsu. Hanya saja Tuan Hans memisahkan Salma. Dia berbohog kepada Melinda, bahwa Salma tidak tertolong. Salma, lalu diurus sama bu Laila." ucap Yola sambil menuliskan perkataanya.
"Lantas kenapa? Kenapa Mereka membunuh Salma? Kata Azka sih," Yola sedikit melamun.
"Oh iya. Karena Dewa mendengar percakapan antara Pak David sama Revan. Dimana, jika Revan menikah dia akan jadi CEO di Property Jakarta. Sedangkan, Pak David akan memegang Property di Bali. Yang 75% tanahnya masih ada ditangan Hans. Itulah sebabnya mereka selalu berusaha menyingkirkan wanita yang dekat dengan Revan. Karena tidak msu Revan sampe menikah."
"Terus kenapa Pak David tidak menceraikan Melinda? Karena, Melinda dan kedua anaknya akan dijadikan barang barter. Antara Merka dan tanah milik Pak David."
"Terus apa untungnya buat Azka? Euuu. Kalau gak salah, Azka bilang Orang Tua nya akan dibebaskan oleh Tuan Hans. Saat Azka menemukan Salma."
"Ya Allah. Apa yang akan terjadi? Salma kan sudsh meninggal. Eh tapi, tapi gak apa-apa deh. Oke. Semuanya sudah terungkap. Aku s
Akan segera menemui Azka."
__ADS_1
Yola membereskan berkas-berkasnya. Lalu dia merebahkan tubuhnya dikasur sambil melamun.
"Ya Allah. Kalau bukan karena aku mengejar cinta suamiku, jujur aku tidak akan mau terlibat dalam kasus yang sebesar ini. Dan kamu Rei. Jujur! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kita satu rumah, aku istri kamu. Tapi, kamu belum mencintaiku. Rei jujur aku, aku (Yolanda meneteskan air mata). Rei aku lelah. Aku seperti wanita murahan Rei. Apa benar Rei aku wanita murahan? Lagi-lagi aku harus mencintai seorang laki-laki sampai sebucin ini. Rei aku gak mau jika harus merasakan sakit lagi yang kedua kalinya. Apa aku, apa aku harus mejaga jarak sama kamu Rei?"