
Spontan Rei langsung menyimpan hpnya. Lalu dia berlari ke arah pintu. Sayang sekali, pintu sudah benar-benar terkunci.
"Mama? Maaa?" Teriak Dimas membangunkan Laila.
"Maafkan saya Dim. Beberapa jam ibu kamu gak akan sadar. Maaf, karena dengan terpaksa saya dan Rafael menyuntikan obat tidur kepadanya." Batin Yola.
"Dimas? Ibu Laila?" Yola menghampiri Laura.
"Jangan khawatir! Ibu Gak kenapa-napa kok, pastihanya shok. Denyut nadi nya normal" ucap Yola, menenangkan Dimas.
"Oh iya. Kok kalian bisa berdua kesini? Terus ini dimana?" tanya Yola pura-pura.
"Nanti saya ceritakan Yol." ucap Dimas. Sedangkan Rei, masih berusaha menghubungi Revan. Namun, hpnya tidak bisa dihubungi.
"Sementara kita disini dulu! Revan belum bisa dihubungi." ucap Rei.
"Revan mana Rei?" tanya Yola pura-pura.
"Untuk apa saya kasih tahu kamu? Revan gak hanya kenalan kamu itu." Ketus Rei.
"Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini, dia menanyakan pria lain. Tadi pria itu seperti menghawatirkannya." Batin Rei. Lalu dia menyingkirkan tangan Dimas dari tangan Bu Laila dan dia langsung menggendong.
"Disini kan ada kasur, kenapa gak dipindahain Edward? ucap Rei, membaringkan tubuh Laila. Mendengar perkataan Rei. Dimas buru-buru menyelimuti Laila. Sedangkan Rei, menyender dipinggiran kasur.
"Mau kemana kamu?" tanya Rei ke Yola yang beranjak akan pergi.
"Kemana sajah bukan urusan kamu." jawab Yola jutek.
Dimas yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala.
"Yola? Jawablah! Pak Reicard biar jutek suami kamu" titah Dimas. Rei mengerutkan alisnya.
"Saya mau ke kamar mandi. Apa dia mau ikut Dim?" tanya Yola melirik Rei. Sedangkan Rei hanya memalingkan muka.
"Pak? Ikut saja sana! Hal ini jangan diambil pusing." Ledek Dimas tertawa kuda.
"Ayo mau ikut?" Ledek Yola ke Rei sekalian.
"Gak." jawab Rei singkat.
"Sabar Yol! Pak Dosen gak bisa bercanda." ucap Dimas. Yola hanya mengangguk dan masuk ke kamar mandi.
"Sekarang bisa bercanda. Bagaimana jika nanti?" batin Yola. Lalu dia pun membuka hijabnya dan langsung mengambil air wudhu. Karena waktu sudah menunjukan hampir pukul 18:00. Sedangkan Yola, belum melaksanakan sholat asar.
Di Manision Jakarta
Tiga mobil beriringan baru akan masuk ke parkiran Manission milik Hans. Satu anak buah Hans yang melihatnya, langsung memberitahukannya. Sedangkan saat itu, Hans sedang mengobrol dengan seseorang yang memakai baju kaos hitam, celana jenas, dan kacamata hitam.
Hussssss
Asap keluar dari vave yang Hans hirup.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Hans ke anak buahnya yang baru saja datang.
"Mereka sudah sampe tuan." ucapnya. Hans hanya melihat ke arah lain.
"Saya permisi Tuan!" ucap Pria yang tadi diajak ngobrolnya. Hans hanya mengangguk.
"Bawa mereka ke kurungan besi! Saya akan kesana."
"Ba," belum selesai orang itu berbicara. Tiba-tiba seseorang memotongnnya
"Tidak Tuan. Kami sudah mengecek semua ruang Apartement. Tetapi, hanya mendapatkan empat orang yang disekap diruangan yang berbeda?" ucap pria yang baru datsng tersebut dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Siapa merka?" Hans berdiri.
"Nyonya Melinda, Tuan Dewan, Non Laura, dan Azka, tuan."
"Apaaaa? Mereka?"
"Iya tuan."
"Bawa mereka semua kesini!" titah Hans.
"Kalau mereka disekap? Jadi, rencana siapa ini?" Hans bertanya-tanya.
Tak lama kemudian, dengan beriringan. Mereka berempat digiring untuk masuk ke ruangan Hans.
"Wah wah wah (Hans tepuk tangan) MELINDA. Semakin cantik saja." ucap Hans. Dan bergantian menatap ke empat orang itu.
"Buka kain dimulut Melinda!" titah Hans.
"Lihatlah! Dewa dan Laura! Ibu kamu dari dulu memang tidak punya sopan santun. Sebab itulah, saya sebagai suami tidak tahan terhadapnya." ucap Hans. Dewa dan Laura hanya melotot
"Jadi? Jadi, itu papa?" batin Laura menatap Hans. Begitupun dengan Dewa.
"Papa? Pantes saja mama sangat membencinya. Tingkah papa benar-benar melampaui batas." batin dewa. Tangan yang masih diikat, dikepalkannya.
"Mel? Lemah lembutlah! Jika bisa seperti itu, saya pun akan lembut terhadap kamu. Dan saya akan merangkul kembali anak-anak kita." Melirik Dewa dan Laura.
"Tidak perlu, dasar bang***. Lepaskan saya dan mereka! Lepaskan!" teriak Melinda.
"Kamu masih mau teriak-teriak seperti itu? Kalau iya. Saya tidak segan-segan untuk mengurung kamu dipenjara bawah tanah." ucap Hans.
"Dasar Mafia kejam." Batin Melinda.
"Bebaskan Azka dan suruh dia ikut ke ruangan pribadi saya!" titah Hans dan berlalu.
Di Panti
Revan baru saja memarkirkan mobilnya. Karena jarak dari Kota Jakarta ke Panti lumayan jauh.
"Ya ampun. Hpnya lowbat." ucap Revan. Lalu dia mencharger hpnya menggunakan powerbank, dan meninggalkannya di mobil. Dia buru-buru turun dari mobil, untuk menemui Karina.
__ADS_1
"Yola?" Panggil Dimas kepada Yola, yang baru saja selesai sholat.
"Iya Dim?" Melirik ke arah Yola.
"Lihat suami kamu!"
Tanpa menjawabnya, Yola langsung berdiri dan berbalik badan. Disana, dia melihat Rei yang tertidur dengan hp ditangannya. Sedangkan, kepalanya menyender ke meja dekat kasur.
"Kenapa diam? Sakit itu Yola." Tegas Dimas.
"Saya harus gimana?" Yola masih mematung.
"Ya kamu duduk. Kepalanya senderkan ke bahu kamu. Ke meja kaya gitu sakitlah." ucap Dimas sengaja.
"Ihh. Ntar mama kamu bangun, malu dong saya Dim." ucap Yola yang masih saja mematung.
"Biarkan saja. Mama sudah saya kasih tahu, kslau kamu sama Pak Reicard itu sudah menikah." Dengan santainya Dimas berkata.
"Yaudah. Maafya Dim. Kalau nanti dia bangun dan marah sama saya. Tanggungjawab ya! Oh iya,"
"Apa?" Dimas bertanya balik.
"Dia udah asar belum ya?" tanya Yola.
"Sudah sama saya tadi di Hotel."
"Kok kamu bisa ke Hotelnya sih?"
"Yola berisik banget. Besok-besok aja ceritanya." ucap Dimas, lalu dia menatap ke arah luar jendela.
Yola membenarkan posisi tidur Rei. Sura nafas Rei sangat terdengar.
"Dia benar-benar kelelahan. Dia benar-benar cape kerja. Ditambah dia harus kesini. Tapi gak apa-apa. Setelah ini, dia semoga tidak punya beban untuk kasus itu lagi." Batin Yola. Tanpa sadar, dia mengelus-ngelus pelipis Rei.
Dimas yang melihatnya, diam-diam dia merekamnya. Lalu dikirimkanya video itu ke WA Rei dan Yola.
"Oh iya? Hp Yola dimana ya? Apa diambil pria itu?" tanya Dimas dalam hati.
"Aw, pistol ini sangat mengganjal." Batin Yola sedikit memegang pistol yangada disaku bajunya.
"Emmmm." Rei menggeliat. Sedangkan Yola hanya melotot kaget.
"Rei? Apa dia akan bangun?"
"Emmm. Uhuk uhuk" Rei batuk.
"Dia bangun." ucap Yola. Spontan dia kangsung menjatuhkan kepala Rei dari bahunya. Sedangkan dirinya, berlari ke arah Dimas.
"Awwww." Rei kesakitan.
"Kenapa kamu ngumpet Yola?" tanya Dimas.
__ADS_1
"Suut. Saya malu. Biarkan saya pura-pura tertidur disini ya Dim. Please. Jangan sampai dia tahu hal yang tadi." ucap Yola. Dimas hanya mengangguk dan memalingkan wajahnya ke afah Rei sambil tersenyum
"Telat." batin Dimas, sambil tertawa.