
Saat itu Yola langsung masuk ke kamar Rei. Lalau mengunci kamarnya. Kuncinya dia sembunyikan dibawah kasurnya. Lalu dia mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi sambil memanggil Rei.
"Rei? Rei tolong buka pintunya! Ayolah jangan salah faham! Saya benar-benar tidak berbohong." Sambil mengetuk-ngetuk pintu.
Rei yang mendengarnya hanya mengerutkan pelipis. Sambil, mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Rei, apa kamu benaran tidak ingin membuka pintunya?"
Rei masih belum membuka pintunya. Dia malah menyisir rambut dan mendengarkan suara Yola yang sangat berisik.
"Rei, ayo Rei! Jangan kamu marah! Saya gsk akan pergi tanpa seizin kamu lagi deh! Please jangan marah!"
Rei hanya mendengarkan Yola dari belakang pintu.
"Bagaimana ini? Ini kedua kalinya dia masuk ke kamar saya. Bagimana jika hasrat itu kembali memanas?" batinnya.
"Rei?"
Karena masih tidak ada jawaban. Yola pura-pura pergi.
"Yaudah deh. Saya minta maaf lagi besok pagi aja. Saya ngantuk mau tidur." ucap Yola sambil ngumpet dibelakang gorden pintu.
Tiga menit kemudian
Karena tidak ada suara, Rei memutuskan untuk keluar kamar mandi dan membuka pintunya. Saat dia berjalan ke arah tempat tidur. Tiba-tiba Yola memeluknya dari belakang sambil mentertawakan Rei.
"Yeeee. Akhirnya, keluar juga. Cerdas kan istri kamu? Hihi. Maafya berbohong." ucap Yola yang masih memeluk Rei dengan erat.
"Astagfirullah. Gadis ini benar-benar. Gawat. Hasrat ini? Bagaimana ini? Apa saya akan kalah lagi?" batinnya.
"Maafin saya ya? Percaya kan saya gak melakukan apapun diluar sana?"
"Mana kuncinya?" Rei tidak menjawab pertanyaan Yola
"Gak tahu." ucap Yola melepaskan pelukan Rei. Lalu pergi ke kasur sambil bertumpu kaki dan tersenyum.
Rei yang melihatnya hanya terdiam. Dia memikirkan cara agar hasratnya tidak terlalu memanas.
"Jangan menggoda saya, dengan busana kamu itu. Saya masih belum tertarik." Rei menyunggingkan bibirnya.
Yola hanya tertawa.
"Saya tahu kok. Tanpa kamu bilang saya sudah tahu kamu belum mencintai saya."
__ADS_1
Rei hanya terdiam.
"Kalau seperti ini terus. Alangkah baiknya kamu terus terang ke orang tua saya. Dan kamu tolong talak saya secepatnya!" Yola hanya tersenyum.
Rei yang mendengarnya sangat kaget dengan perkataan Yola. Namun, karena tidak ingin terlalu memikirkanya dan mengalihkan pembicaraan Rei pura-pura salah faham.
"Pantes nyuruh cepat ditalak. Karena diluar sana banyak sekali pria yang dekat sama kamu. Termasuk Revan. Iya kan?" ucapnya sambil berlalu dan membaringkan tubuhnya. Lalu memakai selimut membelakangi Yola.
Yola yang polos itu, sedikit kesal.
"Ih. Benar-benar ya punya suami. Dia yang salah malah aku yang disalah fahami. Apa dia akan merajuk lagi?" batinnya.
Yola naik ke kasur dan ikutan pakai selimut.
Dia mengelus-ngelus pelipis dan rambut Rei yang masih basah.
"Maafya. Memang benar saya dekat banyak pria. Tapi kan mereka gak spesial seperti kamu. Yang suami aku itu kamu. Tetap kamu. Maafin ya."
Rei hanya menggeserkan pundaknya.
"Ya ampun sentuhan ini. Aduh. Saya benar-benar kalah lagi sekarang. Ini kekalahan saya yang kedua kalinya dalam menghadapi hasrat." batinnya.
"Rei?" Yola memanggil Rei sambil memeluknya.
"Jangan marah lagi ya!"
"Nggak kok."
"Benaran?" Yola melepaskan pelukannya dan menatap Rei yang tak melihatnya.
"Kalau benar. Yaudah ya saya keluar dulu. Terimakasih sayangku." ucap Yola sambil berlalu. Dia membawa kunci dibawah kasur.
Namun, Rei yang menengoknya dia sengaja menjatuhkan gelas yang terisi air putih. Itu membuat Yola kaget.
"Astagfirullah. Kenapa kamu?" Yola mendekati Rei.
"Gak apa-apa. Hanya kesenggol."
"Kamu sedang berbohong. Tidak seperti biasanya. Apa kamu masih marah?"
"Lupakan!"
"Tidak bisa. Katakanlah, kamu kenapa sebenarnya?" Yola menyentuh pundak Rei dengan lembut.
__ADS_1
Rei merasa dadanya sesak karena menahan hasrat yang menggebu-gebu. Keringatnya sudah banyak bercucuran. Dia hanya terdiam.
"Kenapa?" Yola mengelus pelipis Rei kembali.
Rei yang kembali bingung harus melakukan apa, langsung memeluk Yola.
"Kenapa? Ada apa? Apa kamu sakit lagi?" Yola dek-dekan. Dia langsung memeriksa tubuh Rei. Yang ternyata sudah dibasahi oleh keringat dingin.
"Saya maunya kamu disini aja." Rei merajuk manja.
"Kamu udah dua kali seperti ini. Kamu tidak demam tapi banyak mengeluarkan keringat. Apa kamu ketakutan? Apa disini ada mahluk astral?"
Rei yang sudah tidak bisa menahan lagi hasratnya. Dia melepaskan pelukannya. Lalu mematikan lampu. Saat itu, Yola kaget. Rei memeluknya dan sedikit mendorong tubuh Yola ke pinggir kasur.
"Apa yang kamu lakukan Rei?"
"Apa kamu sudah pernah melakukan ini?" Dia menunjuk bibir Yola. Yola yang kaget menjawab dengan terburu-buru.
"First kiss saya hanya untuk suami saya." Sambil menggelengkan kepalanya.
Ketika Rei sudah sangat mendekatkan wajahnya dan hampir menempelkan bibirnya ke bibir Yola. Tiab-tiba Yola menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Rei sadarlah! Apa yang kamu lakukan? Ingat Rei, saya ini bukan wanita malam. Kamu suami saya, tapi kamu belum mencintai saya Rei. Demi Allah, saya walaupun janda. Kegadisan saya masih suci. Belum pernah disentuh pria manapun. Saya tidak akan memberikannya. Termasuk kamu suami saya. Maaf Rei. Memang banyak diluar sana yang memberik nafkah batin kepada istrinya tanpa cinta. Tapi itu tidak berlaku untuk saya Rei. Maaf." ucapnya.
Rei yang sangat lemas tidak berdaya hanya terbaring dan tidak sengaja meneteskan air mata. Bukan karena sedih. Tapi air mata itu, berasal dari matanya yang memerah ketika menahan hasratnya.
"Memangnya siapa yang akan mengambil kesucian kamu? Saya hanya menginginkan Your first kiss. Hanya itu."
"Tapi hal itu yang akan lebih mengundang hasrat Rei. Darisanalah hasrat akan lebih memuncak.
Saya tidak percaya, jika setelah melakukan hal itu. Kamu tidak akan meminta hal yang lebih." Yola terus berbicara. Lalu sedikit-sedikit, dia merenggangkan jari-jari tangannya yang masih dirapatkan untuk menutup wajahnya tadi. Kemudian perlahan dia mengintip Rei.
Karena tidak ada jawaban. Yola membuka matanya dan mendekati Rei yang memunggunginya.
"Rei? Kamu nangis? Maafin saya." ucap Yola yang menarik tubuh Rei lalu memeluknya.
"Apapun akan saya lakukan agar kamu bisa mencintai saya Rei." Yola menahan air matanya yang akan jatuh.
"Sakiiiit." Nafas Rei ngap-ngapan karena menangis.
"Apanya yang sakit?" Yola memerika dada Rei karena tadi dia mendorong Rei pakai kakinya.
"Sakiiiit." Rei pura-pura pingsan. Padahal dia malu sama Yola karena perbuatannya. Walapun dadanya memang sakit.
__ADS_1
Yola langsung mengambil selimut. Dia memeluk Rei sambil memposiskan Rei agar tertidur. Lalu Yola mengecupnya.