Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Kebiasaan Reicard yang disembunyikan


__ADS_3

Malam Yang Indah di Kota Jakarta


Waktu 45 menit sudah berlalu. Terlihat Rei yang sedang membuka sarung tangannya. Dibelakangnya heavy bag (samsak tinju) masih bergerak-gerak akibat pukulan.


Rei duduk dan meminum air putih mineral. Lalu dia mengelap keringatnya, sambil melihat layar hp. Saat itu, waktu menunjukan pukul 20:15 WIB.


Saat dia mengecek aplilkasi wa nya. Disana banyak sekalai panggilan. Namun, dia tertuju kepada Manager Hotel yang menelponnya. Saat, dia mengklik nomornya. Disana Manaher itu mengirimkan chat,


"Selamat Malam, Pak Reicard!


Sebelumnya, maaf pak mengganggu waktunya. Bapak kapan bisa ke Hotel lagi pak? Disini banyak sekali berkas yang menumpuk dan harus segera bapa tandatangani. Besok juga akan ada meeting bersama Penanam Saham yang baru pak.


Untuk meeting nya, kita akan membahas pembangunan Hotel yang baru pak.


Terimakasih." Pesan singkat itu dibaca oleh Rei.


"Untungnya, ujian kampus bisa dilaksanakan online. Jadi, besok saya bisa pergi ke Hotel." batinnya. Sambil beralu keluar dari ruangan tersebut dan menguncinya.


Rei benar-benar tidak ingin ada orang yang tahu, tempat olahraganya itu. Terlebih lagi, diruangan itu juga dia selalu mengulang kemampuan aksi bela dirinya. Selama beberapa bulan kebelakang, saat kejadian mantan kekasihnya menangkis dirinya. Dia memutuskan untuk belajar bela diri.


Namun, Rei menyembunyikan itu semua termasuk dari orang tua nya. Dia membiarkan orang tuanya menganggapnya sebagai anak kecil yang cengeng dan manja. Itu dilakukannya, agar dia mendapat perhatian dan kasih sayang yang lebih dari mereka.


Saat Rei sudah berada diluar. Dia sengaja pergi ke kamarnya Yola, untuk memastikan apakah Yola udah pulang atau belum. Sayangnya, kamar Yola masih terkunci. Tidak ada suara sedikitpun. Termasuk sura AC, yang biasanya dinyalakan. Lalu dia buru-buru menuruni tangga, untuk menemui bi Lea.


"Bibi? Bbi?" Teriak Rei.


"Iya tuan?" jawab bi Lea yang baru saja membuan sampah.


"Kemana Yola bi?"


"Yola? Bibi belum melihatnya tuan, sepertinya belum pulang. Biasanya kalau udah pulang, dia meminta bibi untuk beristirahat dan dia pergi memasak." Bibi Lea menjelaskan.


Rei tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya. Dan berlalu pergi ke kamarnya.


Truut truut truut


Rei menelpon Revan


"Hallo! Selamat malam Rei!" Revan menjawab telponnya. Saat itu, dia sedang menyetir mobil. Dia baru saja pulang mengunjngi Karina di Panti.


"Malam. Maaf, apa Yola sedang bersama anda?" tanya Rei.

__ADS_1


Revan mengeritkan keningnya.


"Apa Yola belum pulang?" tanya Revan balik.


"Jika sudah pulang, saya tidak perlu menelpon anda."


"Apa anda tidak menelponnya?"


"Tidak. Chat yang saya kirim dua jam yang lalu pun masih ceklis satu."


"Hem. Dia tidak bersama saya. Tunggu saja. Nanti juga dia pulang."


"Bagaimana anda tahu jika dia akan pulang?"


"Hanya menebak. Kecuali, jika kalian kembali bertengkar dengan hal yang cukup serius. Mungkin beberapa hari dia gak akan pulang."


"Kenapa anda bisa seyakin itu?"


"Bukankah, sebelum-sebelumnya dia memang seperti itu? Jika kalian bertengkar hal yang kecil, Yola pasti pulang. Hanya mengurung dirinya dikamar. Atau nggak anda yang pergi. Benar kan?"


"Tutup mulut anda."


"Hemm. Jika anda ebingungan, anda bisa saya antarkan ke rumah kotsan temannya."


"Saya kurang tahu. Hanya saja wanita itu dekat dengan Yola, dengan body yang sedikit gemuk."


"Oh mungkin, Imel maksud dia." Batin Rei.


"Bagaimana? Kenapa anda diam?" tanya Revan, yang merasa tidak direspin Rei.


"Baiklah! Lagipula saya tidak tahu kotsan temannya dimana." ucap Rei.


"Saya tunggu anda di Cafe. Nanti biar saya sharlok." ucap Revan mematikan telponnya. Sedangkan Rei yang masih menempelkan hpnya ditelinga. Dia buru-buru pergi untuk mandi.


Ditempat lain


Yola dan Rafael sedang duduk ditempat makan lesehan. Mereka duduk dibawah dengan hanya beralaskan karpet samak. Terlihat masing-masing dari mereka sibuk menatap layar hpnya.


"Sibuk sekali dengan hp Azka. Hp kamu masih belum diaktifkan?" tanya Rafael.


"Gak akan pernah aku aktifkan. Sampe kasus ini selesai. Setelah ini, saya akan pulang ke rumah ngambil baju ganti. Sementara, saya akan tinggal di Hotel dulu." ucap Yola.

__ADS_1


"Dirumah bukannya ada pak Reicard?"


"Makanya saya bingun Raf. Males banget ketemu dia. Udah mau jaga jarak saya sama dia. Gak mau berharap lagi."


"Jangan kaya gitu! Sabar! Kamu tahu gak? Kamu menyelesaikan kasus sebesar ini, bukankah ini untuknya juga? Bukti bahwa kamu mencintainya?" tanya Rafael.


"Begitupun saya yang membantu kamu Yol. Ini bukti bahwa saya mencintai kamu. Walaupun cinta saya gak akan pernah kamu balas." batin Rafael.


"Hahha. Iya juga yah. Ah udahlah. Jangan bahas dia. Saya lagi fokusin nih. Baca chat dia sama Tuan Hans. Saya juga tadi abis lihat foto-fotonya. Ternyata udah lama ya dia kenal sama Laura. Bahkan nih, ketika Laura pacaran sama Revan pun. Dia udah save foto-foto Laura banyak banget. Itu berarti, Azka memang menghianati Revan. Licik juga. Ah tapi kan cinta itu memang bisa bikin orang lupa segalanya ya." ucap Yola kepada Rafael.


"Ya. Seperti kamu Yol. Sampe bohongin ortu kamu, ngasih tespect bohongan itu."


"Ahahaaa. Aduh polos banget saya loh Raf, saat itu. Untung aja. Saya ini wanita hebatlah bisa dibilang haha. Dia waktu pacaran sempat minta first kiss loh Raf. Terus saya halangin deh tuh, mulut saya pake buku. Terus saya bilang. "Tunggu ya sayang! Bentar lagi kita kan nikah. Gituh." Yola mulai nyerocos.


"Terus sikap dia gimana?"


"Wajahnya sih, kaya nahan kesel gituh. Gimana sih mimik wajah orang kalau lagi kesel. Tapi pura-pura gak kesal."


"Hem. Ngomongin first kiss. Sensitif banget." Rafael menyimpan hpnya. Dia menatap Yola. Yola pin menatapnya.


"Kenapa kamu Raf?" Yola bingung.


"Mau merasakan first kiss gak?"


"Eh" Yola teriak.


"Sama kamu gitu? Hih. Takut deh jadinya."


"Issss. GR banget sih. Ya kalau mau, saya bilangin sama Pak Reicard. Haha."


"Ih aduh. Males banget deh. Kamu ya Raf, mulai seninya keluar. Pandai buat orang tertawa. Haha. Gak kebayang ngelakuin begituan sama dia. Lupakan lah. Lagi kenapa bahas itu ya? Ah kadang-kadang, sifat blak-blakan saya ini gak tertahan. Padahal saya udah berpakaian seperti ini. Hem." Yola cemberut.


"Kan kamu yang bilang. Itu semua proses. Kamu juga yang bilang. Hijab dan sifat tuh dua hal yang berbeda kan? Katanya hijab itu wajib, kalau sifat kembali ke orangnya. Sifat baik harus dipertahankan, sifat jelek harus dibuang. Sabar! Banyaklah minta ampunan kepada Tuhanmu Yol." ucap Rafael santai, sambil memainkan hpnya kembali.


"Iya iya Raf. BTW. Kita cuma minum doang nih? Pesenlah makanannya Raf!" titah Yola.


"Saya sampai lupa. Kalau kamu menahan lapar. Kadang kita keasyikan bermain hp pun, bisa melupakan segalanya. Sesuatu yang akan kita kerjakan dan niatkan menjadi terabaikan. Hp gak baiknya bikin orang jadi lalai yah." ucap Rafael.


"Bilang aja! Saya yang harus maju order makanan Raf. Huh."


"Ahahaaa. Tahu aja dah. Sana!"

__ADS_1


"Eh. Tapi ada benarnya apa yang kamu katakan Raf." ucap Yola sambil berdiri. Dia akan memesan makanan.


__ADS_2