Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Ricard Acting


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Malam minggu, terlihat Melinda yang saat itu turun dari mobilnya, menuju salahsatu Apartemen mewah. Disana sudah ada Laura dan Dewa. Kemudian mereka saling bergantian merangkulnya.


"Mah? Kapan kita akan keluar dari tempat ini?"


Pertanyaan Laura belum dijawab Melinda.


"Ra, mama baru dateng udah ditanya kaya gitu." jawab Dewa cepat.


"Memangnya kenapa? Aku sudah mumet mah. Aku pengen buru-buru tinggal di rumah mama yang mewah itu."


"Hem. Sabarlah sayang mama kan lagi usahain. Lagian kamu dulu kenapa malah selingkuh dari Revan sih. Jadinyakan susah lagi, buat kamu dan Dewa masuk ke rumah."


"Abis Revan ngeselin sih mah. Dia terlalu dingin sama aku. Terlalu sibuk kerja. Aku mau shopping pun dia selalu gak ada waktu. Jarang jemput aku juga kalau udah pulang ngampus"


"Tapi resiko nya sekarang ra. Apa rencana kita selanjutnya? Kamu suruh kejar Revan lagi, baik-baikin dia malah dekat sama si Dosen gak jelas itu."


"Mah? Udahlah. Aku cape. Aku udah nurutin kemauan mama juga. Sampe aku sama kak Dewa harus membunuh Salma mah."


"Raaaaa!" bentak Dewa yang lagi menatap ke luar jendela.


"Ra jangan bahas itu lagi. Kamu bisa dikurung sama kakak kamu itu." bisik Melinda.


"Terus keadaan papa gimana sekarang mah?"


"Haduh. Tahulah. Lagian kenapa sih kamu nanya-nanyain papa kamu itu. Kan udah mama ceritain berkali-kali. Papa kamu itu Mafia. Dia selingkuh dari mama waktu mama ngandung kamu ra."


"Udahlah ma. Jangan bahas itu ke dia. Dia otaknya kurang banget. Nanti rahasia bisa bocor, dia kan bisanya pacaran doang." teriak Dewa menatap tajam Laura.


"Apa lho? Mentang-mentang udah jadi Manager. Mah, aku mau kaya si Dewa kerja di Perusahaan papa David." Laura memelas.


"Otak lho gak bakalan nyampe, Laura." ucap Dewa.


"Udah-udah ih. Mama mulai pusing nih." ucap


Melinda yang sedang menatap layar hpnya."


"Mah, Pak Devan gak tahu kan kalau Revan anaknya?" tanya Laura.


"Jangan diceritain mah." teriak Dewa.


Dari tangga, terlihat Yolanda yang baru saja turun dengan rambut yang digerai dan baju singlet putih yang sedikit diatas pusar. Dia membawa sebuah buku dan alat tulisnya.


Ilustrasi penampilan Yola

__ADS_1



Rei yang saat itu sedang duduk didepan tv menonton perang islam. Tiba-tiba melirik Yola.


Begitupun dengan Yola, yang meliriknya tanpa memberikan senyuman sedikitpun.


Dia menuju ke dapur. Lalu, dia menyimpan bukunya diatas meja. Lalu membuat Susu panas dan roti bakar.


Beberapa menit kemudian. Susu dan roti bakarnya sudah jadi. Dia langsung membawanya ke ruang tv, tanpa mengatakan apapun. Rei yang kebingungan belum berkata apapun kepadanya.


"Apa dia akan makan disini? Ya ampun, ada aja alasanya. Gak bisa nyantai dikit." batin Rei.


Yolanda yang sudah kembali dan membawa bukunya, duduk dilantai yang dialasi karpet berbulu. Sedangkan Rei masih duduk diatas sofa yang berbentuk kursi.


Yola menatap Rei den mencoba menggodanya agar Rei tertawa. Karena Rei saat itu, masih tetap fokus menonton filmnya. Karena kesal, Yola pun mengambil remot, swmbil minta maaf lalu dia mematikan tvnya. Rei kesal.


"Apa mau mu?" Menatap tajam Yola.


Yola yang merasa ditantang. Tanganya dinaikan ke atas meja sambil berdiri dengan kedua lututnya. Dia mentap balik Rei.


"Waduh bahaya. Gadis ini benar-benar nakal. Apa dia mulai agresif, penampilanya seperti itu, bibir merah menyala, rambut digerai, apa maksudnya?" batin Rei.


Dreet drett


Rei yang terkejut hanya memutarkan bola matanya. Yola yang tiba-tiba rasa cemburunya membara. Langsung meminum susu hangat itu. Kemudian di mendekat dan mendorong Rei ke sofa. Lalu langsung menindih tubuh Rei. Rei yang shok dan merasa dek-dekan mencoba mendorong Yola.


Hanya saja, tangan Yola yang melingkar ditubuhnya sangat erat. Yola kemudian, mencoba menciumi pipi Rei. Rei yang saat itu sudah merasa hasratnya terpancing karena pelukan dan ciuman istrinya. Langsung mengambil first kiss Yola. Beitupun dengan Yola yang membalas first kiss tersebut dengan nafsu. 3 menit kemudian, Rei menggendong istrinya ke kamarnya. Lalu, dia langsung menindih tubuh istrinya.


Saat itu, Yola hanya tersenyum bahagia melihat kelakuan suaminya. Saat Rei akan menyentuh bagian dada istrinya. Tiba-tiba dia tersadar dan membuka matanya dengan tubuh yang merasa sangat panas serta keringat yabg sangat banyak.


Disana, Yola yang mencoba membangunkan Rei langsung mematikan tv yang sedang ditonton Rei. Lalu dia, mendekat ke arah Rei dan menyenderkan kepala Rei ke pelukanya. Rei yang masih bingung dan shok karena mimpinya tadi, hanya menuruti Yola tanpa mengatakan apapun.


"Maaf, apa kamu sakit? Tubuhmu sangat panas dan berkeringat. Minum ya!" (Yolanda memberikan air minum yang ada dimeja tersebut). Rei langsung meminumnya. Yola yang merasa khwatir, merasa bersalah melihat suaminya sakit dan tidak terperhatikan oleh dirinya.


"Mana susu madu sama rotinya?" tanya Rei.


"Apa? Memangnya ada? Apa bibi Lea membuatkanya?"


"Kamu yang bikin." Rei berucap seperti orang yang masih linglung.


"Yaudah. Yaudah. Aku bikinin ya." Saat Yola akan beranjak ke dapur. Rei merajuk, meminta Yola mengantarkan dirinya ke kamar.


Yola yang masih panik karena Rei sakit pun langsung menuruti permintaanya. Dia memapah Rei ke kamar. Padahal Rei tidak apa-apa, hanya merasa lemas karena mimpi yang dialaminya.


Yola membuka kamar Rei dan langsung membaringkan tubuh Rei. Lalu dia menatap Rei yang memejamkan matanya dan masih mengeluarkan keringat dingin.

__ADS_1


Truut truut truut


Suara hp Yola disaku celananya berbunyi.


Yola yang saat itu sedang mengelap keringat Rei dengan tisu pun langsung berhenti. Dan mengangkat telpon dengan sedikit menjauh dari Rei. Rei yang saat itu tidak tertidur menyadarinya.


"Hallo pak Revan, selamat malam."


"Saya masih dirumah. Kamu jadi ke panti?"


Penampipan Yola yang gak jadi pergi



"Ini sebenarnya saya sudah siap pak, udah rapih juga. Tapi kayanya saya gak jadi kesna pak. Suami saya lagi sakit."


Revan sedikit shok.


"Oh oke oke. Baiklah. Semoga suamimya cepat sembuh ya!"


"Aamiin. Terimakasih pak."


"Oh iya. Salam buat Tante Karina ya pak."


"Oke. Terimakasih."


Rei terkejut mendengar Yola menyebut nama Revan. Lalu dia membuka matanya. Yola membuka jaketnya dan menyimpannya di sofa.


"Rei? Kamu kenapa bangun lagi?"


"Hem. Apa kamu akan pergi?"


"Tadinya iya. Tapi saat saya mau izin ke kamu. Kamu tidur. Dan sepertinya kamu sakit."


Rei hanya memiringkan tubuhnya. Yola mendelatinya dan memegang lembut pundak Rei. Rei kembali teringat mimpinya dan jantungnya kembali berdetak.


"Makan ya. Aku suapin. Abis itu minum obat. Mau?"


"Jangan dekati saya! Sana kamu pergi aja sama dia."


"Maksudnya? Dia siapa?"


"Tahulah."


"Gak usah marah! Saya kan disini. Yaudah kalau gak mau makan. Kamu tidur aja ya. Saya disini kok, di sofa ya." Yola berlalu meninggalkan Rei.

__ADS_1


__ADS_2