Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Terkunci bersama Di Apartemen


__ADS_3

Saat Revan membukannya. Disana terlihat seorang wanita yang memakai cadar. Wanita itu, terlihat sedang pingsan. Dengan tangan terikat didepan. Sedangkan, bagian perutnya diikatkan ke kursi. Kemudian, ada seorang pria bertopeng. Dia menepuk pundak si wanita. Kemudian, wanita tersebut membuka matanya.


"Siapa kamu?" teriak wanita itu divideo tersebut.


"Yolanda?" Sontak Revan teriak, ketika tahu suara itu suara Yolanda.


Pria yang menyentuh pundak Yolanda tersebut berdiri. Kemudian, datang satu pria lagi mendekat ke arah Yola.


"Yolanda Malik Pertiwi" ucap Pria bertopeng tersebut, yang tak lain ialah Rafael.


"Jangan mendekat! Siapa kamu?" Teriak Yola.


Rafael membungkuk, pura-pura menatap wajah Yola. Kemudian, dia pura-pura akan membuka cadarnya.


"Jangaaaaaaa," Teriak Yola dan video pun berakhir.


"Yola?" Teriak Revan lagi.


"Apa Rei tidak menjaganya?" teriak Revan sambil berdiri dan mencoba menelpon nomor tersebut. David yang melihat putra nya tersebut hanya keheranan.


"Ada apa van?" tanya David ikutan berdiri.


"Tunggu pah!" ucap Revan.


Telpon berlangsung.


"Siapa kamu? Katakan dimana Yola?" ucap Revan mengepalkan tangannya.


"Dia ada disini. Saya bukan orang jahat yang akan melukainya. Tapi yang harus anda tahu. Target saya disini itu kamu.


Jadi angkatlah Video Call yang saya minta jam setengah sembilan nanti malam. Jangan lupa! Ajak David dan Karina." ucap Devan ditelpon tersebut. Tuutt tutt tutt


"Halloo? Hallo?" Revan masih teriak. Lalu menatap David.


"Pah, papa lihat video ini!" Revan memperlihatkan videonya.


"Pah, itu Yolanda. Dia istrinya Reicard Putra Alexandar."


"Apa hubungannya sama kamu? Kenapa dia disekap?"


"Dia dekat sama aku pah, dekat sama mama juga. Dan pernah nginap di Panti."


"Terus?"


"Pria yang menyekapnya, dia hanya bilang. Aku suruh menerima panggilan Video Call dari nya nanti jam setengah sembilan malam. Dan dia bilang aku suruh axjak papa sama mama, ketika nanti aku mengangatnya."


"Kok bisa?"


"Apa mungkin ini ulah tante Melinda dan Dewa pah?" Fikiran Revan.


"Van please! Pergilah! Lindungi mama kamu dulu! Nanti papa nyusul setelah meeting dengan Komisaris." ucapnya.


"Yasudah. Ini kan udah hampir jam 5 pah. Bentar lagi magrib. Habis itu, papa langsung ke panti yah!" titah Revan dan berlalu.


"Iya van. Hati-hati!" Davin menatap kepergian putranya.


Dirumah Laila

__ADS_1


"Bu, ayo bu buruan masuk ke mobil. Dimas dalam bahaya" ucap Yola sambil menuntut Laila.


"Maksud kamu bahaya apa Yola? Ibu gak ngerti."


"Udah bu. Ibu ikut aku aja bu!"


"Tadi dia pergi bawa mobil kan bu?" Yola melirik ke arah Rafael yang melihatnya dari kaca spion.


"Iya. Tapi, dia bilang mau bertemu Pak Reicard dikantornya Yol."


"Oh Dimas pergi ke Kantor Rei." Batin Yola.


"Iya bu, tapi tadi dia nelpon aku bu. Katanya, tolong jaga mama. Saya lagi diikutin orang, gitu bu." Yolanda berbohong demi kebaikan.


"Apa? Siapa? Coba ibu telpon, eh ya ampun. Hp ibu ketinggalan Yol." Laila cemas.


"Tenang bu! Ibu tenang dulu! Sekarang ibu ikut ke Apartemen saya dulu bu. Ibu tunggu disana! Biar saya dan Yola yang mencari Dimas. Asalahkan, sekarajg ibu aman dulu." ucap Rafael tiba-tiba.


"Ya Allah. Semoga tidak terjadi apa-apa. Ibu benar-benar kaget Yol. Tapi Yol, Dimas gak apa-apa kan?" Laila udah mulai panik.


"Insya Allah, gak apa-apa bu." Yolanda merangkul bu Laila.


Di Hotel Rei


Saat itu, Rei sedang membicarakan soal perjanjiannya dengan Dimas. Namun, tiba-tiba hpnya berbunyi. Rei melihat hpnya tersebut.


"Revan? Tumben." Batin Rei, lalu mengangkat telponnya.


"Dimana anda?" Bentak Revan tiba-tiba.


"Kenapa anda tiba-tiba membentak saya? Saya dikantor." ucap Rei.


"Anda ini kenapa? Saya tidak tahu. Tapi tadi kata temannya, Yola teriak minta tolong."


"Terus kenapa anda diam saja? Ada orang yang mengirimkan video penyekapan Yola."


"Apa?" Rei langsung berdiri.


"Apa anda tahu siapa dia?"


"Belum. Tapi, sepertinya dia orang yang sama. Kalau begitu, kita cari Yola." ajak Revan.


"Anda dimana?"


"Saya mau ke Panti. Ke rumah mama saya. Nanti saya sharelok." Revan mematikan telponnya.


"Pak? Kenapa lagi?" tanya Dimas yang sudah ikuatan berdiri.


"Revan menelpon saya. Dia bilang, ada orang yang mengirim video penyekapan Yola."


"Terus pa?"


"Saya mau bertemu dengannya."


"Saya ikut pak."


"Ayo." Mereka pun pergi.

__ADS_1


Namun, ketika Dimas akan memarkirkan mobilnya. Dia melihat ada orang yang mengirimkan video ke hpnya.


"Siapa?" tanya Dimas.


"Mamaaaaaaaa?" Teriak Dimas, setelah melihat video tersebut. Lalu dia langsung turun dari mobil dan menghampiri Rei.


"Pak? Pak?" Dimas mengetuk kaca mobil Rei. Saat itu, Rei sedang menggunakan sabuk pengaman.


"Ada apa?"


"Pak, mama saya disekap pak." ucap Rei memperlihatkan videonya.


Triing


Chat masuk kembali, dan tidak sengaja dibuka oleh Rei.


"Ini alamat Dim. Kita harus kesana." ucap Rei.


"Pak, turun! Ini kantor bapa. Mobil bapa biar disini saja. Pergi bawa mobil saya aja pak." ajak Dimas. Rei pun menurutinya, dan mereka pergi ke alamat yang dituju. Yaitu, Apartemen Rafael.


Di Markas Apartemen lama


Terlihat 3 mobil baru saja akan parkir disana. Hans keluar, dan diikuti oleh para anak buahnya. Lalu, Hans menintruksikan agar mereka berkumpul.


"Kalian semua berpencar! Cari orang-orang yang bersembunyi disini sampe ketemu. Jika semuanya sudah ketemu. Bawa mereka ke Manison!" " titah Hans. Merekapun langsung berpencar mencarinya.


"Raf? Tolong jalakan misi ya! Dan kamu cepatan keluar Raf! Sebentar lagi pasti akan ada yang kesini." ucap Yola. Sedangkan Rafael sengaja menyekapnya.


"Iya Yol. Yaudah ya! Saya keluar dulu, saya nunggu mereka masuk ke dalam. Setelah itu, saya akan menguncinya dan langsung pergi." ucap Rafael, menatap Yola.


"Iya Ram. Kamu dan Tim hati-hati!!" Yola tersenyum dibalik cadarnya. Sedangkan, Rafael hanya mengangguk.


Satu jam sudah berlalu


Terlihat Rei dan Dimas yang sedang teburu-buru untuk menaiki Lift. Lalu, Dimas melihat hp nya kembali.


"Lantai 3 No 11 pak." ucap Dimas. Merekapun langsung menuju kesana.


Beberapa menit kemudian


Rei dan Dimas terlihat baru saja sampe. Mereka langsung berlari ke kamar nomor 11. Pintu itu langsung dibuka oleh Dimas.


"Gak dikunci pak. Ayo!" ucap Dimas.


Saat mereka didalam, terlihat Laila tertidur pulas. Sedangkan, Yola dia pura-pura tertidur.


Rei langsung membangunkan Yola, dengan cara menepuk pundaknya. Sedangkan Dimas, membuka ikatan Laila.


"Rei? Ya Allah, dek-dekan banget." ucap Yola. Lalu, dia pura-pura bangun.


"Yola? Kamu sudah sadar?" tanya Rei.


"Rei? Dimana ini?" Yola pura-pura mengedip-ngedipkan matanya. Namun, Rei tidak menjawabnya. Dia langsung menghubungi Revan. Saat baru buka hp, tiba-tiba suara lintu dikunci.


Ceklek ceklek


Rafael mengunci pintu dan langsung pergi.

__ADS_1


"Dimas? Pintunya," Teriak Rei. Dimas yang masih membuka ikatan kaki Laila. Hanya melongo melihat pintu tertutup.


__ADS_2