
"Apa itu sebabnya? Kenapa mama tidak pernah mau memecahkan kasus ini? Itu karena kakak ternyata hanya saudari tiri ku, kak Salma." Batin Dimas, tak terasa air matanya menetes. Rei yang melihanya langsung merangkulnya.
"Ekhm." Rafael berdeham.
"Tolong, jangan saling menyalahkan dulu."
"Tuan Hans, telah berbohong kepada Melinda. Menyebutkan, bahwa saudari kembar Laura tidak tertolong. Padahal, dia masih hidup. Dia diserahkan kepada Laila yang saat itu belum hamil. Dan dia, diberi nama Salma Edward."
"Anakku, sayang. Ya Tuhan." Batin Melinda.
"Tuan Hans tidak bisa menyalahkan Nyonya Melinda. Karena jika nyonya Melinda tahu, bahwa Salma anaknya. Dia tidak akan membunuhnya.
Dan tuan, berterimakasihlah kepada Azka. Karena dia, menolak untuk melakukan pembunuhan. Walaupun dia belum tahu, bahwa yang dibunuh adalah Salma putri anda. Dan dia juga yang mengungkap kebenaran.
Dia bekerja sama dengan sahabat saya untuk menemhkan kebenaran. Yang akhirnya, permintaan anda terpenuhi. Azka dan Sahabat saya menemukan keberadaan Laila dan Ank laki-laki anda.
Oleh karena itu Tuan. Bebaskan orang tua Azka yang sudah anda kurung bertahun-tahun. Biarkan mereka bersama." ucap Rafael.
Walaupun Hans sedang berduka, tapi sifat liciknya tetap keluar.
"Apa? Saya harus membebaskannya? Tidak akan. Jika dia tidak telah menumukan keberadsan Salma, semuanya tidak akan seperti ini." ucap Hans. Azka hanya menangis, sedangkan Yolanda yang mendengarnya langsung mengambil hp dari Dimas.
Lalu dia mengeluarkan Pistol dari sakunya. Langsung, pistol itu diarahkan kepada Dimas. Dan Yola sedikit menjauh dari Laila. Rei dan Dimas benar-benar sangat kaget. Begitupun keluarga Revan.
"Itu kan suara Yola?" ucap Revan dan Karina berbarengan.
"Tuan Hans? Saya tahu anda licik. Benar-benar, orang yang tidak tersentuh oleh keadaan. Dan tidak tahu terimakasih." ucap Yola. Dia lalu menembakan pistol ke langit-langit Apartemen.
"Maaf Dimas." ucap Yola.
"Pilih salahsatu diantara mereka berdua. Yang mana yang ingin saya tembak, tuan." ucap Yola. Dia mengarahkan hp ke arah Laila yang tengsh berbaring dan ke arah Dimas. Silih bergantian.
"Jangaaaan! Siapa kamu?" Teriak Hans.
"Paaaapaaaa? Apa salahnya bebaskan orang tua Azka. Dia sudah mempertemukan kita pah." ucap Dimas duduk lemas sambil menangis.
"Dimas?" Hans ikut menangis.
"Baiklah. Maafkan saya Azka. MAAFKAN SEMUA KESALaHAN SAYA. SAYA BENAE-BENAR EGOIS." teriak Hans sambil menangis.
"Penjaga! Bebaskan orang tua Azka dan bawa kesini." Teriak Hans kembali. Sambil memegang hp, Hans membuka tali ikatan Melinda. Terlihat Melinda yang masih menangis terisak-isak. Buru-buru Azka membuka ikana tali Laura dan Dewa.
"Tuan? Saya masih disini." ucap Laura.
__ADS_1
"Saya tahu. Tolong jangan sakiti mereka." ucap Hans.
"Ada satu lagi Tuan." ucap Yola yang masih mengarahkan pistolnya kepada Dimas.
"Katakan! Apapun akan saya lakukan asal mereka jangan kamu lukai!" Hans bercucuran air mata.
"Kembalikan Aset Property Milik Tuan David yang berada di Bali, tuan." Yola melirik Rei yang memegangi tubuh Dimas.
"Saya tidak pernah membutuhkannya. Ambilan! Keluarga saya sudah lengkap kembali. Asistant tolong ambilkan berkasnya." ucap Hans. Lalu Hans dirangkul oleh Melinda, Laura dan Dewa.
"Paaaaaahhhhh? Paapaaaahh." Mereka menangis.
Tidak lama kemudian. Hans menandatangani berkasnya. Lalu membawa berkasnya.
"Siap-siaplan mel dan kalian, kita akan bertemu Laila dan Dimas." ucap Hans.
"Alamat akan saya kirim ke nomor masing-masing." ucap Yola.
"Akhiri panggilan Yola!" titah Rafael. Panggilan pun diakhiri.
"Yola? Sebenarnya siapa pria itu?" batin Rei bertanya-tanya.
"Dimas?" Yola memasukan pistolnya ke sakunya. Dan dia mendekati Dimas. Sedangkan, Rei berdiri dan melihat ke arah Laila. Yang sepertinya sudah sadar.
"Terimakasih Yola! Terimakasih!" Dimas menganggukan kepalanya dalam-dalam.
"Sut! Jangan sperti itu! Kasih kejutan buat mama kamu ya! Bentar lagi kan kan kamu bertemu sama papa dan saudara kamu yang lain." ucap Yola. Dimas hanya menganguk dsn menyeka air matanya.
"Oh iya."
"Kenapa Yol?" Dimas menatap Yola.
"Wajah kamu tampan juga. Mirip banget sama Tuan Hans." Goda Yola. Dimas tersenyum sedih.
"Ekhm." Rei yang merasa tidak dianggap, berdeham. Namun, Yola tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Dimas yang menatapnya sangat mengerti.
"Nanti Kak Revan akan kesini Dim. Tolong berkasnya kasih ya, saya mau pergi dulu." ucap Yola. Air matanya menetes.
Dimas yang sudah tahu karakter Yola, tidak bisa memaksa Yola agar dia tetap berada bersamanya. Yola pun mengeluarkan kunci pintu dari sakunya.
"Dim, Ibu kamu dulu." ucap Rei sambil berlalu mengejar Yola. Yola sedikit berlari, dan dikejar oleh Rei.
"Saya harus secepatnya ke rumah Rafael." ucap Yola sambil mengeluarkan hpnya dan mengaktifkannya. Yola tidak menyadari Rei mengejarnya.
__ADS_1
Saat Yola menekan Lift lantai 1, Rei buru-buru ikut masuk dan Yola pun kaget.
"Apa yang kamu lakukan Rei?" tanya Yola memasukan kembali hpnya.
"Mau kemana kamu?" tanya Rei datar.
"Bukan urusan kamu." Yola sedikit mundur.
"Kenapa kamu senekad ini?" Rei memegang kedua pundak Yola. Yola hanya menatapnya.
"Kenapa?" tanya Rei. Namun, Yola hanya menurunkan tangan Rei dari pundaknya.
"Kenapa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa ingin menangis?" batin Yola. Dia hanya menunduk.
"Hemmm." Rei mengeluarkan nafas panjang.
"Jadi kamu membentuk tim detektif rahasia? Untuk membantu Revan?" Rei suuzan.
Yola masih tidak menjawabnya.
"Jawab Yolanda!" Bentak Rei. Yola yang tadinya ingin menangis tiba-tiba emosinya terpancing.
Triing, Lift terbuka. Yola sedikit berlari, dan Rei tetap mengejarnya.
"Maaf Rei, saya tidak mau membahasnya sekarang. Saya masih ada urusan." ucap Yola dan mengeluarkan hpnya kembali untuk memesan taksi.
"Baiklah! Mungkin cinta kamu kepada saya terus berkurang, saat kamu mengenal Revan." Rei kembali su'uzan.
"Apa yang kamu katakan Reicard?" Bentak Yola dan menarik dasi Rei dengan tangan kanannya.
"Saya tidak harus mengatakannya dua kali." Rei melepaskan tangan Yola yang menarik dasinya itu.
Tiiddd tiid
Taksi pesanan Yola sudah datang. Namun, saat Yola akan meninggalkan Rei dan membalikan badannya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, pandangannya gelap, langsung Yola pun terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Yola?" Rei langsung menggendongnya, dan membawanya ke dalam taksi.
Rei terus mendekap Yola, yang tak sadarkan diri itu. Kemudian dia melihat hp Yola yang masih belum terkunci. Dan masih berada didalam aplikasi pesanan taksi. Tidak berfikir panjang, Rei langsung membuka aplikasi di WA.
Terlihat banyak sekali pesan. Namun, yang bikin Rei kaget ialah Chat dari Rafael yang disematkan. Dia belum membukanya, dan langsung mencari nama Revan. Terlihatlah disana, ada nama Kak Revan. Karena penasaran, Rei langsung membukanya.
"Chat terakhir sudah lama. Yang baru, hari ini saja. Berarti saya sudah bersuuzan, maafkan saya Yol." batin Rei, dia mengusapkan kepalanya ke kepala Yola.
__ADS_1