Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Merasa Terdzalimi


__ADS_3

Pagi hari dirumah Rei


Terlihat Yola yang sedang berada dikamarnya. Dia sudah memakai baju gamis dengan hijab french khimar yang cadarnya bisa dibuka tutup. Dia memperhatikan bentuk tubuhnya yang sudah terbalut pakaian tersebut.


"Terimakasih Ya Allah. Ada hikmah dibalik semua kesedihan yang aku hadapi. Dimana aku yang seorang muslim, seharusnya menutupi ini semua dari dulu." ucap Yola. Karena hari itu adalah awal dimana dia tampil benar-benar berbeda. Saat itulah hatinya berbunga-bunga. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.


Lalu dia mengambil hpnya sambil kembali duduk di depan meja riasanya. Dia mensearch makna cinta menurut beberapa ustadz. Beberapa menit kemudian, dia terlihat menganggukan kepala. Lalu dia pergi ke statusnya untuk mengirim kata-kata yang sudah dia dapatkan.


Seseorang berkata:


"Aku bertanya kepada seseorang yang bijak. Bagaimanakah aku mengetahui siapa yang mencintai dan sayang kepadaku?"


Ia berkata:


"Yaitu orang yan ikut memikul kesedihanmu, selalu bertanya tentangmu, tidak bosan denganmu, memaafkan kesalahanmu, menasehatimu jika bersalah, selalu mengingatmu dan menyertakanmu dalam do'anya."


(Ustadz Dr.Firanda Andirja, M.A. Hafizahullah)


Kurang lebih begitulah kata-katanya.


Rei yang sudah menunggu dimobil sangat kesal. Sehingga dia menelpon Yola. Namun, Yola tidak mengangkatnya. Disana hanya terlihat Yola aktif sekitar dua menit yang lalu. Karena ada notifikasi status baru. Rei mencoba melihatnya. Ternyata itu status Yola. Karena penasaran Rei langsung membacanya. Tanpa menonaktifkan laporan dibaca.


"Sangat indah kata-katanya. Banyak hal yang masih saya belum ketahui tentang islam. Sepertinya saya harus lebih membaca buku-buku islam. Ketimbang saya harus selalu membaca cerita-cerita Ilmuan." ucapnya.


Yola yang saat itu baru saja menutup pintu rumah langsung menuju garasi. Dia sangat terburu-buru dan langsung mengetuk pintu mobil. Rei yang saat itu sedang menatap layar hp tidak melirik. Hanya membuka kunci mobil.


"Maafya lama. Gak telat kan?"


"Lumayan lama" Rei melirik Yola lalu memalingkan wajahnya. Namun kembali meliriknya ketika dia melihat penampilan Yola yang berbeda.


"Apa maksud penampilan kamu seperti itu?" tanya Rei sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Gak apa-apa." ucap Yola yang memainkan hpnya dan menjutekan Rei.


"Saya ini suami kamu. Kasih tahu alasannya!"


"Saya seorang wanita yang sudah menikah. Namun suami saya belum mencintai saya. Dia malah dekat dengan wanita lain dan masih mengingat masalalunya. Saya baru sadar dan merasa terdzalimi. Jadi, alangkah baiknya saya tidak memperlihatkan wajah dan bentuk tubuh saya kepadanya." Yola menyimpan hpnya dan menatap kaca mobil.


Rei hanya terdiam dan fokus menyetir. Namun, dia merasa bersalah dan penasaran kenapa Yola tahu jika dirinya masih mengingat mantan kekasihnya.


"Kenapa kamu tahu?"


"Lupakan! Saya biasa ya, turun di Terminal."


Rei tidak menjawabnya.


"Oh ya. Saya minta maaf kalau selama saya jadi istri kamu banyak melakukan kesalahan, banyak kurangnya, ngomel-ngomel, gampang kesal, saya minta maaf." Yola balik badan menatap Rei.

__ADS_1


"Apa di Islam diwajibkan berpakaian seperti itu?"


"Hehe. Kamu masih menanyakana itu. Kenapa?"


"Tinggal jawab aja."


"Allah menyuruh wanita muslim untuk menutup semua auratnya. Itu wajib. Hanya saja, saya terlalu nakal tidak mengikuti aturan itu. Dan baru sekarang aku menyadarinya"


"Saya tidak tahu itu."


"Semua tentan Islam harus kamu cari tahu! Memangnya apa alasan kamu menjadi Mualaf?"


Rei tercenang. Dia tidak menjawabnya.


Yola yang merasa tidak mendapatkan respon lagi hanya memalingkan wajah.


"Mungkin karena wanita." ucapnya menatap kaca mobil.


Rei yang sedang melamun tidak menjawabnya.


"Benar apa yang kamu katakan. Alasan pertama kali saya mualaf karena wanita. Namun saya janji, akan mempelajari islam lebih jauh lagi sekarang."


Dreet dreet dreet


Azka menelpon Yola


"Hallo?" jawab Yola. Rei hanya cuek, dia tidak pernah ingin tahu siapa yang menelpon Yola.


"Ya. Kenapa?"


Azka belum menjawab


"Itu berarti saya bisa mengantarkan Laura lagi, setelah seminggu saya tidak mengantarkannya ke Kampus. Maaf Yol, jujur saya mencintai Laura. Maaf jika visi tujuan kita nanti saya tunda." ucap Azka dalam hati.


"Ka? Kamu nelpon saya kenapa malah melamun? Ada perlu apa?"


"Oh iya maaf. Sepertinya kita hari ini cancel untuk bertemu ya. Kita besok saja ketemu nya. Saya ada urusan." ucap Azka.


"Baik. Saya tutup dulu telponnya ya." Yols mematikan telponnya.


"Itu berarti saya bisa ke Panti hari ini. Rindu banget sama tante Karina. Sekalian ngobrolin tentang kebenaran itu." batinnya sambil duduk tegak dan menyenderkan kepalanya ke kursi.


Uhuk uhuk uhuk


Rei batuk


Uhuk uhuk

__ADS_1


Rei menggelengkan kepalanya


Yola yang mendengarnya langsung membuka tutup botol air. Lalu dia memberikan minun Rei menggunakan sedotan.


"Bismillah dulu ya sayang!" ucapnya sambil menyodorkan air.


Rei hanya mengangguk dan meminumnya.


"Udah" ucapnya.


Yola mengerutkan kening saat melihat keringat di dahi Rei.


"Mobil ber AC tapi kenapa dia keringatan? Apa dia demam lagi?" batinnya. Lalu dia mengambul tisu yang selalu disediakan didalam mobil.


"Maaf." ucapnya sambil mengelap keringat di dahi Rei. Namun, Rei menghindarinya lalu batuk kembali.


Yola langsung meraba dahi nya Rei.


"Panas kok. Kenapa gak bilang kalau sakit?"


"Semalam saya nelpon kamu. Kamu gak jawab." ucapnya sambil fokus menyetir.


"Udah mau ke Terminal, lagi. Saya nelpon Imel dulu ya. Kamu gak apa-apa kan kalau saya ikut sampai kampus? Ini masih jauh. Biar saya yang nyetir." ucapnya.


"Gak usah!"


"Tolonglah jagan ngeyel sayang!"


Tanpa ada jawaban, Rei langsung meminggirkan mobilnya dan dia turun dari mobil. Yola yang melihatnya langsung bergeser tempat duduk.


"Mau tetap ke Kampus?"


"Ya. Saya ada meeting."


"Yaudah." Yola langsung melajukan mobilnya.


Ditempat lain.


Azka sudah bersama Laura didalam mobil. Laura terus melamun tanpa mengatakan apapun. Dia seperi sedang melamun. Tidak seperti biasanya, mulutnya yang super bawel tidak berkicau saat itu.


"Apa yang sedang kamu fikirkan ra?" tanya Azka sambil melirik ke Laura. Lalu mengalihkan pandanganya lagi ke depan jalan.


"Kenapa Revan dulu selalu sibuk dan bersikap dingin kepadaku? Itu yang membuat aku selingkuh dibelakangnya karena aku sangat kesal sama dia." ucap Yola tanpa dengan tatapannya yang kosong.


Azka belum menjawabnya


"Maafkan saya ra. Sebenarnya, saya yang selalu menghalangi Revan agar tidak bertemu kamu. Disetiap kalian akan bertemu saya selalu ada alasan untuk melarangnya. Sikap dingin dia pada kamu pun itu saran saya. Padahal Revan tidak seperti itu. Saya pernah mekihat bagaimana Romantisnya dia kepada Salma. Yang ternyata Salma adik kandung kamu ra." batinnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu fikirkan Azka? Saya bicara tumben banget gak langsung merespon?"


Azka kaget saat Laura menepuk pundaknya dengan tangan kanan, tanpa melihatnya.


__ADS_2