
"Ya sabar aja Rei." ucap Yola santay, sambil fokus menyetir mobilnya.
"Jika saya tidak dirumah, kamu ngapain aja?"
"Apapun yang saya lakukan, bukan urusan kamu kan?" ucapnya.
"Kenap kamu berbicara seperti itu?"
Yola memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Dia mulai terpancing.
"Memangnya kenapa Rei? Benar kan apa yang saya ucapkan?" Yola menatap Rei.
"Saya tidak pernah mau tahu apa yang sedang kamu lakukan Rei. Begitupun kamu kan? Apa kamu pernah memikirkan dimana dan sedang apa saya, ketika sedang tidak didekat kamu? Pernah gak?"
Rei terdiam
"Kenapa hanya diam Rei?"
"Saya hanya ingin jawaban yang simple. Apa yang kamu lakukan saat tidak bersama saya?"
Yola tersenyum
"Cintai saya dulu. Baru saya kasih tahu." Tertawa kuda, lalu melajukan mobilnya kembali.
"Yolaaaaaa. Kasih tahu!" Rei manja sambil menatap Yola.
Yola tidak meliriknya.
"Kamu tahu gak? Biasanya. Em. Pengalaman yah. Jika ada lawan jenis yang kepo dengan urusan kita, posesif lah, biasanya itu tanda dia peduli sama kita. Peduli apa cinta gitu." ucapnya ngeledek.
"Apa kamu pergi sama Revan?"
"Hahha. To the point banget. Kalau iya emamg kenapa Rei? Saya pergi ke Pantai sama dia."
Rei kaget dan merasa panas
"Tapi tenaaaaaang. Saya ini masih istri kamu. Saya membatasi pergaulan saya. Saya kesana gak hanya berdua, banyak teman-temannya Revan juga."
"Turunkan saya disini! Saya bisa pulang sendiri." ucapnya kesal.
"Loh. Kenapa?" Yola bingung.
"Ayo turunkan!" pinta Rei.
Yola tidak menuruti apa kata Rei. Sedangkan Rei, hanya terdiam.
"Apa kamu cemburu?" Goda Yola.
"Gak. Ngapain harus cemburu?" Rei cuek.
"Yaudah gak usah turun ya! Nanti dirumah istirahat dulu!"
Rei tidak menjawab
"Kamu mau pergi lagi sama Revan?"
"Mau." Yola sengaja
"Sering banget ketemu dia."
"Iya. Abis dia bikin rindu sih." Yola sengaja bercanda.
"Pinggirin dulu mobilnya"
"Kenapa?"
"Buru!"
__ADS_1
Akhirnya, Yola pun meminggirkan mobilnya. Rei langsung mematikan mesin mobilnya. Lalu dia membuka kunci mobil dan langsung turun. Yola keheranan, apa yang akan dilakukan Rei.
Ternyata, Rei pindah ke kursi belakang, tanpa mengatakan apapun.
Yola yang melihatnya, mengacuhkannya. Dia hanya melajukan mobilnya kembali.
Ditempat Lain
Terlihat seorang pria tampan memakai jas dan kemeja rompi. Lalu dia membuka pintu rumah, tanpa mengucapkan salam.
Dia melewati isrinya yang sedang hami tua, dan sedang duduk membaca majalah didepan tv. Merekalah, Alvin dan Sarah.
Sarah yang saat itu melihatnya, benar-benar hati dia seperti terkena sayatan pisau. Luka, namun tidak berdarah.
"Kenapa kamu tidak menyapa aku dan bayi kita?" tanya Sarah berdiri.
"Saya hanya akan menunggu bayi itu lahir. Terserah kamu akan melakukan apa." ucap Alvin sambil berlalu. Namun, Sarah mengejarnya.
"Apa kamu masih marah, hanya karena saat itu aku cemburu kepada karyawan kamu?"
"Tentu. Karena setiap saat kamu seperti itu. Saya pulang pun, kamu selalu marah-marah dan menangis. Saya udah menjelaskan, saya gak ada hubungan dengannya."
"Terus kalau gak ada hubungan, kenapa kalian dekat?"
"Mau dibahas lagi? Kamu tahu? Hanya karena saya belain kamu, dan saya tidak mau ada duri dirumah tangga ini. Saya langsung memecat dia."
"Aku tahu kamu memecatnya, tapi kamu ngasih uang ke dia dengan nominal yang bukan sedikit."
"Karena dia memiliki Panti Asuhan. Sebelum saya memecatnya, dia kerja untuk memenuhi kebutuhan Panti." Alvin berusaha menjelaskan.
"Kenapa kamu gak bilang?"
"Bagaimana saya mau bilang, sedangkan kamu selalu tidak memberikan saya kesempatan untuk berbicara."
"Aku,"
"Dan satu lagi. Saya benar-benar kecewa saat mendengar, kamu sedang menelpon Ricard. Saya berusaha menyingkirkan duri yang akan masuk ke rumah tangga ini. Tapi malah kamu yang memasukan duri itu."
"Saya terlanjur kecewa. Saya tahu kamu masih menyimpan rasa. Jadi terserah kamu. Asal satu. Jangan bikin saya malu. Dengan kamu menjadi duri dirumah tangganya."
"Bukan kaya gitu." Teriak Sarah ingin menjelaskan. Namun, perkataanya tidak direspon oleh Alvin yang sudah naik tangga.
"Alvin? Bukan kaya gitu." ucap Sarah sambil meneteskan air mata, dan mengusap perutnya yang besar.
"Alviiiiiin? Kamu lama meninggalkan aku disini. Kamu benar-benar salah faham vin. Aku pusing." ucap Sarah sambil sesegukan.
Satu jam sudah berlalu. Dikampus
Saat itu, Rafael baru saja keluar dari ruang seni. Lalu dia, berusaha menelpon Yola. Namun, tidak diangkat. Beralih dia menelpon Devan.
"Hallo Raf," Suara Devan diujung tepon.
Rafael menjauh dari ruang seni.
"Apa sudah siap?"
"Si Laura sedang diikuti, sama anak-anak. Saya udah di Markas."
"Oke oke. Saya kesana. Yola belum bisa dikabari. Nanti biar dia nyusul, tadi dia pulanh duluan. Saya ada rapat dulu di ruang seni."
"Santai. Yaudah saya tunggu ya. Jangan sampe ada orang yang curiga."
"Terus topeng sama tato gimana? Udah disiapin?"
"Udah dari semalam. Anak-anak sampe gak tidur." ucap Devan yang melihat denah dilayar Komputer.
"Untuk lokasi udah fixs? Maps gak bisa mendeteksi kan?"
__ADS_1
"Udah diatur itu. Buruanlah kesini! Bawa makanananya! Tadi abis ujian saya buru-buru kesini!"
"Iya iya." Rafael menutup telponnya.
Yola dan Rei sudah sampe dirumah. Yola sedang memarkirkan mobilnya.
"Itulah sebab, kenapa aku males bawa mobil. Sering kali kejebak macet. Harusnya bawa motor aja tiap ke kampus. Ngapain bawa-bawa mobil, kalau cuma sendiri mah Rei. Kalaulah hujan, kan ada jas nya." Yola ngoceh. Namun, tidak ada respon dari Rei.
Yola langsung membuka kunci mobil belakang. Namun, saat melihat Rei. Dia tertidur.
"Pantesan. Ternyata belum bangun." ucapnya.
Yola pun menutup pintu mobil kembalu. Lalu ke bagasi mobil, membawa makanan dan buah-buahan yang dibelinya dan menyimpannya ke dalam.
Beberpa menit kemudian, dia membuka pintu mobil kembali. Namun, Rei belum juga bangun. Terlihat Rei yang seperti kecapean. Paras tampannya sangat enak dipandang, bibirnya yang sangat tipis dan berwarna merah muda. Membuat Yola kegegemasan.
Yola pun masuk ke mobil. Lalu dia membenarkan kepala Rei. Dan memindahkannya ke pangkuannya. Rei yang masih tertidur lelap, tiba-tiba bangun karena ada pergerakan.
"Udah dimana?" tanya Rei yang mengedip-ngedipkan matanya.
"Ini udah dirumah. Ayo masuk!"
"Yola?" panggil Rei dengan bibirnya seperti akan memble.
"Kenapa?" Yola mengelus lembut pipi Rei dan sisi pipi dekat bibirnya.
"Saya mau tidur lagi. Pusing." ucap Rei manja.
"Yaudah ayo. Tapi jangan disini. Terus makan dulu yah." ajak Yola.
"Yola?" Panggil Rei kembali.
"Gak ada Dokter kan?"
"Gak ada Rei. Ayo. Maaf dulu kamu nya. Jangan bobo disini! Yuk."
Yola membangunkan Rei, lalu mengajak Rei ke dalam.
DiKamar
"Saya ambikan makan dulu ya sama air." ucapnya.
"Gak mau makan, mau buah aja."
"Makan dulu. Disuapin kok, mau yah?"
"Mau minum sama roti aja." ucap Rei. Karena tidak mau debat, Yola pun menurutinya.
"Senderan sini ya!" Yola menynderkan tubuh Rei. Namun, Rei merajuk tidak mau.
"Kenapa lagi ih? Udha nyender. Katya mau roti sama minum. Minumnya baru dikit, rotinya baru segigit."
"Udah. Mau tidur lagi."
"Yaudah. Jas nya buka ya! Nanti abis bobo, makan yang banyak yah. Terus minum Fufang. Biar HB nya cepat naik." ucap Yola sambil membuka jas, yang Rei kenakan.
"Apa itu fufang?
"Obat Herbal cair. Bisa buat naikin hb." Jelas Yola.
"Gak mau minum itu."
"Yaudah sana. Kalau gak mau minum. Susah diatur ih." Yola kesal menyingkirkan tangan Rei yang nempel ke tubuhnya.
"Gak usah marah heu." Rei manja, dia langsung merajuk. Sambil tidur di pangkuan Yola denga menghadap ke perut Yola. Lalu melingkarkan tangannya, ke tubuh Yola.
Yola hanya melongo.
__ADS_1
"Nyaman banget tidur kaya gini?" tanya Yola.
Seperti biasa. Rei tidak menjawabnya.