
Waktu subuh
Cuaca tiba-tiba berubah. Ntah kenapa langit yang dilihat cerita tiba-tiba menangis.
"Allahummma soyyiban naafiian" ucap seorang gadis cantik yang masih memakai mukena. Siapa lagi kalau bukan Yolanda. Dia terlihat menutup jendela kamarnya.
Dengan keadaan masih memakai mukena cantik berwarna milo. Yola buru-buru turun kebawah. Dia takut Rei keburu bangun. Yang pasti akan membuat dirinnya harus menghadapi sikap Rei jika merajuk, mencari dirinya.
Tergesa-gesa dia menuruni tangga. Sambil sesekali memegang sisi kepalaanya yang luka dan masih dirasakan ngilu.
Sebelum ke kamar Rei, dia terlebih dahulu ke dapur untuk mengambil kurma dan timun dikulkas. Sedangkan air putih, selalu tersedia banyak disetiap kamar.
Ceklek, pintu kamar Rei terbuka. Dia masuk sambil melihat jam ditangannya.
"Jam 5 lebih 10? Ya ampun. Berarti aku 2 jam meninggalkannya." Yola buru-buru menyalakan lampu kamar.
"Oh suamiku masih tertidur ternyata." Yola merasa lega saat dia melihat, Rei yang tertidur dibawah selimut.
Lalu dia mendekatinya sambil memakan kurma. Rambut Rei dilus-lus olehnya.
"Rei? Loh? Loh? Kok, rambutnya basah. Apa kamu kegerahan?" Yola melihat ke arah Ac yang ternyata menyala.
"Ac nyala." ucapnya, kemudian dengan cepat Yola membuka selimut yang dipakai Rei.
"Massya Allah." Yola tersenyum, saat melihat Rei yang memakai baju koko berwarna biru muda dengan lengan pendek.
"Kirain, gak bakalan bangun. Ternyata udah bangun kamu. Ah mungkin karena hujan, jadi cuacanya membuat kamu harus tidur kembali." ucap Yola tersenyum sambil menyelimuti Rei lagi.
Saat Yola akan memakan timun, sambil duduk didekat Rei. Tiba-tiba Rei menggerakan kepalanya. Dia mengeliat. Lalu batuk. Uhuk-uhuk.
Yola buru-buru menyimpan timunnya dipiring. Sambil mengunyah timun, Yola buru-buru mendekati Rei kembali.
"Kamu kebangun ya? Apa saya mengganggu kamu?" tanya Yola kepada Rei yang mengedip-ngedipkan matanya.
Rei hanya menggelengkan kepalanya.
"Minum." ucap Rei.
"Ini." Yola mengambil gelas yang berisi air. Dan diberikannya kepada Rei.
__ADS_1
"Kirain kamu gak akan bangun loh, buat solat subuh." Yola tersenyum sampai matanya terlihat sipit.
"Sholat itu kewajiban yang gak boleh terlewatkan. Dan itu, hal pertama yang saya pelajari saat saya mualaf." Rei menyender dikasur.
"Massya Allah. Udah bisa dong, jadi imam?" Yola mengedipkan matanya.
"Insya Allah, tapi belum pernah."
"Kamu tahu gak? Harusnya, semua sholat untuk laki-laki dikerjakannya wajib di Mesjid. Sekalipun hujan." Yola menjelaskan.
"Iya saya tahu. Tapi belum saya kerjakan, hanya saat saya diluar. Kalau melihat mesjid, baru kesana."
"Usahakan ya! (Yola tersenyum)
Kamu tahu gak? Saking wajibnya seorang laki-laki ke Mesjid, ada salahsatu sahabat yang tidak bisa melihat. Permanen. Masih ingat kan? Abdullah bin Ummi Maktum? Yang saat kamu minta saya bacakan surat Abasa itu?"
Rei hanya mengangguk
"Nah, beliau orangnya. Karena ke mesjid itu wajib. Rasulullah, sampai membuatkan jalur dari rumahnya ke mesjid, menggunakan tali. Agar beliau mudah mencari jalan saat ke mesjid. Dan dari kisah itu, kamu sebagai laki-laki yang diberikan fisik sempurna oleh Allah. Harusnya, lebih bersemangat untuk sholat di mesjid terus." Yola menjelaskan dengan serius.
"Bahkan saya baru tahu kisahnya. Apa kamu dulu sekolah pesantren?" Respon Rei.
"Sekarang, kita hampir 5 bulan menikah. Bahkan kamu baru menanyakan hal itu Rei. Baru satu bulan terakhir ini, saya bisa sedekat ini sama kamu Rei. Sebelum-sebelumnya, rumah ini seperti sebuah Apartemen. Yang penghuninya, sibuk dengan urusannya masing-masing."
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya."
"Saya hanya ikut ngaji yang diadakan dipengajian kampung Rei. Saya sekolah Negri. Makanya saya sedikit nakal. Eh, nggak nakal deh. Hanya sering bergaul aja. Saya dikelas IPA. Tapi, sering berteman sama anak-anak IPS juga. Saya dulu membentuk tim. Dan visi nya tuh, menghilangkan permusuhan diantara kelas IPA dan IPS." Yola bercerita serius.
Rei hanya menatapnya.
"Saya hanya bertanya kamu pesantren nggaknya. Tinggal jawab Ya atau Tidak. Tapi kamu bercerita banyak." Rei menyunggingkan bibirnya.
Yola menatapnya balik
"Memang itulah saya. Lagian kapan lagi saya akan bercerita seperti ini? Sikap kamu masih sulit ditebak. Kadang jutek, kadang menghilang, bahkan kadang-kadang kamu bisa membuat kita sedekat ini. Benar kan?" Yola mengerutkan bibirnya, namun sedikit menarik bibir kirinya ke pinggir.
"Hem." Rei tidak menjawab, yang membuat mereka saling menatap. Dari tatapan bola mata mereka, pasti ada hal yang sedang mereka bicarakan dalam hatinya masing-masing.
"Oh iya. Rei, saya lagi makan kurma sama timun. Mau?" Yola tersenyum imut. Membuyarkan mereka yang saling menatap.
__ADS_1
"Kurma boleh deh" ucap Rei. Yola pun dengan senang hati menyuapkan kurma kepada suaminya itu.
"Enak?" Yola tersenyum. Rei hanya meliriknya.
"Makanan ini, timun sama kurma. Kalau kita makan ini bisa bikin tubuh kita jadi berisi." ucap Yola.
"Saya gak mau berisi. Jadi gak makan pake timun." Spontan Rei menjawab.
"Apa takut perutmu seperti orang hamil ya? Hehe. Kalau makan ini gak akan kaya gitu Rei. Kalau makan yang berlemak terus, bisa jadi tuh." Goda Yola, sambil menyuapi kurma lagi.
"Nggak. Saya akan menjaganya agar tidak seperti itu. Lagi masa suaminya yang hamil, harusnya kan,"
"Ehm. Rei nanti siang saya akan bertemu teman papa kamu." ucap Yola, mengalihkan pembicaraan.
"Minum," ucap Rei.
"Kenapa saya hampir keceplosan seperti itu, pasti Yola tersinggung. Terlebih lagi, saya belum memberikan haknya." batin Rei.
"Kenapa Rei? Kamu belum merespon perkataan saya." Yola menatap Rei.
"Nanti siang, saya telpon kamu." ucap Rei.
Yola belum sempat merespon, tiba-tiba.
"Loh? Rei? Kamu mimisan. " ucap Yola, yang dari tadi menatap Rei.
Rei kaget, dia menunduk. Ternyata benar, darah segar langsung banyak menetes. Nafas Rei menjadi naik turun.
Sedangkan, Yola buru-buru mengambil kain lap yang ada dilemari Rei.
"Kenapa nafasnya? Kenapa naik turun? Apa kamu ngap?" tanya Yola, sambil naik ke atas kasur. Dia membetulkan bantal agar tinggi untuk Rei menyender. Kemudian tangan kiri dia merangkul Rei, sedangkan tangan kanannya menandahi darah Rei yang terus menetes.
"Gini aja sementara yah. Gak apa-apa darahnya kena mukena. Karena jangan berbaring selama mimisan, soalnya darah bisa mengalir ke tenggorokan. Jika darah tertelan, maka ini bisa mengganggu perut dan menyebabkan kamu muntah" ucap Yola. Namun, Rei masih terus terdiam. Tanganya mencengkram mukena. Dan terdengar nafasnya berat.
"Kenapa dia bisa gemetaran sperti ini saat melihat darah? Apa punya pobia? Atau dia pernah seperti ini saat kecil? Tapi gak ada yang obatinya?" Batin Yola bertanya-tanya.
"Rei kenapa?"Yola menggerakan tubuhnya, lalu tangan Rei terjatuh, badannya melemas.
"Rei?" Yola teriak. Lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Kamu sampai tak sadarkan diri, Rei." Yola khawatir. Lalu dia mencoba menyenderkan Rei dibantal. Sedangkan, dia kan mengambil hpnya yang disimpan dipinggir kasur dekat bantal.