Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Masalah Hati Yang Rumit


__ADS_3

Malam telah berganti menjadi pagi


Yola yang sudah rapih dengan pakaian kebesarannya mengetuk pintu Kamar Rei. Namun, baru dua kali pintu itu diketuk. Rei membuka pintu. Sontak Yola pun kaget.


"Kemana kamu tadi? Kenapa saya tidur sendirian?" tanya Rei yang tangan kanannya masih memegang gagang pintu. Tapi menghadap ke arah Yola.


"Kamuuuu. Tiidur, sama sayaaa. Sampai adzan subuh. Lalu saya bangun. Pergi untuk sholat. Habis itu beres-beres. Masak. Mandi. Dan sekarang saya minta izin untuk pergi." Detail Yola menjelaskan.


"Pergi kemana?"


"Ke Kampus."


"Sepagi ini?" Rei melihat jam di Hp yang dipegang tangan kirinya.


"Iya."


"Ke kampus hanya satu jam kan? Itu juga kalau macet."


"Terus?" Yola menatap mata Rei.


"Saya mau ke Pantai,"


"Silah," belum selesai Yola berkata. Rei meneruskan perkataanya.


"Sama kamu."


"Tumben. Sama saya apa sama yang,"


Dreeet dreeet dreeet


Hp Rei berbunyi, Sarah menelpon.


Yola yang penasaran, siapa yang nelpon ke Rei pagi-pagi pun. Langsung mengambil hp Rei.


"Maaf. Kalau gak sopoan?" Yola yang memakai cadar tersenyum. Terlihat dari matanya yang menyipit.


"Oh ya ampun. Kirain siapa." ucap Yola sambil menatap Rei. Dan memperlihatkan layar hpnya.


"Sarah?" Batin Rei. Lalu mengambil hpnya.


Yola memberikan hp nya kepada Rei. Rei menerimanya. Tanpa berbicara apapun.


Yola menatap Rei, yang masih terdiam mematung.


"Apa dia akan marah?" Batin Rei.


"Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan tanpa cinta. Mengikat lelaki yang sama sekali tidak mencintaiku. Urusan hati memanglah rumit. Mau berpisah sedih, gak berpisah juga sedih.


Rasa bahagia sangat aku syukuri, ketika kamu mengajak aku pergi sepagi ini.


Namun nyatanya apa?" tanya Yola dalam hatinya.


"Saya izin pergi ya!" tanya Yola tegas.


Rei yang bingung menganggukan kepalanya. Lalu Yola langsung pergi. Sedangkan Rei, masuk Ke Kamarnya dan mengunci pintu.


Yola yang masih berada dibalik tembok. Mendengar Rei mengunci pintu. Lalu dia balik ke depan kamar Rei, dan menyenderkan tubuhnya dipintu kamar.


Didalam Kamar


"Ada apa kamu nelpon?"


"Rei tolong. Ketubanku pecah. Dirumah gak ada orang. Alvin gak jawab telponku." Sarah kaget.


"Apa kamu sudah merasakan mulas?" tanya Rei.


"Belum. Hplnya masih 3 minggu lagi Rei. Rei tolong, aku takut bayiku keracunan ketuban." Tangisan Sarah berubah menjadi tangisan sesegukan.


"Tunggu! Saya akan kesana." ucapnya mematikan telpon.


Diluar rumah, Yola buru-buru pergi sambil menahan tangis. Bibirnya sudah berkedut. Nafasnya naik turun. Hatinya terbakar api cemburu.

__ADS_1


"Jadi dia? Dia? Akan menemuinya?" Yola melemas.


Dia buru-buru memesan taksi. Lalu dia sedikit berlari keluar.


Beberpa menit kemudian.


Terlihat mobil yang dibawa Rei akan keluar gerbang. Pak Maman buru-buru membuka pintunya.


"Dia sudah mau pergi. Tapi kenapa taksi nya lama sekali." Batin Yola.


Rei membuka kaca mobilnya. Dia mengklaskson Yola beberpa kali. Namun, Yola tidak mau melihatnya. Dan dia buru-buru naik ke taksi yang baru saja datang. Tanpa melihat Rei.


"Dia sepertinya salah faham. Maaf Yola. Saya buru-buru." ucap Rei pasrah sambil melajukan mobilnya.


Dirumah Sarah


Rei berlari, dan masuk ke dalam rumah Sarah. Dia membuka pintu rumah. Tanpa memasukan mobilnya ke halaman. Mobilnya terparkir dihalaman luar rumah, depan gerbang.


"Sarah kamu dimana?" teriak Rei.


"Aku di Lantai atas Rei." Teriak Sarah yang mendengar suara Rei. Saat itu, dia sedang mencoba bangun. Dia menahan perut bagian bawahnya.


"Bayiku. Kuat ya sayang. Kita harus berjuang." ucap Sarah yang masih menangis.


Dreet dreet


Yola yang masih di taksi ditelpon oleh Rafael.


"Saya di taksi Raf, ini mau kesana." ucapnya.


"Baiklah. Saya udah disini."


"Iya Raf. Oh iya Raf, kamu tahu gak tempat sewa kuda disekitar sini?"


"Olahraga kuda? Untuk apa?" Rafael mengerutkan keningnya.


"Katakan saja dimana!"


"Baiklah."


"Yol? Apa sedang bertengkar sama Pak Ricard?"


Yola tidak menjawab. Bibirnya bergetar dan tiba-tiba suaranya dalam. Susah mengeluarkan suara.


"Raf? Saya. Saya,"


Tuut tuut tuut


Telpon dimatikan Yola


"Yola? Yolaaaa?" Panggil Rafael.


Tanpa fikir panjang. Dia langsung mengirimkan alamat olahraga kuda kepada Yola.


"Jika dengan seperti itu membuat hatimu tenang." ucapnya. Lalu dia berlalu masuk ke dalam markas.


Didalam Markas Lantai atas


"Ini bos kita." ucap Devan kepada Laura dan melirik ke arah Rafael.


Laura yang melihatnya, langsung menggelengkan-gelengkan kepala. Itu isyarat agar kain yang menyumpel mulutnya dibuka.


Rafael mendekat ke arah Laura. Lalu membuka kain tersebut dengan pelan. Sedangkan Devan dsn temannya meninggalkan mereka keluar.


"Siapa kamu? Kenapa kamu menyekap saya disini?" teriak Laura.


"Anda sangatlah cantik. Keturunan mana?" puji Rafael menaikan alis.


"Gak usah puji saya. Saya mau kamu lepaskan saya." Laura menggera-gerakan kursinya.


Rafael tersenyum manis. Tidak menghiraukan permintaan Laura.

__ADS_1


"Apa anda kenal sama Orang ini?" Rafael menunjukan foto Melinda dan Dewa.


"Dimana mereka?" tanya Laura penasaran.


"Saya tanya, apa anda kenal mereka?"


Laura tidak menjawab. Hanya menatap sinis Rafael.


"Baiklah."


"Dev?" teriak Rafael memanggil Devan.


"Siapa Dev?" tanya Laura. Namun Rafael tidak menjawabnya.


"Sekap kedua orang ini." titah Rafael kepada Devan yang baru saja masuk. Dia menyerahkan hp yang memperlihatkan foto Melinda dan Dewa tadi.


"Jangaaaaaaaan!" teriak Laura.


"Nyawa harus dibayr nyawa bukan?" ucap Rafael.


Sontak, Laura kaget.


"Lepaskan! Saya bukan pembunuh. Saya bukan pembunuh." Laura terus menggerakan tubuhnya


Rafael tidak menjawabnya. Dia hanya menyumpal mulut Laura. Namun, saat dia akan menyumpalnya. Rafael tidak sengaja menyentuh bibir Laura. Mereka pun saling menatap.


Beberapa menit kemudian


Mereka masih saling tatap.


"Biarkan saya berbicara dan tolong lepaskan saya!" Laura berkata lembut sambil tersenyum.


"Ya boleh."


"Terimakasih." ucap Laura kepada Rafael yang masih menyentuh bibirnya dengan jempol tangan kanan.


"Tapi tidak sekarang." ucap Rafael. Lalu dia langsung menyumpel mulut Laura dan mengikatnya kencang.


Rafael menghentakan kakinya. Dia melangkah keluar.


"Sebenarnya siapa mereka? Kemarin mereka menggunakan setengah topeng dan mengikat kepalanya. Dan sekarang, mereka menggunakan masker kain. Tapi masih mengikat kepalanya? Sebenarnya mereka siapa? Apa suruhan Revan? Ya. Saya yakin pasti ini misi dia. Karena kekasihnya telah meninggal." Batin Yola sambil menatap kepergian Rafael.


Diluar Markas


Rafael menelpon seseorang


"Bagaimana dengan pacar wanita itu?"


"Ini dijalan. Kami akan membawanya kesana?"


"Bagaimna dengan Mafia itu?"


"Kami akan dapatkan nomornya, dari laki-laki ini."


"Baguslah. Nanti sore Yola kesini. Biodata sudah di file Laptop lantai bawah."


"Tinggal dua orang lagi bos. Ibunya dan kakaknya belum."


"Itu sudah diurus oleh Devan."


"Bagaimana dengan anak cupu itu?"


"Maksudnya teman sekelas saya?"


"Iya."


"Saya dan Yola yang akan menyekapnya."


"Apa setelah mengungkap kebenaran?"


"Tentu."

__ADS_1


"Baiklah. Sebentar lagi saya sampe bos."


__ADS_2