Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Yolanda Pintar Akting


__ADS_3

Saat Yola sudah turun dari mobil Rei. Dia berjalan ke arah taman kota. Lalu dia mengeluarkan hpnya untuk menghubungi Dimas.


"Kok gak diangkat ya?" Batin Yola, sambil terus menatap hpnya.


Truuutt


"Hallo? Dimas? Kamu dimana?" tanya Yola. Yola pura-pura panik.


"Dijalan nih, kok kamu panik gitu sih. Kenapa?" tanya Dimas, yang saat itu sedang menyetir untuk bertemu dengan Rei.


Saat itu, dia sengaja tidak memakai kacamata dan pakaian culunnya. Penampilannya yang seperti itu, sudah biasa saat dia akan bertemu dengan Rei. Dia memakai Celana panjang dengan gesper H, dan baju kemeja biru muda. Benar-benar tampan sekali.


"Dimas tolong, Dimas tolong aku!" Yola pura-pira teriak.


Tuuuut tuuut tuuut (Yola sengaja mematikan telponnya)


"Yola? Apa yang terjadi?" Karena kaget. Jadi, tanpa pikir panjang. Dimas melajukan mobilnya dengan cepat. Dia akan segera menemui Rei.


Sedangkan Yolanda, dia segera menghubungi Rafael untuk menjemputnya.


"Raf, saya ditaman kota. Dimas udah saya telpon. Kita harus segera ke rumah bu Laila." Yola tergesa-gesa.


"Iya yol. Tunggu bentar! Saya lagi beli minum." ucap Rafael mematikan telponnya.


Lalu dia menghubungi Devan.


"Hallo Hol!"


"Dev? Cari nomor hp atas nama Revan di Laptop. Lalu kamu Rekam ulang pake aplikasi, video penyekapan saya. Hasilnya kamu kirim ke nomornya ya!" ucap Yola.


"Kenpa direkam ulang, Yol?"


"Dev? Revan pasti akan menghubungi Rei jika tahu saya disekap. Dia pasti lihat kapan video penyekapan itu dibuat.


Disana pasti banyak pertanyaan dan mereka akan curiga. Karena penyekapan dilakukan sebelum saya pergi ke Restoran. Rei pasti bilang ke Revan, kalau saya baik-baik saja.


Jadi tolong rekam ulang! Seolah-olah, saya disekap setelah pulang dari Restoran. Faham kan Dev?" ucap Yola sambil melambaikan tangan ke arah mobil Rafael, yang baru saja datang.


"Oh iya iya. Kenapa baru ngeuh ya?" Devan menepuk jidatnya.


"Yaudah. Saya dan Rafael mau pergi ke rumah bu Laila."


"Tunggu! Jika dia menelpon bagaimana?"


"Angkat VC jam 20:30 nanti! Cukup jawab seperti itu Dev. Jangan lupa! Kamu langsung non aktifkan hpya ya! Revan pasti melacak keberadaan kita lewat hp." ucap Yola yang langsung mematikan telpon dan masuk ke mobil Rafael.


Didalam mobil


"Gimana caranya kita sekap bu Laila?" tanya Rafael tiba-tiba.


"Ini kan demi kebaikannya. Kita pura-pura ajak dia pergi. Untuk menemui Dimas yang berada dalam bahaya. Dia pasti ikut," ucap Yolanda. Sambil terus meliha hpnya.


"Oh gitu. Yol, kenapa kamu masih memainkan hp kamu? Kenapa gak diaktifin?"

__ADS_1


"Nunggu kak Revan nelpon saya, Raf. Jika Devan udah mengirimkan video nya. Dia pasti akan nelpon ke nomor ini. Nanti kalau benar nelpon, saya akan merejeck nya. Lalu, mengirimkan suruhkan agar dia mengangkat VC malam nanti. Nah, habis itu baru deh di off in nih hp. Agar,"


"Agar mereka tidak bisa melacak lokasi." ucap Rafael cepat sambil tersenyum.


"Naaaah." Yola membetulkan ucapan Rafael, sambil menyimpan hpnya.


Di Hotel


Rei baru saja keluar dari mobilnya, lalu dia keluar dari mobil dan akan berjalan ke arah dalam kantor. Tetapi, suara klakson mobil yang beberapa kali, membuat dia melirik ke arah mobil itu.


Dimas, yang baru saja membuka kaca mobilnya langsung teriak.


"Pak? Pak? Jangan masuk dulu!" Teriak Dimas.


Rei menghampiri Dimas, yang masih berada didalm mobilnya.


"Udah sampe aja, kenapa?" tanya Rei.


"Pak? Buruan masu pak!" titah Dimas.


"Jangan terburu-buru! Ada apa?"


"Pak buruan masuk!" Dimas lebih teriak. Rei yang kebingungan, menuruti apa kata Dimas.


"Kenapa?" Rei yang baru saja menutup pintu mobil. Langsung melihat ke arah Dimas. Lalu, Dimas memperlihatkan layar hpnya. Disana, terlihat panggilan masuk dari Yolanda.


"Pak? Yola tadi nelpon saya, dia menjerit minta tolong pak." ucap Dimas cemas.


"Serius? Dia tadi turun di lampu merah, habis pergi dari Restoran bersama saya." Rei masih santai.


"Coba kamu telpon! Loadspeaker ya!" titah Rei.


Truuutut


"Yah, Raf? Dimas nelpon. Ayo, kamu angkat saya pura-pura minta tolong. Kamu agak tutup mulut kamu ya! Biar suaranya gak ketahuan." titah Yola yang sudah menutup mulutnya.


Rafael langsung menepikan mobilnya. Lalu, dia menjawab telpon dari Dimas dengan menutup mulutnya dan suara yang sedikit diubah.


"Hallo!"


"Tuh kan, hey siapa kamu? Mana Yolanda istri saya? Ups," ucap Dimas. Pundaknya ditepuk oleh Rei.


"Emmm. Emmm." Suara Yola pura-pura disekap.


"Wanita yang kalian maksud ada bersama saya." ucap Rafael. Rei, yang mendengarnya langsung mengambil hp Dimas.


"Apa yang anda inginkan? Jangan sakiti dia!" ucap Rei. Rafael dan Yola sejenak terdiam.


"Anda siapanya?" tanya Rafael pura-pura.


"Anda tidak perlu tahu siapa saya. Katakan apa yang anda inginkan!"


Rafael mengarahkan Hp ke arah Yola.

__ADS_1


"Rei? Reiiiii??? Toloooong!" Nafasnya pura-pura naik turun.


"Kamu dimana?" Teriak Rei.


" Emmmm. Emmmm." Yola menutup mulutnya kembali.


"Dia ada bersama saya. Saya tidak akan menyakitinya. Jika masih butuh dia. Angkat permintaan Video Call dari saya jam setengah sembilan nanti. Ke nomor ini!" titah Rafael dan langsung mematikan telponnya.


"Ahhhhh" Rei kesal.


"Kenapa?" tanya Dimas sambil mengambil hpnya yang diberikan Rei.


"Dia disekap sepertinya. Pria itu hanya menyuruh saya untuk mengangkan panggilan Video Call nanti, ke nomor kamu." ucap Rei.


"Apa pria itu akan menyakitinya?"


"Saya gak tahu." Rei kembali keluar mobil.


"Apa kita tidak akan mencarinya? Apa bapak tidak mengkhawatirkanya? Kenapa tidak lapor Polisi?"


"Pertanyaan kamu sangatlah banyak." Rei masuk ke dalam.


"Tunggu saya pak!" Dimas teriak, dia langsung buru-buru turun dan menyusul Rei.


Dikantor Revan


Dia terlihat sedang berada diruangan David.


"Pah? Papa tahu kan usia aku sudah hampir 30 tahun. Bagaimana kelanjutan hubungan papa dan Tante Melinda? Status mama sama papa masih nikah siri." ucap Revan menatap David.


"Van? Dua hari yang lalu papa dapat kabar. Katanya Hans si Mafia itu, udah datang dari Italia. Papa akan segera menemuinya."


"Dengan cara apa pah?"


"Papa sudah menyusun rencana yang sudah bertahun-tahun papa simpan van. Ini cara terkahir, yang papa lakukan untuk merebut property papa itu."


"Caranya gimana pah?"


"Tadi papa sengaja ke Apartemen mereka, bertiga. Tapi, Dewa dan Melinda tidak ada disana. Sedangkan Laura, sudah tiga hari dia menghilang."


"Apa hubungannya pah? Biarkan saja."


"Nggak van. Papa akan mencari mereka. Lalu papa akan menyekap mereka bertiga. Dan satu lagi van. Hans memiliki seorang istri Sah, bernama Laila. Saat itu, dia sedang mengandung anaknya. Dan anak itu Laki-laki. Nah, keberadaannya masih papa selidiki van. Kalau Laila ditemukan. Papa pun akan menyekap dia dan anaknya."


"Lalu papa akan barter mereka dengan aset property papa?"


"Ya?"


"Tapi gak semudah itu pah, buakannya Tuan Hans sangat licik. Dia banyak anak buahnya pah,"


"Papa masih menyelidiki keberadaan Laila, van. Sebenarnya papa sudsh bertahun-tahun mencarinya. Tapi, menemukan satu orang di Dunia ini gak mudah van."


Tring

__ADS_1


HP Revan berbunyi ada chat masuk. Saat dilihat, nomor baru mengirimkan sebuah video.


__ADS_2