Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Nafkah Batin Pertama


__ADS_3

Pukul 03:00 WIB


Terlihat Yola yang saat itu selesai melaksanakan sholat tahajud dan memakai mukena sedang membaca Al-Qur'an.


Sedangkan Rei terlihat berjalan ke arah pintu kamar Yola, sambil membawa gelas yang berisi jus dan hanya tinggal setengah.


"Loh? Kok dia membaca Al-Qur'an? Bukankan tadi dia bilang sedang datang bulan?" batin Rei, saat dia hendak mengetuk pintu kamar. Namun, dia mendengar Yola yang sedang mengaji.


Tuk tuk tuk


Yola kaget saat mendengar pintu kamarnya diketuk.


Tuk tuk tuk


"Tunggu sebentar!" Yola buru-buru menyimpan Al-Qur'an dan membuka mukena. Dia terlihat begitu segar. Rambutnya yang masih basah digerai. Tak lupa dia memakai sedikit lifblam berwarna merah bata.


Tuk tuk tuk


"Iya iya!" ucap Yola sambil meminum teh manis anget yang sudah dibuatnya.


"Siapa?" tanya Yola sambil membuka pintu.


"Oh. Ya Allah, Rei? Jam berapa ini? Kenapa gak tidur?" tanya Yola yang masih kaget, karena melihat Rei yang menyender ditembok sambil menatapnya dengan tajam.


Yola menghampiri Rei yang masih terdiam dan memalingkan wajahnya.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Yola sebari meraba kening Rei yang tidak panas.


"Saya gak demam." Rei menepis pelan tangan Yola.


"Kenapa belum tidur?" Yola ikut menyender.


"Belum bisa." ucap Rei sambil mendekati pintu kamar Yola.


"Loh? Loh? Mau ngapain kamu?"


"Mau tidur disini." ucap Rei, menatap Yola.


"Tumben." Sambil membuka pintu kamar, dsn mempersilahkan Rei masuk. Lalu, Rei langsung mengunci pintu kamarnya.


"Kok dikunci?" Yola yang sedang meminum Ten manis, tiba-tiba merasakan jantungnya berdegup kencang.


"Kok minum jus jam segini?" Yola pura-pura basa-basi.


"Haus banget. Sepertinya saya dehidrasi." Rei menyimpan minumannya didekat teh manis Yola.


"Kenapa?" tanya Yola yang sedikit-sedikit mundur, saat Rei mendekatkan wajahnya ke wajah Yola.


"Kamu kalau tidur pakaiannya seperti ini?" Rei melihat daster Yola tanpa lengan, berwarna coklat tua.


"Iya seperti ini." Yola semakin dek-dekan.


Tiba-tiba Rei memalingkan wajahnya seperti marah, dan dia langsung tidur dikasur dengan memiringkan tubuhnya.


"Kenapa lagi? Aneh." ucap Yola, dia menggelengkan kepala dan mendekati Rei ke kasurnya.


"Kenapa lagi? Anak manja." Yola berusaha membalikan tubuh Rei, yang sedikit susah.


"Tadi kamu bohongin saya kenapa? Kamu bilang kamu lagi datang bulan. Tapi kenapa kamu ngaji?"


"Kan saya bilang sepertinnya datang bulan. Pas dicek, ternyata bukan. Yaudah saya mandi aja terus keramas, seharian pakai hijab rambut berkeringat terus, jadinya saya gak bisa tidur. Gerah." Yola menjelaskan secara detail.

__ADS_1


Rei langsung membalikan tubuhnya ke arah Yola.


"Peluk!" ucap Rei manja. Yola yang mendengarnya semakin dek-dekan.


"Aduh, kalau gak diturutin nih anak merajuk lagi. Bikin pusing pasti." Batin Yola.


"Peluk!" ucap Rei kembali, dengan menatap Yola.


"Gimana mau peluk, kamu nya aja tiduran. Ngaco yah. Ngantuk kali kamu, tidurlah!" titah Yola cuek.


Rei yang mendengarnya langsung bangun, terus diam. Lalu menatap Yola. Dan Yola yang mengerti, langsung memeluk Rei.


"Hanya minta peluk?" tanya Yola mengusap kepala Rei.


"Tahu aja. Sebenarnya sangat gelisah dari tadi. Panas badan aku ya."


"Tadi saya cek gak panas kok,"


"Bukan panas karena demam."


"Terus?"


"Panas menahan hasrat. Maaf." Rei tertawa kuda.


"Hah? Terus?" Yola kaget.


"Aku boleh nggak memintanya sekarang?" Rei manja.


"Apanya?" Goda Yola, padahal udah tahu maksudnya.


"Yolllllaaaa. Aku malu mengatakannya. Aku mau," Rei belum meneruskan ucapannya.


"Mau punya anak?" To the point Yola.


"Tentu. Tapi," Yola mentapa Rei, lalu berbisik.


"Br* nya tolong jangan dibuka! Aku gak mau telan*** bulat." ucap Yola malu-malu.


"Aku sudah tahu. Asyiikk." Rei langsung beranjak turun dari tempat tidurnya.


"Mau kemana?"


"Matiin lampu,"


"Jangaaaan! Aku udah ada wudhu, apa kamu juga?"


"Ada lah, aku dari abis Solat Isya jam 2, jaga wudhu terus." Rei langsung mematikan lampunya.


Sementara dirumah Rafael, terlihat Devan dan teman-temannya sudah tertidur pulas. Hanya ada beberap temannya lagi yang masih memainkan ponsel.


"Ada apa ini? Kenapa saya terus memikirkannya?" batin Rafael, saat itu dia sedang menatap ke arah luar jendela.


"Raf? Lho kenapa belum tidur?" Salahsatu temannya menepuk pundaknya.


"Lho sendiri kenapa belum tidur?"


"Haah, selalu saja lho melempar pertanyaan yang sama."


"Hemmm. Sebenarnya, gue kepikiran wanita yang disekap tadi."


"Laura? Ngapain difikirin? Jangan sampe lho baper Raf. Lagian dia kan anaknya Mafia."

__ADS_1


"Udah gue usahain tapi susah, bayangannya tetap ada."


"Samperin dia kalau begitu. Atau nggak, lho kan udah kenal sama Pak Revan. Lho pura-pura nanyain Dokumen Property Bali itu. Udah diserahkan ke bokapnya apa belum."


"Gue basa-basi dulu gitu?"


"Nah lho tahu. Yaaa, daripada lho kepikiran terus. Lagian, dia kayanya baik sih. Cuma kurang terdidik doang." Temannya meyakinkan.


"Hem. Akan gue coba deh. Sorry ya, gue sampe cerita kaya gini."


"Santai. Lho dari dulu kalau masakah cewek kurang ya. Kaya gue dong. Udah berapa kali ganti. Haha."


"Hadeh. Bangga amat lho. Itu tanda nya lho gak setia."


"Setia nanti saja kalau udah nikah. Sambil pilih-pilihlah."


"Ya terserah lho lah."


"Terus lho sama Yola gimana?"


"Obsesi doang sih. Lho ngapain nanyain dia?"


"Ya kan lho tahu, lho nembak dia dikelas. Inavt gak? Waktu ada Pak Reicard lagi, yang ternyata suaminya. Yolana mau jadi pacsr saya gak?" Ledek temannya.


"Hahaa. Iya ya, nih mulut gue kenapa bisa gak ketahan ya?"


"Lho udah lama naksir dia kali, waktu masih jadi ondel-ondel haha."


"Hahaaa. Sia*an lho. Gemes doang gue. Bikin gereget, apalagi pas lihat dia berantem. Pro banget gue ke dia."


"Yayaaya. Yaudah, lho tidur lah! Bentar lagi subuh. Gue sama teman-teman mau lada balik. Sore ke rumah Pak Reiard kan?"


"Haduh. Kayanya mening ketemhan diluar deh. Sekalian mau ketemu Oak Revan gue."


"Hahha. Ngebet banget lho, dapetin si Laura. Hati-hati obsesi lagi." ucap Temannya sambil berlalu.


"Hehhh. Obsesi apa cinta ya?" Batin Rafael, mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


Waktu sudah pukul 04:10 WIB.


Terlihat Rei yang sudah memakai piyamanya, begitupun dengan Yola yang sudah memakai dasternya kembali. Mereka sedang duduk menyender dikasur sambil nunggu adzan subuh.


"Kenapa diam aja? Masih haus?" tanya Yola.


"Nggak."


"Terus kenapa?"


"Nggak. Lelah juga ya. Semoga benihnya sehat. Rumah ini sangat sepi, kalau kita berdua terus." ucap Rei tersenyum.


"Aamiin. Tidur sebentar kamu!" titah Yola.


"Sebentar lagi subuh sayang, aku kalau tidur sebentar-sebentar suka pusing." ucap Rei manja.


"Iya sayang." Yola mengecup kening Rei, dan mengusap-ngusap rambutnya.


"Kamu mandi lagi dong?"


"Iya sayang, gak apa-apa. Kan aku dapat pahala sayang." Yola tersenyum.


"Apa perih?" Rei menatap Yola.

__ADS_1


"Sedikit. Jangan tanya begitu lagi, lebih perih jika nanti melahirkan sayangku. Harus mengeluarkan kepala bayi." Mereka pun tertawa.


Dan cerita pun tamaaaaat! :)


__ADS_2