
"Lupakan Revan. Jangan mengharapkan cintanya lagi. Ingat apa yang telah kalian lakukan kepada kekasihnya."
"Azka! Jangan bahas itu lagi." teriak Laura sambil menengok ke Azka.
"Yasudah lupakan! Apa kamu masih dekat sama Rei?" Mengalihkan pembicaraan.
"Rei? Hahaha. Dia sudah punya istri ternyata. Dan kamu tahu?" ucap Laura seperti kecewa.
"Apa?"
"Ada salahsatu Mahasiswi yang selalu aku nyinyir. Ntah kenapa aku suka aja gitu bikin dia kesal dan dibikin malu depan banyak orang. Dia awalnya lucu. Terus dia orangnya terkenal dikampus karena dia ekstrovert dan ramah. Dan itu bagi aku menjadi saingan aku lah. Dia banyak fansnya. Padahal selama 3 tahun terakhir hanya aku yang banyak fansnya di kampus."
"Tunggu! Gak usah membicarakan orang. Gak baik itu. Coba to the point aja ceritanya."
"Oke oke. Azka kamu tahu? Dia istrinya Rei. Dan dia sangat cantik. Jujur aku benci mengakui itu." teriak Laura.
"Hem. Terus bagaimana hubungan kamu dengan dia?"
"Aku sudah tidak memperdulikannya. Jujur aku masih sangat mencintainya. Tapi aku gak mau orang-orang mencap aku sebagai pelakor. Apalagi kamu tahu di Kampus aku dan si cewek itu menjadi Primadona." Laura kesal. Berbicara sambil melipatkan kedua tangannya.
"Jika ada laki-laki yang mencintai kamu dengan tulus. Dan suatu saat nanti kamu juga mencintainya. Apa kamu akan menjadi mualaf agar bisa menikah dengannya?"
"Haha. Mualaf? Belum kepikiran lah. Lagi siapa laki-laki yang mencintaiku dengan tulus? Terlebih lagi dia belum tahu aku ini seorang pembunuh."
"Kamu menjadi seorang pembunuh karena keadaan. Bukan sengaja membunuh tanpa alasan. Kamu hanya mengikuti Dewa dan Mama kamu kan?"
"Kamu terlibat gak sih di pembunuhan itu?"
"Dewa sempat marah. Karena saat pembunuhan saya tidak ada disana. Saya sengaja pergi ke Bali. Karena saya gak msu terlibat. Saya tahu dia meninggal dari Revan sendiri." ucapnya.
"Revan selalu mengejarku. Apa dia masih mencintaiku?"
Azka menggelangkan kepala
"Masih aja. Kamu tahu dia mengejarmu untuk apa?"
"Untuk apa?"
"Untuk mengintrogasi kamu, menanyakan kematian kekasihnya. Karena dia tahu dari orang-orang Kampus. Kalau kamu terakhir pergi bersamanya. Ditambah hp Salma kan tidak ditemukan sampai sekarang"
"Haha. Hpnya udah diancurin sama mama dan Kak Dewa." ucapnya puas.
Dijalan pulang ke rumah.
Sudah 10 menit lamanya. Yola memutar balik mobil untuk kembali ke Rumah. Sebelumnya Rei sudah izin untuk tidak ikut meeting. Sedangkan Yola akan menelpon Dosen yang akan mengajar dikelasnya. Dia pun akan meminta izin.
"Bentar lagi ya. Masih kuat kan?"
"Hem." Rei memejamkan matanya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai rumah. Rei terlihat sedang berbaring dikamarnya. Yola baru masuk ke kamar Rei dengan pakaiannya yang masih lengkap. Dia membawa makanan, segelas air, obat dan kompresan. Lalu dia buru-buru menghampiri Rei.
Dia membantu Rei duduk dengan menyender, membuka dasinya, menyuapinya, memberikannya obat, dan terakhir Yola akan mengompresnya. Namun, Rei menolaknya. Sudah kebiasaan Rei jika sakit selalu merajuk dan manja.
Yola sudah ngerti dengan maksudnya. Dia pun ikut naik ke kasur. Lalu memeluk Rei. Dan Rei tidur dipangkuannya. Sayang sekali, hal itu tidak membuat Yola membuka penghalang wajahnya. Yola hanya mengelus Rei yang sudah memejamkan matanya. Dan mengompres Rei. Rei beberapa kali terbangun karena batuk.
Uhuk uhuk uhuk
"Mau minum lagi?"
"Nggak." ucap Rei lalu membalikan wajahnya ke perut Yola.
"Ya Allah. Keadaan seperti ini selalu membuatku panik. Tapi selalu juga membuatku dek-dekan. Ada rasa senang. Tapi, saat mengingat dia masih belum mencintaiku. Itu sangat menyakitkan." batinnya.
Dreet dreet dreet
Yola mengeluarkan hp dari saku bajunya. Terlihat ibunya Rini meminta VC. Yola yang sangat rindu kepadanya langsung menerima panggilan itu.
"Assalamu'alaiakum ibu? Apa kabar?"
"Waalaikumsalam. Massya allah anak ibu cantik sekali. Kapan pake tertutup seperti itu sayang?"
"Hhehe alhamdulillah bu. Ibu gak perlu tahu kapan aku memakainya bu. Yang penting aku minta do'anya ke ibu semoga aku istiqomah. Gak nakal lagi bu. Gak main-main terus."
Rei yang sedang tertidur membuka matanya karena mendengar pembicaraan Yola dan Ibunya. Yola yang sedang menatap layar hpnya tidak menyadari hal itu.
"Alhamdulillah. Walaupun suami kamu mualaf. Tapi dia udah ngerti dan udah banyak tahu tentang islam. Buktinya penampilan kamu berubah semenjak kamu sudah menikah."
"Yola? Kenapa diam? Suami kamu mana?"
"Oh iya iya bu. Ini suamiku bu. Lagi sakit."
Rei buru-buru kembali menutup matanya.
"Sakit apa? Bobo nya pakeian bantal yol. Nanti lehernya malah sakit loh."
"Gak mau dia bu. Dia kalau lagi sakit selalu saja manja. Aku kadang bingung menghadapinya, jadi gak bisa ngapa-ngapain bu."
"Sut. Jangan bilang gitu. Justru disaat seperti itu banyak sekali pahala yang didapat untuk kamu sebagai istrinya yol. Asal kamu ikhas, sabar, dan tidak banyak mengeluh."
"Iya bu. Lagipula aku sangat mencintainya. Kalau lah aku gak bisa kemana-mana saat dia sakit. Tapi aku inya allah akan selalu ada didekatnya bu. Aku selalu memperhatikannya bu."
"Buu? Ayo ayah mau berangkat dulu. Para petani sudah menunggu." ucap Ayah Riki disebrang sana.
"Oh iya yah. Yol? Udah dulu ya. Nanti disambung lagi. Jangan lupa perhatikan terus suami kamu. Sampai dia sembuh ya." Rini mematika vc.
Uhuk uhuk
Rei kembali batuk
__ADS_1
Yola spontan melebarkan baju kemeja Rei bagian atasnya. Lalu dia mengoleskan balsam dari dada ke tenggorokan Rei.
Uhuk uhuk
"Bangun yuk! Minum dulu!" Yola mencoba membangunkan Rei untuk duduk. Lalu Yola memberikannya Minum.
"Pusiiiiiiing heu heu" Rengek Rei.
"Terus saya harus gimana?" tanya Yola melepaskan pelukannya lalu berdiri utuk mengisi air yang sudah koson.
"Pusiiiing" Rei merajuk
Yola yang masih membawa gelas. Langsung menatap Rei.
"Saya harus gimana? Kamu bobo lagi lah istirahat."
"Gak mau. Heu heu." Rei masih merajuk sambil menghalangi wajahnya dengan lengan sebelah kanan sambil menyender di tepian kasur.
"Yaudah, saya ntar aja menyimpan gelasnya. Sini saya gak pergi kok." Sambil memeluk kembali Rei. Rei yang sedang merajuk langsung memeluknya, dia membenamkan wajahnya ke dada Yola. Sehingga penutup Wajahnya sedikit tertarik.
"Rei awas!" bentak Yola spontan.
Rei kaget dan melihatnya.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu sengaja akan menarik penghalang wajah ini?" Yola kesal.
"Gak sengaja." ucap Rei yang sudah lemas karena demamnya sambil menunduk.
"Awaslah!" Yola kesal lalu menjatuhkan tubuh Rei ke kasur dan buru-buru akan membuka pintu kamar untuk keluar. Namun, dia mendengar suara Rei yang merintih kesakitan. Tubuhnya dibolak balik. Yola yang melihatnya langsung kembali mendekatinya.
"Maaf! Saya minta maaf." Yola mencoba membalikan tubuh Rei yang tengkurap. Namun, Rei menghindari sentuhan Yola.
Yola tetap memaksa membalikan tubuh Rei.
Nafas Rei naik turun.
"Kamu kenapa?" tanya Rei.
"Saya ng ngaaap." ucap Rei yang mencoba menarik nafasnya.
"Sakit. Ngap" Rintih Rei. Tidak sengaja dia menjatuhkan air matanya. Yola terus mendekapnya.
"Ke rumah sakit ya sayang! Maafin ya. Ternyata sabar ketika saat kesal tuh susah. Maafya sayang." Yola mendekap Rei. Sedangkan Rei mencoba menarik nafasnya. Seperti seseorang kecapean setelah menangis.
"Disisni aja kamu nya!" ucap Rei manja.
"Iya sayang disini. Tapi panggil Dokter yah!" titah Yola.
Rei tidak menjawab. Sedangkan Yola mengeluarkan hpnya lalu menelpon Dokter.
__ADS_1
"Selalu seperti in kalau sakit. Bikin panik." ucapnya dalam hati.