Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Membela Revan


__ADS_3

Dikampus saat jam Istirahat sekitar pukul 12:30 WIB.


Yolanda yang saat itu masih berada dikelasnya sedang berbincang-bincang dengan Imelda, Devan, dan Dimas. Mereka tertawa bersama. Namun, tiba-tiba perutnya merasa lapar. Mereka pun pergi makan siang. Saat diperjalanan didepan fakultas lain, tepatnya fakultas Laura. Dia melihat Laura yang sedang mengobrol dengan banyak teman-temanya. Tiba-tiba dia menyapa rombongan Yolanda.


"Waw lihat! Adik tingkat yang katanya berubah jadi putri, gara-gara tidak masuk kelas selama seminggu." Teman-temanya tertawa, sedangkan yang lain memperhatikanya. Begitupun, dengan rombongan Yolanda yang tiba-tiba berhenti. Yolanda masih terdiam.


"Dikasih uang berapa? Sampe bisa pergi ke salon?" Laura terus memancing.


Yolanda masih terdiam.


"Sama siapa dia dikasih uang nya?" tanya Teman Laura.


"Ya sama om-om lah." Mereka tertawa.


"Pantes. Cantikanya ngalahin kamu ra." jawab Teman Laura yang sedikit kurang.


Imelda tertawa puas.


Disaat yang berbarengan Ricard sedang berjalan untuk melakukan bimbingan di Fakultas nya Laura.


"Aduh, perut saya yang kelaparan. Sepertinya akan kenyang kalau sudah mencakar dia." bisik Laura kepada tiga temanya. Namun, Dimas hanya bilang.


"Sabar! Gsk usah diladenin! Ayo pergi. Mau makan kan?"


Yolanda tidak menghiraukan ajakan Dimas.


"Benar kan? Pergi seminggu bersama om-om?" Suara lantang Laura.


Yolanda mendekat.


"Disini ada cctv gak sih? Kalau ada. Wanita ini akan saya laporkan ke Polisi atas pencemaran nama baik." ucap Yolanda dengan lantang.


"Ada apa ini?" tanya Ricard yang sudah tiba disana.


"Oh ini nih. Wanita ini bikin ulah." ucap Laura. Semua orang bersorak keheranan. Sedangkan teman-temanya Laura membenarkan perkataanya.


Yolanda tidak sedikitpun melirik suaminya. Dia masih menatap tajam Laura. Lalu dia menunjuk Laura dengan tangan yang mengepal hpnya.


"Kamu gak usah SKSD sama saya. Kita gak pernah kenal kan?." Tersenyun sinis.


Trut trut trut


Hp Yolanda berdering. Terlihat dilayar itu tertulis nama "Revan."


Ricard dan Dimas yang saat itu melihatnya benar-benar sangat shok.


Sedangkan Laura. Merasa dimenangkan ucapanya. Karena tidak melihat nama dilayar hp tersebut.


"Ada yang menelpon. Itu pasti om-om itu kan?"


Semua orang mensoraki Yolanda.


Yolanda hanya terdiam dia merapatkan bibirnya dan menggigit sedikit bibir dalam bagian bawahnya. Lalu berlalu mengajak teman-temanya pergi. Dimas yang saat itu masih shok dengan nama dilayar hp Yolanda sedikit melamun. Yolanda pergi tanpa melirik suaminya sedikitpun. Dia merasa bersedih dan menggerutu.


"Maaf kalau saat ini aku harus dekat dengannya. Aku hanya ingin memastikan apa kamu akan mentalak aku dan pergi bersamanya atau mengawali rumah tangga kita dengan menghadirkan cinta?" Yolanda melamun.


"Revan? Kalau benar dia mantan kekasih Laura, berarti Yola dalam bahaya." batin Ricard.


Namun, lamunanya terbuyarkan oleh wanita yang kurang tadi.


"Pak, maaf. Ayo masuk pak. Udah ditunggu." ajaknya.


Dikantin Kampus


Yolanda dan teman-temanya sedang memesan makanan. Yolanda makan dengan sangat lahap. Teman-teman melihatnya sangat keheranan. Saat lagi makan, tiba-tiba Yola teringat suaminya. Yang saat jam istrirahat malah masuk ke dalam Fakultas lain. Pikirnya berarti suaminya belum makan. Walaupun kesal, tapi Ricard tetaplah suaminya. Akhirnya, dia menjauh dari teman-temanya dan menelpon suaminya.

__ADS_1


Trut tut trut


Telpon tidak diangkat.


"Apa dia masih mengajar?" batinya.


Trut trut


Telpon berlangsung tetapi hanya ada suara suaminya yang sedang memberikan arahan.


Dia pun mematikan telponnya. Dan mengirimkan chat.


"Selesai itu, makan dulu ya sayang! ^•^" terkirim.


"Aneh. Kadang baik, kadang nggak." batin Ricard sedikit tertawa.


Yola pun kembali duduk bersama teman-temanya.


"Kemarin kemana aja selama seminggu?" tanya Dimas yang masih penasaran.


"Kenalan sama orang baru."


"Apa yang bernama Revan tadi?"


"Kok kamu bisa tahu?"


"Tadi saya lihat dilayar hp kamu, yang nelpon Revan."


"Hehe. Iya. Dia orang yang baik menurutku."


"Apa dia Direktur Utama PT Raffertyson Investama?"


"Loh? Kok kamu tahu?"


"Dia terkenal. Lain waktu, kalau kalian udah saling kenal. Pasti kamu akan lebih tahu siapa dia." ucap Dimas yang mimiknya seperti tidak suka.


Imelda dan Devan yang saling melirik mengalihkan suasana.


"Selesai ini mau kemana? Kelas masih setengah jam lagi nih." tanya Imelda.


"Saya sih mau ketemuan sama Pak Suami." Yolanda nyengir.


"Dimana? Tumben amat. Suami kamu gak malu lagi sekarang, dekat-dekat sama kamu?" Ketus Devan.


"Dia aja belum tentu mau. Tapi saya harus baik-baikin dia. Kalau nggak, si Laura lama-lama bisa semakin keenakan. Belum tahu aja sih, Pak Ricard suami saya." Berkata dengan bangga.


"Cinta kalian sepertinya masih bertepuk sebelah tangan." ucapan Dimas membuat Yolanda tersengum terpaksa.


"Kok kamu bisa sebegitu yakin sih?"


"Yakinlah. Dari sikap pak Ricard saat kemarin Yola pergi. Dia biasa aja tuh mel,"


"Hem. Sabarya Yol. Tetap bersabar! Kudu itu!" ucap Devan.


"Sabar sih. Tapi gak tahu deh, kalau kelamaan seperti ini. Rasanya saya akan mundur." Yolanda mulai berputus asa.


Dimas yang mendengarnya tiba-tiba keselek. Dia langsung minum. Mereka bertiga memperhatikan Dimas.


"Saya akan memberitahukan tentang ini secepatnya kepada Pak Rei." batin Dimas.


2 jam kemudian.


Dimesjid Rei yang baru saja melaksanakan sholat. Rambutnya yang masih basah membuat paras tampannya semakin berkharisma. Dia saat itu rebahan di Mesjid, dengan kedua tangan yang dijadikan bantal.


Lalu dia menatap langit-langit mesjid itu.

__ADS_1


"Ya Allah. Bantulah saya menyelesaikan kasus itu! Mudahkanlah semuanya. Walaupun saya belum mencintainya, setidaknnya saya tidak terus-terusan menyakitinya. Mah? Pah? Maafkan aku. Aku masih mengingat kekasihku yang dulu. Sangat sulit untuk aku mencintainya. Tapi janji suci itu pah, membuat aku harus mempertanggungjawabkan semuanya. Bagimanapun aku harus mempertahankan rumah tanggaku inu pah." batin Reicard. Saat dia akan memejamkan matanya. Tiba-tiba suara pria yang menjadi anggota DKM Mesjid memanggilnya.


"Maaf, Pak Ricard?"


Dia buru-buru bangun dan merapihkan pakaianya.


"Iya?"


"Maaf pak. Ada seorang Mahasiswi yang menunggu bapak diluar."


"Oh iya."


"Saya permisi pak."


"Ya."


"Apakah itu Laura? Kenapa selalu dia sih? Jujur saya sangat risih." ucapnya dalam hati.


Saat keluar Mesjid, dia terkejut melihat istrinya yang sedang mengobrol dengan bebrapa adik tingkanya. Merka terlihat sangat serius, melihat buku yang dipegang salahsatu adik tingkatnya. Karena tidak mau menunggu lama. Dia pun menghampirinya. Dan hanya berdiri menatap Yola tanpa mengatakan apapun. Yola yang merasa ada yang memperhatikan pun melihat ke arahnya. Tidak kaget, dan tidak memberikan senyuman sedikitpun. Dia hanya mengatakan pamit kepada beberapa adik tingkatnya itu.


"Sudah sholatnya?"


"Sudah."


"Lain kali, kalau mau mengadakan bimbingan sholat dulu aja. Kalau kebablan kan bahaya. Waktu sholat jadi ketersampingkan. Nanti masuknya kedalam orang-orang yang melalaikan sholat. Lain kali jangan begitu ya!"


"Iya. Terus?"


"Ya terus aku mau nanya. Kamu udah makan apa belum? Kenapa chat saya tidak dibalas?"


"Untuk apa? Toh kalau dibalas, gak mungkin makan bareng kan?"


"Iya gak bakalan. Kan kamu takut orang-orang tahu kalau kita sudah menikah. Iya kan?"


"Gak usah lebay!"


"Saya hanya mengingatkan. Kamu jangan telar makan, jangan terlalu banyak pikiran, nanti sakit."


"Kesini hanya untuk itu?"


"Nggak. Nih, saya bawa makanan buat kamu. Tapi kamu mau makan dimana?"


"Diruangan saya. Disana udah sepi. Hanya ada beberap Dosen saja."


"Yaudah nih (Yola memberikan makananya). Kamu masih ada kelas kan? Saya mau pulang duluan ya."


"Tunggu!"


"Apa yang tadi pagi itu kamu? Kenapa kamu menangis? Motor siapa yang kamu pake?"


Yola tertawa.


"Selama kita menikah. Baru kali ini kamu nanya sampe tiga pertanyaan sekaligus."


"Saya butuh jawaban."


"Itu memang saya. Saya menangis karena kamu lah. Sedih aja kalau mengingat rumah tangga kita yang ga tahu arahnya akan kemana. Motornya tukeran sama Pak Revan."


"Revan siapa?"


"Saya baru mengenalnya. Seminggu yang lalu bertemu di Pantai."


"Hati-hati dengan orang baru. Jangan terlalu percaya."


Yolanda kembali tertawa.

__ADS_1


"Kamu aja masih orang baru bagi saya. Insyaallah dia orang baik. Jangan suka suuzan sama orang. Assalamu'alaikum."


Yolanda langsung pergi. Sedangkan Ricard masih berdiri mematung sambil membawa paperbag makanan yang diberikan Yola.


__ADS_2