
"Rei? Kirain perkataan Kak Revan benar. Kalau laki-laki butuh istri yang cantik. Itulah kenapa aku tidak menutupi wajah asli ku lagi. Nyatanya semua itu salah Rei. Kamu tetap aja belum mencintaiku. Kalau begitu, aku akan menutupnya lagi Rei. Kali ini, aku akan memakai pakaian syari dan aku akan memakai cadar Rei. Agar kamu, tidak bisa melihat wajah dan tubuh aku lagi. Kamu belum mencintai aku kan Rei? Jadi kamu jangan merasa rugi." ucapnya sambil menyeka air matanya.
Rei yang sudah berada dikamarnya mengunci pintu. Dia belum mengganti pakaiannya dan masih menggunakan sepatu. Lalu, dia menatap apa yang ada dibelakang pintu. Yaitu Lukisan. Sehingga, dia teringat ke tempat rahasianya.
"Ya ampun. Kenapa saya seteledor itu? Asli. Kali ini saya benar-benar melupakanya. Bagimsna jika ada yang masuk kesana? Kunci kamar tidak dikunci. Terakhir kesana?(Rei mengingat kejadian, saat Yola tertidur dikamarnya. Dan dia masuk ke tempat itu). Kunci? Kuncinya?"
Lalu dia teringat kunci yang dimasukan kedalam celanya. Dia mencari kunci itu dicelana yang digantungnya. Namun, kunci itu tidak ada. Lalu dia melihat ke arah kasur. Kasur yang sangat rapih dengan selimut ysng udah dilipat diberantakin karena Rei panik.
Beberpa menit kemudian
Rei mencoba mencari dibawah kasur. Sampai dia menemukan kuncinya yang tergeletak dilantai.
"Oh ya ampun. Ternyata jatuh disini. Setelah saya mandi, saya akan kesana." Rei menyimpan kunci itu dikasurnya.
Yola menelpon Azka.
"Hallo, Yola. Kenapa?"
"Kita harus bertemu sekarang. Tolong kamu ke tempat yang saya sharelok ya!"
"Baik-baik."
Setengah jam kemudian.
Yola sudah siap dengan penampilannya yang sangat imut. Dia memakai sedikit make up. Celana kulot, baju kaos panjang dengan jaket, memakai ransal, sepatu, dan rambut yang diikat dan sedikit ke arah pinggir. Karena tidak mau bertemu Rei. Dia menelpon Rei untuk meminta izin keluar
Sayang sekali. Rei yang saat itu sedang berada diruang rahasia tidak mengangkat telponnya. Akhirnya Yola turun. Dia mendatangi kamar Rei. Lalu mengetuk-ngetuk pitu kamarnya. Rei yang saat itu, ketiduran dengan dua tangan bertumpu dimeja. Spontan dia kaget. Dengan kepala yang masih pusing, dia keluar dari ruangan tersebut. Lola yang saat itu masih menunggunya dengan menyender ke pintu, mencoba untuk menghubungi Imelda. Karena dia tidak keburu membawakan pesanan Imelda tadi siang.
"Kenapa dia belum mengangkat telponnya? Aku jadi khwatir. Apa aku coba hubungi Devan aja ya?"
Pintu yang tiba-tiba kebuka, membuat dirinya akan jatuh ke belakang. Hanya saja, Rei langsung menahanya agar tidak jatuh. Mereka pun tidak sengaja saling menatap.
"Yolanda. Benar-benar sangat cantik dan imut." ucapnya.
"Astagfirullah. Saya harus menutupi wajah saya." Buru-buru dia memakai masker dan beranjak bangun.
"Maaf Rei, gak sengaja. To the poit aja. Saya kesini mau minta izin untuk menjenguk Imelda. Dia lagi sakit. Saya akan membelikan dia buah, sayur, dan roti. Saya juga mau sekalian belanja ke Tanah kusir."
Rei mengerutkan keningnya.
"Eh heehe bercanda. Maksudnya Tanah Abang. Jadi, sekalian saya pinjem mobil boleh ya." ucapnya.
Rei tidak menjawab. Dia pergi ke dalam. Lalu keluar lagi memberikan kunci mobil dan atm ke Yolanda.
__ADS_1
"Ini apa?" Yola mengangkat atm.
"Itu ATM."
"Maksudnya untuk apa?"
"Untuk kamu pegang."
"Hanya dipegang?"
"Dipeluk juga gak apa-apa."
"Iiih. Ngajakin berantem. Untuk apa?"
"Ya untuk dipake lah. 151098"
"Serius?"
"Ya."
"Berapa tadi?"
"151098"
"151098? Biar aku simpan dihp. Siapa tahu butuh hehe."
Satu jam kemudian Dikotsan Imelda
"Mel kenapa kamu bisa sakit? Apa Devan tidak menjaga kamu?" tanya Yola yang sedang mengupas buah untuk Imelda.
"Dia bukan pacar aku lagi la. Waktu pulang habis acara seni itu, aku dianterin dia ke kotsan. Terus dia bilang, kalau hari itu adalah hari terakhir dia nganterin aku. Dan dia memutuskan aku. Aku shok lah yol. Beberapa hari aku memikirkan dia. Hingga aku sakit."
"Apa alasannya?"
"Kita kan beda agama. Dia Hindu. Katanya orang tuanya melarang dia berhubungan dengan aku. Takutnya kita terlalu jauh melangkah." Imelda memakan buahnya.
"Nanti saya kenalin kamu sama seseorang. Kebetulan dia itu belum punya pacar. Mungkin lagi nyari jodoh juga. Hehe."
"Ah yol. Kamu tuh, gak usah bercanda lah."
"Saya gak bercanda mel. Oh iya. Nanti saya akan pergi ke Tanah Abang mel. Mau beli pakaian syar'i"
"Loh! Untuk apa?"
__ADS_1
"Rei masih belum mencintai aku mel. Sepertinya aku akan menutupi tubuhku mel. Sesekali aku akan pakai cadar, atau nggak masker buat nutupin wajahnya."
"Ya Allah. Kenapa bisa ngambil keputusan seperti itu yol?"
"Emang keputusanku salah mel?"
"Kalau menutupi auratnya bagus sih. Tapi kan Rei suami kamu. Masa kamu nyembunyiin itu dari dia?"
"Sudah aku bilang mel. Dia belum mencintaiku. Belum (Tiba-tiba suara Yola terasa dalam. Tanda akan menangis). Dia masih mencintai masalalu nya mel. Tapi aku gak akan nyerah mel. Karena setiap kali aku akan nyerah. Aku teringat kesalahan besar yang aku lakukan kepada orang tuaku. Mulai sekarang dan seterusnya aku akan benar-benar belajar menjadi istri yang baik buatnya. Dan penampilanku ini, tidak hanya aku sembunyikan dari dia. Tapi dari mereka juga yang bukan muhrim aku mel."
"Emm. Aku jadi tertarik yol. Kalau aku ikutan pakai pakaian sayari itu boleh gak?"
"Ya bolehlah. Kamu kan islam mel."
"Yaudah ayo. Aku ikut belanjalah. Bosen disini terus."
"Loh loh. Bukannya kamu masih sakit?"
"Sedikit sih. Tapi ini karena efek aku memikirkan dia kayanya. Sakitnya karena patah hati mel. Yuk ah. Eh tapi, aku beli nya satu stel aja kali ya. Uit ku sedikit lagi nih. Ayah belum transfer lagi. Kata ayah, uangnya kepake buat bikin empang baru buat ternak lele yol."
"Hehehe. Ada rizki buat kamu mah mel. Ayo aku yang beliin."
"Tumben kamu punya uang?"
"Rei ngasih atm. Aku sih menolaknya. Tapi dia langsung menutup pintu kamarnya tadi."
"Haha. Rezeki itu yol. Lagi kenapa sih ditolak. Dia kan suami kamu. Pasti di atm itu banyak uangnya. Selain Dosen, dia kan CEO Hotel mewah itu kan?"
"Udah ah. Gak usah dibanggain. Males sama dia."
"Sut itu suami kamu. Kalau bisa. Kamu jangan bahas keburukan suami,"
"Udah tahu. Namanya gibah kan? Dosa besar itu." ucap Yola menyela perkataan Imelda.
Di Restoran Daerah Tanah Abang
Azka mencoba menelpon Yola yang masih belum datang.
"Lama yah. Dimana sih? Saya udah setengah jam disini."
"Sabar ih. Ini bentar lagi nih. 10 menit ya. Aku habis dari kotsan teman dulu."
"Iya iya deh." Azka mematikan telponnya.
__ADS_1