
"Yasudah, saya keluar dulu ya." ucap Suster sambil membawa catatan.
Setelah Suster keluar, Dokter tampan tersebut menghampiri Yola.
"Nyonya. Saya minta maaf. Sebenarnya tadi saya sempat menyangka nyonya belum menikah." ucapnya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa, kan Dokter belum tahu. Dokter?"
"Iya?"
"Tadi saya lupa waktu ada suster. Apa boleh saya minta tolong?" Wajah Yola penuh harap.
"Boleh."
"Dokter saya mau minta masker boleh?" pinta Yola dengan tatapannya yang sayu.
"Boleh." Dokter itu berlalu dan tersenyum.
"Apa sudah lama kamu berpenampilan seperti ini?" tanya Dokter sambil memberikan masker kepada Yola.
Yola tertawa.
"Dokter, satu aja maskernya. Ini kebanyakan." ucapnya. Sambil mengembalikan kotak masker tersebut.
"Saya belum lama hijrah, Dok."
"Apa manfaat kamu menutupi wajah dan tubuh kamu?" tanya Dokter yang penasaran.
"Emm. Sebelum saya jawab. Apa boleh saya bertanya?"
"Tentu."
"Agama Dokter apa?"
"Em. Non Islam. Kenapa?"
"Oh. Hehe. Dokter bertanya apa manfaat saya berpenampilan seperti ini? Jawabannya. Agar laki-laki yang bukan mahram saya, tidak menggoda saya dan tidak menikmati wajah dan bentuk tubuh saya. Walaupun hanya sebatas melihat."
"Oh. Terus bagaimana dengan suami nyonya tadi?"
"Kita sudah hampir 4 bulan menikah dok. Dia belum mencintai saya." Yola tersenyum.
"Maaf. Bagaimana dengan nafkah batinnya?"
"Tidak akan pernah ada, jika cinta pun tidak ada." Tegas Yola.
"Oh. Hem. Baiklah. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Ada. Dokter saya harus pergi. Ada sesuatu yang gak bisa ditinggalkan. Saya mau Dokter mencabut infusan ini." Yola melirik selang infusan tersebut.
"Tapi,"
"Please dok.!"
"Apa kamu akan kuat?"
__ADS_1
"Hanya pusing sedikit. Tapi saya harus pergi dok, ayolah!" Yola memohon.
"Baiklah." Dokter langsung mencabut infusan Yola.
"Aw. Ya Allah. Sakit juga ya dok, ngilu banget." ucap Yola.
"Saya mencabutnya pelan kok, tapi rasanya memang seperti itu. Kamu bisa berdiri sendiri kan? atau mau saya panggilkan Suster? Saya gak bisa menyentuh kamu."
"Kenap gak bisa dok?"
"Kan saya bukan Mahram kamu. Gak boleh nyentuh kan, kalau bukan mahram?" tanya Dokter serius.
"Iya Dok. Yaudah, saya panggilkan suster sebentar." Dokter berlalu keluar.
Saat dia membuka pintu, Rei yang lagi menyender dan melamun depan pintu itu hampir terjatuh.
"Apa yang anda lakukan, pak?" tanya Dokter.
"Tentu saya nunggu istri saya, dia lagi salah faham." Rei mencoba menjelaskan.
"Pak, istri bapa baru saja dilepaskan infusannya. Dia yang meminta sendiri, katanya dia mau pergi ada urgent. Makannya saya kesini mau panggil Suster biar ada yang membantunya."
"Dokter. Biar saya saja ya." ucap Rei sambil menerobos pintu. Dokter itu mencoba mencegahnya. Namun, Rei dengan cepat mengunci pintu tersebut.
"Pak? Buka pak pintunya! Apa yang anda lakukan? Saya bisa melaporkan bapa." ucap Dokter itu sambil mencoba membuka pintunya. Namun, perkataannya tidak didengar Rei.
Didalam, Yola yang sedang berusaha untuk duduk langsung dibantu oleh Rei.
"Biar saya bantu." ucap Rei mengulurkan tangannya.
"Saya ini suami kamu. Masih suami kamu. Kamu harus nurut sama saya." ucap Rei.
"Hemmmm. Terus mau kamu apa sekarang?" tanya Yola kesal. Sambil menunduk. Karena kalau membung muka, itu gak boleh. Apalagi terhadap suami.
"Kamu mau pergi kemana? Kamu sedang terluka. Tetaplah disini." titah Rei.
"Disini mau ngapain? Saya lagi ada urusan Rei, maaf."
Diluar. Dokter, security, dan satu orang suster sedang berusaha membuka kunci. Sampai Security itu membawa kunci cadangan.
Rei tidak menjawabnya. Dia hanya mendekat dan lebih mendekat ke dekat Yola. Yola saat itu sudah mentok diujung kasur. Dia duduk sambil menyender.
"Kenapa kamu?" tanya Yola dengan jantung yang berdebar.
"Apa kepala kamu masih sakit?" tanya Rei.
"Tidak. Hanya sebelah pelipis yang terluka saja, yang terasa ngilu dan perih." ucap Yola.
Rei tidak menjawab. Dia hanya mendekatkan wajahnya ke wajah Yola. Tangan kanannya menyentuh dinding tembok yang ada disisi kanan Yola.
"Jangan mendekat Rei!" ucap Yola.
"Apa yang akan dilakukannya? Untung aku sudah memakai masker." batin Yola.
Diluar pintu sudah terbuka.
__ADS_1
"Buka masker kamu!" titah Rei dengan tatapannya yang tajam.
"Oh. Tidak akan." ucap Yola.
"Buka!" titah Rei kekeh.
"Apa kamu sudah mencintaik,?" Yola melotot. Rei membuka masker Yola dengan tangan kirinya. Lalu dia mendekatkan bibirnya ke bibir Yola. Yola terkejut.
"Saya me," ucapan Rei terpotong. Saat suara pintu terdengar terbuka. Rei buru-buru berdiri, dan berjongkok didekat Yola. Seperti seseorang yang sedan memohon.
"Nyonya apa anda baik-baik saja?" tanya Dokter, yang baru saja masuk bersama security dan suster. Sedangkan Rei berdiri dan mengepalkan tangan sambil menatap Yola.
"Saya ingin bilang, kalau saya mencintai kamu." batin Rei. Wajahnya menahan kesal.
"Tidak apa-apa. Saya ingin pergi. Tapi saya dilarang olehnya." ucap Yola yang masih sedikit kaget.
"Kalau begitu, pergilah! Ini ada suster yang akan membantu kamu." ucap Doter itu.
"Oh iya. Ini kartu nama saya." Dokter memberikan kartu namanya kepada Yola, tapi kartu nama itu direbut oleh Rei.
"Untuk apa? Anda sungguh tidak sopan. Dia istri saya." Rei membentak Dokter. Namun, Dokter tadi menyikapinya dengan sangai.
"Kalau begitu berikan kembali kartu nama saya!" ucap Dokter. Rei memberikannya.
"Yolanda? Nama anda sungguh sangat indah. Semoga anda mempunyai kesabaran yang lebih untuk menghadapinya." Dokter melirik Rei.
"Iya Dokter. Sini Dok, kartu namanya." Yola sengaja melirik Rei.
"Apa anda mau menyimpannya?"
"Tentu." Yola menerima kartu nama tersebut. Rei hanya berdiri mematung, dengan mimik kesal.
"Dokter gak usah melirik suami saya. Dia tidak akan cemburu. Karena dia tidak mencintai saya. Saya permisi! Terimakasih Dokter!" ucap Yola sambil berjalan ke belakang Rei. Suster menuntun Yola berjalan keluar.
Ketika Security dan Yola sudah keluar. Rei dan Dokter yang masih didalam saling menatap.
"Apa yang anda inginkan?" tanya Rei memegang bahu Dokter.
"Keadilan untuknya." jawab Dokter dengan santai.
"Keadilan apa?"
Dokter melepaskan tangan Rei.
"Bisa sambil duduk?" tanya Dokter sambil melepaskan tangan Rei dibahunya. Rei hanya mematuhinya.
"Keadilan untuk dia. Dia sepertinya sangat bersabar menunggu anda mencintainya. Jika cintanya tidak terbalaskan oleh anda. Maka saya yang akan membalasnya. Dan itulah keadilan untuknya." ucap Dokter. Rei yang tidak terima dengan ucapan Dokter, hanya tersenyum sinis.
"Saya mencintainya. Jadi, anda cari wanita lain saja. Dia sedang salah faham kepada saya. Sudah saya bilang kan tadi?" Rei menjelaskan dengan terburu-buru.
"Baiklah! Anda bisa keluar!" titah Dokter.
"Terimakasih anda sudah mengobati dan membantu istri saya. Maaf, jika sikap saya terlalu berlebihan." ucap Rei.
"Ya." Dokter merapatkan bibirnya. Rei pergi keluar.
__ADS_1
"Mana mungkin? Ada dua orang yang tinggal satu rumah dengan waktu beberapa bulan. Sedangkan tidak ada rasa yang tumbuh dalam diri mereka. Kecuali, masing-masing dari mereka memiliki pasangan. Itupun kebanyakan dari mereka, pasti sama-sama terjerat cinta." batin Dokter, menggelengkan kepalanya.