
Saat Yola memutuskan untuk pergi ke rumahnya, membawa ganti baju dan pistolnya. Rei memlilih untuk pergi ke Pantai.
Dipantai
Suara ombak malam terdengar cukup keras. Rei saat berdiri dilinggir Pantai, benar-benar terlihat sangat berkharisma. Ketampanannya tersorot oleh cahaya bulan yang sangat terang.
Tiba-tiba, dia melihat cahaya berjalan kelap-kelip menyusuri deretan perahu. Karena penasaran, dia mencoba mendekati cahaya itu. Karena cahaya itu, berjalan. Dia sedikit berlari untuk mengejarnya.
Setelah dilihat dari kedekatan, ternyata dia cahaya itu berasal dari alat yang dibawa oleh seorang pemulung.
"Hey, tunggu!" Panggil Rei kepada pemulung itu. Pemulung itu berhenti. Buru-buru Rei menghampirinya.
"Astagafirullah!" Rei tercengang.
"Kenapa anak kecil seperti kamu bisa berjalan selarut ini?" tanya Rei memegang bahu anak kecil yang berusia sekitar 11 tahun. Sambil sedikit membungkukan badannya, mensejajari tinggi anak kecil itu.
"Maaf pak." Anak kecil itu menggerakan bahunya, mengingkirkan tangan Rei.
"Saya tidak kenal bapa siapa dan bapa gak usah asing jika melihat anak seusia saya ditempat lain jika mereka berjalan selarut ini untuk mencari barang bekas." Anak kecil itu berbicara seperti orang ketakutan dsn terburu-buru, tanpa ada titik koma.
Rei tersenyum
"Apa masih punya keluarga?"
"Masih tapi ibu dan bapa sudah bercerai sku ikut ibu bapa pergi ninggalin kita karena kita hidupnya kata ibu susah jadi aku harus kerja maaf pak saya harus segera pergi bapa pakaiannya rapih dan sangat tamapan semoga bapa bukan penculik heuu" Anak itu ketakutan dan akan menangis
"Tidak, tidak. Janganlah kamu menangis! Kamu bisa pulang sendiri?"
"Bisa bisa"Sambil akan pergi anak itu menaikan karung yang digembolnya. Namun, Rei menariknya.
"Ibu tolooooong! Bapa janagn culik saya kasihan ibu" Anak itupun menangis
"Nggak. Sialhkan kamu pergi. Dan titip ini buat ibu kamu ya! Jangan dibuang!" Rei mengambil uang dengan asal dari dompetnya.
"Jadi bapa bukan orang jahat?"
Rei tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Terimakasih pak semoga bapa dan keliarga sehat terus sabar dalam menghadapi ujian hiduppak bapa sku pergi dulu" Anak itu pun berlari dan memasukan uang tersebut ke dalam karungnya.
__ADS_1
Rei mengerutkan alis.
"Apa ibunya mengajarkan dia kata-kata itu? Sungguh sangat dewasa. Ujian hidup memanglah berat. Seperti yang sedang saya hadapi." batin Rei sambil menatap kepergian anak kecil tersebut. Dan hanya terlihat lampu nya yang mulai samar.
Dirumah
Yola baru saja datang, dia memarkirkan mobilnya dan buru-buru masuk ke dalam dengan keadaan kepalanya yang mulai terasa semakin sakit.
"Bagaimana ini? Sepertinya saya tidak sanggup, jika harus pergi malam ini juga? Apa pagi-pagi aja ya? Kepala saya terasa sakit sekali." ucap Yola yang pelan-pelan menaiki tangga. Tangan satunya memegangi kepala, sedangkan yang satunya memegangi kunci mobil sambil pegangan ke pagar tangga.
Ketika sampai dikamar, dia langsung mengunci pintu kamarnya. Lalu menyalakan Ac, dan langsung membuka hijabnya.
Terlihat jelas kecantikannya. Rambutnya yang masih disanggul, membuat lukanya terlihat jelas.
"Ya Allah. Pantes saja sakit dan ngilu, ternyata darah dari bekas jahitannya rembes lagi." ucap Yola. Kemudian Yola pergi untuk mencuci muka dan menggani pakaian.
"Setelah bersih-bersih, saya akan membersihkan luka ini dulu dan nanti saya harus menghubungi Rafael. Saya benar-benar gak kuat kalau harus pergi malam ini juga." ucapnya sambil mengambil handuk.
Dreeeeet dreet dreet
Dreet dreeet dreet
"Loh? Astagfirullah. Bagaimana ini? Tuan Hans menelpon?" batinnya kaget sambil memegang hp Azka yang tadinya ada didalam tas.
Hp itu karena terus bergetar, disimlannya dibawah kasur. Bahkan langsun dinonaktifkan oleh Yola.
"Saya harus menonaktifkan hp ini. Kalau tidak, Tuan Hans yang licik itu bisa mendeteksi keberadaam saya." ucap Yola. Diapun berlari ke kamar mandi.
Disebrang sana, Hans dan ajudannya baru saja turun dari Pesawat. Wajahnya terlihat kesal, karena telponnya tidak dijawab oleh Azka.
"S***. Dimana dia? Saya sampai harus izin ke Rekan besar saya, hanya untuk menemuinya. Dia bilang, keberadaan keluarga Melinda sudah ditemukan. Awas saja jika dia sampai berbohong." umpatnya kesal.
"Kenapa Tuan?" tanya Ajudannya.
"Untuk apa kamu ingin tahu?" tanya nya.
"Maaf tuan, hanya karena tuan melamun. Anda salah membawa koper." ucap Ajudannya yang dikanan kirinya sudah membawa dya koper.
"Ya Tuhan, punya siapa ini?" Hans teriak sambil melemparkan koper make up yang dia salah bawa.
__ADS_1
"Maaf tuan, tadi tuan turun duluan. Dan saya lihat , koper tuan masih belum dibawa. Makanya saya membawanya." ucapnya sambil melirik kedua koper ditangan kanan kirnya.
"Jadi, mereka mentertawakan saya hah?" Hans kesal. Melirik sinis orang-orang yang menatapnya dan metertawakannya.
"Lupakan tuan! Ini kita akan langsung ke Manission atau bertemu Azka?" tanya nya.
"Besok pagi kita temuin dia! Saya lelah, dia juga gak jawab telpon saya." ucapnya.
Waktu menunjukan pukul 00:30
Terlihat Yola, yang sudah tertidur nyenyak. Sedangkan Rei, baru saja pulang. Dia akan memarkirkan mobilnya.
"Loh? Berarti dia tadi pulang duluan, untung aja tadi saya gak mengejarnya. Kirain, dia akan pergi lagi." Batinnya mengerutkan kedua alisnya.
Lalu Rei masuk, dan mengunci pintu rumahnya.
"Huh. Setahun lebih saya gak ngerasain indahnya Pantai. Terakhir bersama kamu Sarah. Hemm. Ditempat dan dengan cerita yang berbeda, tidak merubah rasa dingin angin Laut ternyata." ucapnya sambil bersiap-siap mencuci muka.
Beberapa menit setealh itu, dia merasa sangat lapar. Perutnya terasa sangat sakit. Minum teh hangat diPanti tadi, tidak membuat perutnya kenyang.
Karena rasa lapar yang gak tertahan, akhirnya dia memutuskan untuk membangunkan Yola.
"Maaf Yol, jika kamu harus saya bangunkan. Saya benar-benar lapar. Jika saya gak makan, maag saya pasti kambuh. Besok saya banyak kerjaan dan harus meeting dikantor." batinnya sambil menaiki tangga.
Rei beberap kali mengetuk pintu kamar Yola. Namun, belum ada jawaban. Tapi dia mengetuknya lagi. Karena terganggu, akhirnya Yola membuka matanya.
"Siapa ya?" Teriak Yola dengan malas.
"Yol, buka pintunya! Saya lapar" teriak Rei, menyender di pintuckamar Yola sambil memegangi perut.
"Rei?" Spontan Yola kaget.
"Tunggu! Tunggu ya! Kamu ke bawa aja duluan!"
"Saya nunggu kamu!" ucap Rei.
Yola yang masih agak pusing, langsung cuci muka. Lalu dia yang memakai celana dan baju tidur panjang langsung memakai kaos kaki. Biar simple, dia memakai french khimar yang panjangnya hanya sebawah dada, agar dia tidak usah memakai cadar. Untuk menutupi matanya yang baru bangun tidur, dia memakai kacamata. Tidak lupa, mengoleskan lipblam merah bata pada bibirnya.
"Rei? Kamu jangan nyender dipintu ya! Pintunya mau saya buka!" ucap Yola yang sudah memegang gagang pintu.
__ADS_1
"Ya!" ucap Rei dan berpindah menyender ke tembok.