
Waktu menunjukan pukul 20:25 WIB.
Terlihat diruangan pribadi Hans. Dia terus menatap tajam Azka.
"Apa yang harus saya jelaskan? Dia pasti menghukum Laura karena kematian Salma." batin Azka.
"Kenapa kamu diam? Dimana Salma?" tanya Hans.
"Tuan? Salma," Belum selesai Azka berbicara dengan terbata-bata. Tiba-tiba Chat masuk ke Hp Hans. Dia melihat nomor yang tadi menelponnya.
"Nomor itu lagi?" batin Hans, dan memicingkan matanya ke arah Azka. Lalu dia membuka chatnya.
Devan mengirimkan foto Laila yang sedang brsama Dimas, dengan caption "Tuan Hans, itu adalah foto Istri Sah anda dan Anak Laki-lakinya. Namany Muhammad Dimas Edward. Edward diambil dari nama belakang anada, Hans Edward."
"Laila?" Hans kaget. Begitupun dengan Azka.
"Anak ini?" Hans menzoom foto bagian Dimas.
"Muhammad Dimas Edward. Nama yang bagus, wajah dan tubuhnya benar-benar mirip sepertiku." ucap Hans. Tiba-tiba hidungnya memerah. Tak lama air matanya menetes. Lalu dia membuka kacamatanya.
"Kamu benar ka. Laila dan anak laki-laki saya masih hidup. Mereka ada disini." Hans menghapus air matanya.
"Tapi, dimana Salma?" Hans mengedip-ngedipkan matanya.
Tiba-tiba
Tring tring tring
Panggilan Video Call masuk dari nomor tersebut. Hans dan Azka kaget.
Sekaligus, panggilan Video Call itu terhubung dengan empat nomor. Yaitu, nomor Devan, Hans, Dimas, dan Revan.
Merekapun serentak menjawabnya. Dan mereka saling terkejut. Ketika melihat wajah mereka yang berada dalam satu panggilan. Berbeda deng Yola, yang terlihat biasa saja.
Mereka semua terfokus kepada sosok Seorang pria yang memakai baju serba hitam. Dengan topeng yang menutupi setengah wajahnya. Benar-benar terlihat sangat tampan.
__ADS_1
"Ya Allah, semoga lancar Rafael." batin Yola. Lalu dia mendekati Laila yang masih tertidur dikasur. Sedangkan Dimas bersama Rei menatap serius layar di hpnya.
"Oke. Selamat malam untuk kalian semua.
Pertama, kalian gak usah takut, karena saya bukanlah orang jahat. Saya salahsatu bagian dari tim detektif yang akan membongkar satu kasus. Dan kasus itu, ialah kasus pembunuhan seorang wanita.
Namun sebelumnya, kalian pasti bertanya-tanya. Kenapa saya sampai harus menyekap beberapa orang dari kalian. Dan jawabannya, itu salahsatu misi kita untuk memecahkan kasus ini. Dan saya mohon, selama saya berbicara. Tolong, jangan ada yang bertingkah.
Ada beberapa orang yang harus menyaksikan panggilan ini. Diantaranya, Hans Edward, Azkafaiz, Putri Melinda, Laura Edward, dan Dewa Edward. Bagimana Tuan Hans? Apa kalian sudah berkumpul?" tanya Rafael, sambil berbisik ke Devan. Agar dia terus memantau lokasi keberadaanya. Bagaimanapun Hans, tetaplah Hans. Mafia yang licik.
Dimas dan Rei yang mendengarnya sangat kaget. Mereka bertanya-tanya. Nama panjang dari mereka semua, yaitu Edward.
"Edward?" tanya Dimas melirik Rei. Namun, Rei mengisyaratkan agar Dimas mengikuti aturan Detektif tersebut.
"Tunggu!" ucap Hans, sambil berjalan kencang dan dibuntuti oleh Azkafaiz. Dia menuju ruangan dimana, Melinda, Dewa, dan Laura berada.
"Sudah." ucap Hans kembali.
"Emm. Emmm." Terlihat Melinda dan Laura, mengisyaratkan agar Hans dan Azka membuka kain penyumpal mulutnya. Sedangkan, Dewa menatpnya dengan sinis.
"Sudah lengkap." ucap Revan.
"Ohhhh." Batin Dimas dan Rei, mereka saling menatap. Saat mengetahui identitas keluarga Revan. Karena selama ini, mereka kesulitan untuk mengetahuinya.
"Selanjutnya, Laila Abdimanaf, Muhammad Dimas Edward, dan Reicard Putra Alexandar." ucap Rafael.
"Haaaahhh" semua orang kaget, saat Rafael mengucapkan nama belakang Dimas. Sedangkan Hans, terharu mendengar suara putranya.
Rei dan Revan malah bertanya-tanya, kenapa nama Yolanda tidak disebutkan.
"Baik. Semuanya sudah lengkap. Saya akan memberitahukan kasus pembunuhan, yang sebenarnya terjadi.
Jadi, Pembunuhan ini, terjadi sekitar 6 bulan yang lalu. Gadis ini di bunuh di Hotel mewah Jakarta yang bernama Hotel A, dengan CEO nya yang bernama Reicard Putra Alexandar.
Saat itu, korban dan satu temannya yang identitasnya tidak diketahui, menyewa kamar tersebut. Menggunakan KTP korban.
__ADS_1
Mereka menyewa Hotelnya selama satu malam. Dan hari esoknya Resepsionis Hotel, bertanya-tanya kenpa penyewa kamar yang menempati kamar nomor 11 lantai 4, belum memyerahkan kuncinya. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 11 siang.
Karena takut terjadi sesuatu, Resepsionist tersebut menyuruh salahsatu petugas untuk mengeceknya.
Beberapa menit kemudian, petugas tersebut mengetuk-ngetuk pintu. Namun, tidsk ada jawaban. Karena penasaran petugas mendobrak pintu tersebut, dan dia sangat kaget sambim berlari dan teriak.
Tidak lama kemudian, petugas, security, dan beberapa orang Polisi memasuki kamar tersebut.
Disana terlihat, korban sudah meninggal. Dengan keadaan, dia tergeletak dilantai, semua badannya sudah kaku, dan dari mulutnya mengeluarkan busa yang sangat banyak.
Hanya secara singkat saja, saya menceritakan kasus ini. Dan perlu kalian tahu, bahwa kasus ini masih belum terungkap. Karena CCtv Hotel yang sudah dimatikan. Bukti-bukti juga tidak bisa diperganggungjawabkan.
Selanjutnya, kalian pasti bertanya identitas korban. Dia adalah, seorang gadis Mahasiswi dari Kampus ternama di Kota Jakarta.
Banyak tuduhan, bahwa gadis ini dibunuh oleh calon suaminya. Yang bernama Revan Davidson. Benar begitu, Pak Revan?" tanya Rafael. Revan hanya mengangguk, sambil beberapa kali meneteskan air mata. Sedsngkan Dimas sudah mengepalkan tangan.
Namun, tuduhan itu sangatlah salah. Kenapa? Karena, terbuhunnya Mahassiswi tersebut adalah rencana dari nyonya Melinda, dan kedua anaknya yaitu Dewa dan Lauran.
Dengan alasan, jika Revan sampai menikah dengan gadis ini. Maka jabatan Revan sebagai Presedir di Perusahaanya akan dinaikan menjadi seorang CEO. Bagaimana dengan Laura? Dia cemburu kepada gadis ini, karena Laura mantan kekasih dari Revan.
Salahsatu alasan, kenapa Revan tidak jadi menikah dengan Laura. Karena, Revan baru mengetahui bahwa dirinya merupakan saudara tiri Laura. Anak dari pernikahan antara Tuan David dan Nyonya Karina. Kalian menikah secara agam. Betul begitu?" tanya Rafael.
"Ya. Benar sekali," ucap David mengangguk-anggukan kepala. Sedangkan, mereka bertiga sudah ketakutan.
"Bagaimana dengan keluarga korban? Dia adalah anak tiri sekaligus Kakak tiri, dari Nyonya Laila dan Saudara Dimas. Dan gadis itu bernama Putri Salma." Sontak Hans melotot dan kaget.
Rafael melanjutkan pembicaraanya.
"Putri Salma? Itu adalah nama yang diberikan oleh Laila. Sengaja dia menyembunyikan identitas gadis itu dari semenjak Laila, pergi dari Manison Hans. Saat dia mengetahui bahwa Hans menikah siri dengan Melinda. Dan saat itu Hans kembali Murtad. Nama aslinya, Salma Edward."
"Tidaaakk. Gak mungkin. Gak mungkin dia sudah meninggal." Hans tersungkur lemas. Sontak semuanya kaget.
Sedangkan Dimas dan Rei hanya terdiam, melongo. Dimas tidak menyangka bahwa Salma saudara tirinya.
Yolanda sendiri, dia pura-pura tidak tahu. Dia masih berada dikasur menemani Laila. Sesekali, dia melirik suaminya.
__ADS_1
"Inilah kebenaran. Kamu sudah salah sangka kepada Revan, Rei. Kamu harus minta maaf." Batin Yola.