Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Pingsan apa Tidur?


__ADS_3

"Oh iya. Kenapa chat dari Rafael disematkan ya?" batin Rei, sambil membuka isi chat dari Rafael.


"Tim aman Yol. Kamu udah otw belum?" chat terakhir dari Rafael dibaca Rei.


"Oh. Jadi pria tadi itu Rafael. Saya harus bertemu dengannya. Agar saya tidak bersu'uzan lagi." batin Rei. Dia langsung menelpon Rafael.


"Iya Yol. Kamu dimana?" Suara Rafael.


"Rafael? Ini saya, saya dan Yola sudah di Taksi untuk pulang ke rumah."


"Pak Reicard?" Rafael kaget.


"Yola pingsan, tadinya dia mau bertemu sama kamu. Dan tolong kamu ke rumah ya. Nanti saya kirim alamatnya."


"Bagaimana dengan tim saya pak? Saya gak mungkin ke rumah. Pak Revan belum menerima berkasnya."


"Saya tahu. Ajak tim kamu ke rumah sekalian."


"Iya pak. Tapi, bagimana dengan Bu Laila apa sudah sadar pak?"


"Sudah. Apa yang kamu lakukan?"


"Maaf pak. Saya bingung untuk membawa bu Laila. Saya dan Yola menjemputnya, dan kita membohonginya. Kita bilang, Dimas dalam bahaya. Tidak lama, kita menyuntikan obat tidur dan membawanya ke Apartemen saya pak."


"Oh jadi itu Apartemen kamu." tanya Rei.


"Iya pak."


"Saya tunggu kalian dirumah ya!" ucap Rei dan mematikan telponnya.


"Syukurlah, jika Yola bersama Pak Rei." ucap Rafael. Tiba-tiba, dia teringat kepada sosok Laura.


"Laura? Apa ini? (Rafael mengusap kepalanya dengan kasar). Kenapa saya kepikiran wanita itu? Tidak seharusnya saya mengingat dia, wanita yang beran membunuh." batin Rafael yang masih terlihat gelisah.


"Kenapa Raf?" tanya Devan yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


"Oh nggak. Tadi saya nelpon Yola Dev, yang jawab Pak Reicard. Katanya Yola pingsan dan mereka menuju ke rumahnya. Kita semua disuruh kesana." Sebari membereskan Laptop dan lembaran-lembaran kertas dimejanya.


"Apa kamu menolaknya?" Devan menyelidiki raut muka Rafael yang seperti menahan kecewa.


"Nggak. Kita akan kesana. Kasusnya kan sudah selesai, kita jelaska saja ke Pak Reicard." Kembali menatap Devan.


"Bagaimana perasaanmu kepadanya?"


"Saya tahu perasaan sekarang, ini hanya sebah obsesi untuk sekedar ingin memeiliki. Belum sampe ke perasaan cinta. Lagian saya gak mungkin merusak rumah tangga orang. Wanita masih banyak Dev. Come on!" ajak Rafael yang duluan mengajak anak-anak keluar untuk pergi.


"Saya bangga kepadamu Raf. Benar-benar tulus dan profesional untuk memecahkan kasus ini. Papa kamu sebagai Pengacara pasti bangga punya anak seperti kamu." batin Devan sambil menatap punggung Rafael yang sudah berlalu


Sementara di Manision Hans


Terlihat Azka yang sedang mengobrol bersama orang tua nya. Dia menatap sendu Laura yang berjalan menjauh dam terus menggenggam tangan Hans.


"Maafkan saya Ra, saya tahu kamu tidak mungkin mencintai saya. Kemarin, kamu hanyalah merasa kesepian. Saya tahu itu, tapi saya senang. Setidaknya, hati saya sudah sedikit puas. Penantian yang bertahun-tahun ingin memeiliki kamu terwujud juga. Walaupun itu tidak sepenuhnya.


Saya salah, benar-benar salah. Harusnya saya tidak terobsesi untuk memiliki kamu sejak dulu. Mungkin kamu masih bersama Revan. Setelah saya berkumpul dengan orang tua saya. Saya akan pergi jauh Ra. Hubungan kita cukup sampai disini saja." batin Rei.


Ketika Laura dan keluarganya sudah pergi untuk bertemu Dimas. Tiba-tiba, dia teringat kepada Yola.


"Kenapa kamu Ka? Apa kamu tidak bahagia melihat kami bebas?" tanya Ibu nya yang bergantian melirik Azka dan suaminya bergantian.


Azka tidak menjawabnya, dia langsung memeluk kedua orang tuanya itu.


"Azka, rindu kita kumpul bareng bu, pak." Merka bertiga meneteskan air mata.


"Maafkan bapa ka. Kalau bapa tidak ada hutang ke Tuan Hans, pasti kita tidak akan dikurung. Dan dia tidak akan membawa aset sawah dan kebun kita." Bapak berusaha menyeka air matanya.


"Sudahlah pa. Bapa berhutang untuk menghidupi Azka dan adik-adik. Oh iya pak, setelah ini Kita akan pulang ke kampung lagi kan?" Azka melepaskan pelukannya.


"Tentu ka. Kita akan kumpul lagi disana." Ibunya mengusap kepala Azka.


"Bu, biarkan saya pamit ke Tuan Hans dan ke Pak David dulu bu."

__ADS_1


"Siapa pak David?" Orang tua nya saling berpandangan mereka bertanya-tanya.


"Bertahun-tahun kita tidak serumah, Azka tinggal sama Pak David bu. Nanti Azka ceritakan ya. Ayolah ikut Azka, kita makan yang enak-enak. Azka masih ada banyak tabungan." Azka menggandeng tangan kedua orang tuanya.


"Azka ini jam berapa? Sudah sangat larut malam. Kita akan tidur dimana?"


"Dikota ini banyak sekali penginapan bu. Pak David juga sangat Dermawan, dia memberikan Azka satu Apartemen." Azka merangkul pundak ibunya yang berusia sekitar 50 tahun itu.


Taksi berhenti dirumah kediaman Rei dan Yola. Saat itu, Rei terengah-engah menggendong Yola untuk masuk ke dalam rumahnya. Namun, karena merasa ada pergererakan. Yola terbangun dari pingsannya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya


"Perih sekali mata ini. Alhamdulillah, udah bisa melihat jelas lagi. Kenapa pandangan tadi tiba-tiba gelap? Ini baru pertama kalinya aku seperti ini. Apa ini yang namamya pingsan?" batin Yola.


"Eh kok, apa ini? Baju? Jas? (Yola menengadahkan wajahnya) Reii?" teriak Yola. Rei yang mendengarnya kaget.


"Apa yang kamu lakukan Rei? Turunkan saya Rei? Saya bukan wanita lemah." Yola berusaha turun dari pangkuan Rei.


"Maaf." Hanya itu yang terucap dari mulut Rei, sambil menurunkan Yola. Namun, karena belum bisa menyeimbangkan tubuhnya Yola hampir terjatuh. Tak sengaja, Rei memegang pinggang Yola.


"Eh ehhh ehhh. Gak apa-apa, gak apa-apa." ucap Yola sebari menyeimbangkan badannya.


"Maaf Rei? Apa tadi saya pingsan?" Yola menyender ditembok.


"Ya." Rei menyelonjorkan kakinya.


"Maaf Rei. Tadi tiba-tiba nafas saya engap, pandangan gelap, terus tubuh saya sangatkah berat. Mungkin saya langsung terjatuh tadi. Saya benar-benar gak sengaja Rei. Maafkan saya udah ngerepotin kamu Rei. Pasti kamu capek ya gendong saya?" Yola menatap ke arah depan.


Merasa tidak ada yang nyautin, Yola melihat ke bawah ke arah Rei.


"Rei? Apa kamu kelelahan?" Yola kaget, dia langsung mengangkat lembut wajah Rei yang menunduk dengan matanya yang sudah terpejam.


"Waduh. Pingsan apa tidur nih? Rei? Rei?" ucap Yola dan mencoba membangunkan Rei. Tapi karena tidak ada jawaban, tanpa sengaja membawa wajah Rei ke dalam pelukannya.


"Hp? Mana hpku?" Yola mencari hpnya, namun disakunya hanya ada pistol. Lalu dia meraba saku jas yang Rei kenankan.


"Ini dia. Rafael? Astagfirullah." Yola melihat chat dari Rafael.

__ADS_1


"Pak, mohon maaf. Ini saya dan teman-teman sepertinya besok kita ke rumah bapa nya. Ini kita masih makan malam pak, gak enak sama Yola pak, sudah malam." Chat dibaca Yola.


Tak pikir panjang dan banyak bertanya, Yola hanya membalas chat Rafael dengan kata iya. Lalu dia menelpon Pak Maman untuk membantu Rei masuk ke dalam.


__ADS_2