
Seorang wanita berusia sekitar 38 tahun sedang menggerak-gerakan tangannya. Kaki dan tanganya terikat, sedangkan mulutnya tertutup oleh lakban. Siapa lagi kalau bukan Melinda? Tim nya Devan berhasil menculiknya.
Dia terikat tanpa menggunakan kursi, sehingga dia bisa guling-guling dilantai untuk mencoba melepaskan ikatan. Ruangan tempat dia disekap, persis berada disebelah ruangan lantai atas dimana Laura disekap.
Penculikan itu dilakukan bersamaan menculik anaknya, yaitu Dewa. Hanya saja, Dewa berada diruangan lain. Tepatnya lantai bawah, bersebelahan dengan ruangan Azka.
Ditempat parkir yang sudah tak terawat, penuh sekali daun-daun kering, debu, dan sarang laba-laba. Wajar kotor seperti itu, karena itu Apartement yang sudah lama tidak ditempati, benar-benar sangat terbengkelai.
Saat itu, Rafael baru saja memarkirkan mobilnya disana. Lalu, Yola dan Devan turun. Begitupun dengan dirinya yang langsung turun membuntuti kedua temannya tersebut.
"Raf, kamu mau ke lantai berapa dulu?" tanya Yola yang tiba-tiba menengok ke bekalang, ke arahnya.
"Saya akan langsung ke lantai atas. Kamu biar sama Devan saja dibawah. Saya akan berlari menaiki tangga itu." ucap Rafael. Sebari membenarkan topeng yang akan dipakainya. Berbeda dengan Devan dan Yola yang sudah memakainya saat dimobil.
"Baiklah." ucap Yola.
"Apa diruangan Azka dan Dewa sudah disediakan Laptop?" tanya Rafael lagi.
"Sudah, tim saya tidak ada ujian di kampus. Jadi, mereka mempersiapkannya pagi tadi. Usai penyekapan ibu dan anak itu." Devan menjelaskan.
"Nice, semoga misi berjalan baik. Saya ke atas dulu." Rafael berlalu meninggalkan Yola dan Devan.
Mereka pun berjalan berdua, menyusuri lantai dasar dengan melewati beberapa kamar kosong Apartemen tersebut.
"Yol? Sepertinya kebenaran bisa diungkap malam ini." ucap Devan.
"Memangnya kenapa?"
"Kita tidak bisa lama-lama menyekap mereka. Apartemen ini sungguh sangat kotor. Bagaimanapun kita harus menjaga kesehatan mereka. Ingat Yol! Tujuan kita itu, mengungkap kebenaran bukan menyiksa mereka." tutur Devan.
"Kalau begitu, mau gak mau tim kalian, harus menyekap Tante Karina dan Revan juga."
"Untuk apa? Bukankah mereka orang baik?"
"Memang, tapi bagaimana kita akan mengungkap kebenaran jika mereka saja tidak ikut gabung di VC malam ini? kebenaran harus disaksikan oleh semuanya."
"Maksudnya kamu akan mengancam Tuan David agar bisa ikut bergabung di VC juga? Caranya dengan menyekap Nyonya Karina dan Revan juga? Sama seperti kamu akan mengancam Tuan Hans?"
__ADS_1
"Nah, betul sekali. Jika tidak seperti itu, bagaimana caranya kita mengundang mereka berdua?"
"Benar juga. Lalu bagaimana dengan Dimas dan Bu Laila?"
"Saya akan mengurus mereka." ucap Yola.
"Apa mereka akan menyaksikan kebenaran?"
"Tentu saja."
Karena keasyikan mereka mengobrol, mereka sampai tidak sadar. Kalau mereka sudah berada dipenyekapan Azka.
"Kenapa kamu tidak bisa dihubungi, Dev?" tanya temannya yang menjaga ruangan tersebut.
"Saya baru saja selesai ujian english. Terus langsung kesini." ucap Devan kepada mereka bertiga yang menjaga ruangan Azka.
"Apa Azka dan Dewa sudah makan?" tanya Yola.
"Sudah. Itupun saya paksa." ucap salahsatu temannya.
"Loh? Bagaimna caranya? Apa kamu menyuapinya?" tanya Yola.
"Jangan gegabah! Bagaimana jika dia memberontak?"
"Haha. Kamu tidak tahu apa yang saya lakukan terhadapnya." temannya menaikan kedua alisnya.
"Bagaimana?" tanya Devan.
"Tangan kirinya saya ikat ke kursi. Tangan kanannya biar dia gunakan untuk makan."
"Hus. Bagaimana jika tangan kanannya membuka ikatan tangan kiri dan kakinya?"
"Saya mengarahkan pistol kepadanya." Dengan santai temannya itu menjawab.
"Bagaimana dengan Dewa?" Devan menaikan sedikit rahangnya.
"Belum saya kasih makan, dia kan baru saja disekap sekitar jam 10an tadi. Tadi sih belum sadar dia." jawab temannya, yang hanya direspon dengan anggukan Devan.
__ADS_1
Yola pun berlalu, masuk ke ruangan tempat dimana Azka disekap. Sedangkan, Devan masuk ke ruangan Dewa.
Didalam ruangan Azka.
Yola yang baru saja masuk, melihat Azka yang sedang tertidur dengan kepala menunduk. Ntah kenapa, hati Yola tiba-tiba ingin menangis. Bahkan air matanya lebih dulu menggenang, sebelum ada perasaan ingin menangis.
"Astagfirullah! (Yola mematung, menatap Azka)
Azka? Aku selalu ingat, bahkan sekarang aku mengingatnya. Waktu dimana, kita pertama kali bertemu. Aku sedih bukan main, tapi aku marah pun bukan main. Benar memang perkataan mereka, bahwa cinta karena nafsu membuat orang lupa segalanya.
Aku sangat kesal, saat kamu berhianat ka. Alu tahu, mungkin tadinya kamu gak akan mengungkap semua kebenaran itu kepadaku. Hanya saja, pistol yang aku arahkan saat itu membuat kamu takut.
Takut kamu mati konyol. Sebelum kamu bertemu dengan orang tua kamu, sebelum kamu terbebas dari ancaman Hans, dan mungkin. Maaf jika aku suzzan, dan mungkin saat kamu belum mengungkapkan rasa cinta kamu kepada Laura.
Azka? Aku benar-benar minta maaf. Dan sebagai rasa terimakasih aku kepada kamu. Aku akan meminta tiga hal kepada Hans. Dua dari ketiga permintaan itu, aku akan khususkan buat kamu. Yang udah mengungkapkan semuanya ka.
Setelah ini, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan. Tapi aku gak pernah tahu, apa yang akan dilakukan Hans saat tahu kalau Laura, Dewa dan Melinda telah membunuh Salma.
Azka? Kamu tahu? Sekarang yang membantu aku itu Rafael, aku sudah banyak cerita dengannya. Semoga dia ikhlas membantu dan tidak menghianatiku ka.
Harusnya, sekarang aku bercerita sama kamu. Dan harusnya kamu tidak disekap seperti ini. Tapi maaf ka, ternyata itu hanya pemikiranku saja. Nyatanya semua berbeda.
Kak? Bukankah aku seorang wanita yang kuat dan pemberani? Kamu harus akuin kak (Yola meneteskan air mata yang sudah menggenang dimatanya)
Aku kuat, karena aku melakukan semua ini dengan penuh air mata. Hari-hari ku masih sama seperti hari-hari yang selalu sku ceritakan kepadamu ka.
Aku berani, karena aku mencintai suamiku. Sampai aku akan mengungkap kebenaran ini tanpa kamu kak. Dan," perkataan Yola dalam hatinya terhenti saat Azka menggerakan kursi. Dan menggerak-gerakan kepalanya. Yola pun dengan cepat membuka Lakban yang menutup mulut Azka.
"Siapa kamu?" teriak Azka.
Karena takut ketahuan Yola tidak menjawabnya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu memakai penghalang wajah itu? Kenapa kamu menyekap saya? Untuk apa?" Beberapa pertanyaan dilontarkan Azka. Namun, Yola tetap saja tidak menjawabnya.
"Hey? Saya bertanya kepada kamu, wanita bercadar!" Azka lebih teriak. Namun, Yola hanya merekam video penyekapan Azka. Yang bertujuan akan diberikan kepada Hans. Agar Hans mengangkat VC yang akan diminta oleh Rafael saat mengatakan kebenaran.
Video lebih banyak diambil, terlebih lagi saat Azka teriak-teriak dengan kata-kata kasar mejijian.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Yola membuka Wa yang berada di hp Azka. Lalu dia mencari nama Hans. Dan, mengirimkan video yang telah diambilnya.