Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Program Hamil


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 10:15 lebih Menit


Dikampus


"Raf, tunggu di Parkiran ya! Saya, Devan, sama kamu kan? Ajak Devan sekalian kamu. Jangan sampai Dimas dan Imel tahu ya." Chat terkirim ke Rafael dari Yola.


Lalu dia memasukan alat tulisnya ke tas, dan bersiap-siap pergi. Sedikit, dia melirik Rafael. Begitu juga Rafael yang meliriknya. Sedangkan, Yola hanya berdehm saat melewati kursi Devan. Karena faham dengan isyarat Yola, Devan pun mengajak Rafael keluar kelas.


"Raf, ayo!" Ajak Devan dengan menggerakan kepalanya ke arah luar.


"Yo." ucap Rafael yang menggendong tas nya sambil berlalu menghampiri Devan. Mereka pun keluar kelas dan pergi ke parkiran menunggu Yola.


"Gimana tadi? Lancar gak?" tanya Dimas ke Yola.


"Ya lumayan. Selancar-lancarnya ujian englisj huhu. Kalau kamu mah gak usah ditanya kali Dim, jago inggris. Udah pasti nilainya superrrr."


"Yol? Kamu hari ini mau pergi kemana? Besok kita jadi kajian kan?" tanya Imelda.


"Eh. Mau kajian kemana? Boleh kali saya ikut." ucap Dimas.


"Wah. Kalau dibolehin, saya mau ajak Pak Reicard." batin Dimas dengan niatnya yang terselubung.


"Di Kalibata, Jakarta Timur dim. Ayo kalau mau ikut mah. Kita satu mobil aja, iya kan mel?" ucap Yolanda.


"Betul tuh. Ajak aja mama kamu, Dim."


"Ahhh nggaklah. Kaya gak tahu aja, Ibu kalau udah ketemu kamu merasa keenakan."


"Emang kenapa? Apa Ibu Laila suka sama Imel?"


"Hahaaa. Dia berharap aku jadi mantunya, Yol." ucap Imel, menggelengkan kepala.


"Loh kok bisa sih? Ah beberapa hari gak ketemu, apa kalian sering makan bertiga sama Bu Laila?" Goda Yola


"Ah Imel, mana mau sih Yol. Suka sama saya, pria cupu." ucap Dimas.


"Jangan kaya gitu. Memangnya kamu mau sama aku, Dim?" tanya Imelda tertawa.


"Dimas? Memangnya saya gak tahu. Kamu itu gak cupuk. Kamu Anaknya Hans, keturunan Mafia." Batin Yola menyeringitkan mata.


"Ah. Ini mah aku udah kaya nyamuk disini. Tapi gak apa-apa sih, kalian kan belum halal. Wajar kalau aku ada disini, diantara kalian. Hihi."


"Baiknya Istiharah dulu kita. Saya gak berani nembak kamu, mel. Nanti kamu berdarah lagi." ucap Dimas datar


Yola dan Imel hanya tertawa dibalik cadarnya.


"Betul Dim, fokus dulu aja kuliah kita. Iya kan Yol?"


"Uh, enaknya ya kalau masih single. Hem" Yola terdiam.

__ADS_1


"Sut. Kamu gimana sama Pak Reicard?" tanya Dimas.


"Huhu. Kepo banget. Biasa, pagi-pagi udah bikin kesel. Udah ya, aku duluan. Ingat! Jangan pergi berduaan!" ucap Yola sambil berlalu dan mewanti-wanti.


"Ya hati-hati, Yol." ucap Dimas dan Yola.


Di Hotel mewah Jakarta


Seorang CEO tampan, yang sangat berkharisma baru saja keluar dari ruangan meeting. Dia berjalan dengan seorang Manager.


Memang sudah menjadi kebiasaanya, dia seorang CEO yang rendah hati. Jika berjalan, tidak ingin dibuntuti oleh bawahanya. Dia juga tidak mau, jika dia datang ke Hotel. Karyawan menyambutnya dengan anggukan kepala dan sedikit membungkukan badan.


Sikapnya seperti itu, ketika dia tahu bahwa di islam menanggukan kepala dan membungkukan badan untuk menghormati orang lain itu dilarang.


Mengetahui hal itu, dia merasa bersalah. Karena, awal dia menjadi Seorang CEO. Para Karyawan dan bawahannya selalu bersikap seperti itu.


Dia juga tidak mau, diperlakukan istimewa oleh karyawannya. Tidak mau disanjung berlebihan, dan dia ingin agar karyawannya tidak canggung kepadanya. Walaupun begitu, tetap saja susah. Karena sikap dia yang dingin, jarang ngobrol, dan hanya sesekali tersenyum. Menjadikan mereka semua memilih untuk menjaga jarak dengannya.


Saat itu, dia langsung ke ruanganya bersama Managaer tadi.


"Pak maaf, dokumennya sangat banyak." Pak Manager yang umurnya sekitar 40 tahun, sedikit tertawa.


Dimeja kerja Rei, bukan banyak lagi. Sekitar, ada 3 tumpukan dokumen yang tinggi-tinggi.


"Apa saja ini, pak? Bisa sebanyak ini?"


"Maaf pak, itu ada laporan bulanan tapi sama yang bulan kemarin, kalau yang lainnya Invoice pemasukan dan pengeluaran pak.


"Bapa seminggu yang lalu memang kesini, pak. Tapi bukan untuk ngecek kerjaan pak, bapa hanya pergi dari rumah kan? Terus tinggal disini? Hehe"


Rei memicingkan matanya, membuat Pak Manager seperti ketakutan.


"Gak usah kaku pak! Memang iya, biasalah pak." ucap Rei tersenyum sambil membuka Dokumen.


"Ya gitulah, namanya udah punya istri pak. Saya aja yang nikah udh hampir 12 tahun. Suka cek cok terus. Tapi saya ada rahasianya, biar pas cek cok langsung harmonis lagi." Goda pak Manager.


"Gimana tuh pak?" Rei bertanya sambil menandatangi satu persatu berkas.


"Ya kalau lagi berantem. Peluk aja pak istrinya, atau nggak langsung gendong. Terus bawa ke kamar. Heu heu heu"


"Kamar mana pak?" tanya Rei polos.


"Kamar mayat pak," ketus Pak Manager. Spontan Rei tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya kamar tidur lah, kamar mandi juga boleh heuheu" Pak Manager kembali tertawa sambil sedikit merinding


"Kenapa pak? Seperti merinding begitu?"


"Enak pak, hahhaa"

__ADS_1


"Apanya?" Rei mengerutkan dahinya.


"Ah bapa, kan Dosen Biologi masa gak faham hehe. Nafkah batin pak." Pak Manager menutupi wajah dengan tangannya.


"Astagfirullah, kenapa saya baru menyadari perkataanya?" batin Rei.


"Emang iya pak." Rei hanya tersenyum.


"Bapa sudah program anak pak?" tanya lagi Pak Manager. Sambil pura-pura melihat-lihat dokumen.


Rei yang dikagetkan dengan pertanyaan seperti itu, membuat pulpen ditanganya berhenti menulis.


"Jangankan program, menyenyuhnya pun saya belum." ucap Rei tak disadari.


"Apa?" Pak Managaer kaget. Begitu juga dengan Rei yang ikut kaget dan salah tingkah.


"Ya ampun, kenapa harus keceplosan?" Batin Rei.


"Apanya pak?" tanya Rei pura-pura mengalinhkan pembicaraan.


"Oh nggak. Ini, saya lagi lihat invoice pak." Sambil mengangguk-anggukan kepalanya, berpura-pura.


"Oh. Bapa bertanya tentang program anak tadi ya?" Rei tersenyum.


"Oh iya iya pak, gimana udah program?"


"Do'akan saja pak, semoga secepatnya dikasih." ucap Rei serius.


"Aamiin, aamiin pak." Pak Manager menutup dokumen kembali.


"Jam makan siang bapa mau keluar? Kalau mau bareng saya pak,"


"Nggak pak, terimakasih. Jam dua siang saja. Saya sekalian mau bertemu Pak Jonatan."


"Oh. Sahabatnya Pak Alexandar ya?"


"Iya, sahabat papa."


"Yasudah. Saya keluar dulu ya pak." Pak Manager berdiri.


"Oh iya, baik-baik." ucap Rei yang meliriknya sebentar.


Lalu pak manager sedikit berjalan. Namun, malah mematung berdiri.


"Gimana mau punya anak, kalau menyentuhnya saja belum. Ah, laporin ke Pak Alex." batin Pak manager, sambil tersenyum sinis melirik Rei.


"Kenapa pak?" tanya Rei tiba-tiba.


"Eh eh nggak pak, ayo pak." Pak Manager tersenyum.

__ADS_1


"Apa dia mendengar perkataan saya tadi? Ah, pasti mendengarnya. Bagaimana jika sampai laporan ke papah? Dia kan udah lama kerja disini, dekat juga sama papah." Rei memegang kepalanya. Sedangkan Pak Manager sudah keluar dari ruangan Rei.


__ADS_2