
"Di Lampung ada upacara adat pernikahan juga ngga Mak?" tanya Arga
"Ada, di Lampung Saibatin adat pernikahan biasa disebut Nayuh/Penayuhan. Nayuh ini sendiri ada dua macam jenisnya, ada yang pangan debingi, ada juga yang pangan dawah" jawab Ibu Lena
"Maksudnya gimana Mak?" tanya Gita ikut penasaran
"Adat penayuhan debingi biasanya cuma diadakan selama satu hari satu malam. Tapi kalo adat penayuhan pangan dawah, biasanya dilakukan oleh para raja, pemimpin suku, juragan, dan Saibatin itu tadi, dan biasanya diadakan selama tiga hari tiga malam" jelas Bu Lena
"Berarti... Nanti, kalo Udo Bian nikah, penayuhannya bakal pake adat pangan dawah dong?" tanya Gita lagi
"Harus. Di suku Lampung, orang yang akan mewarisi harta, jabatan, gelar dan segala macamnya, itu adalah anak laki laki, apalagi kalau dia anak laki laki pertama"
"Kalau dia bukan anak laki laki pertama?"
"Yang terpenting anak laki laki. Semisal kamu, keluarga kamu adalah keluarga saibatin, dan kamu terlahir empat bersaudara, yaitu kamu, dan dua adik kamu lainnya berjenis kelamin cewek. Terus anak keempat, atau si bungsu ini ternyata cowok, maka yang akan mewarisi segalanya adalah anak laki laki terakhir ini tadi" jelas Ibu Lena detail
__ADS_1
"Oh... " Gita menganggukan kepalanya tanda mengerti. Setelah itu, ia melirik Pak Sutan yang hanya mengangguk, membenarkan setiap penjelasan Bu Lena "Kalau dari Bak sendiri, adat itu seperti apa?" tanya Gita pada Pak Sutan
"Menurut Bak? Bak ini terlahir memang sudah dalam keturunan darah biru. Wihhh sombong ya" kekeh Pak Sutan, yang disambut tawa seisi ruangan "Bagi Bak sendiri, adat dan budaya itu sangat penting. Karena adat dan budaya ini adalah aset bangsa, dan ini harus di lestarikan" jawab Pak Sutan
"Apakah dalam adat Lampung ada sistem perjodohan?" tanya Gita kembali, yang membuat Pak Sutan terdiam.
"Pernikahan itu adalah hak pilih masing masing orang, termasuk di Lampung" jawab Bu Lena, mewakili Pak Sutan yang hanya diam
"Kalau Gita daftar jadi calon mantu Mak, gimana?" tanya Gita tersenyum manis
"Ngga masalah, ya kan Bak?" ucap Bu Lena meminta persetujuan Pak Sutan, dan dijawab anggukan pasti oleh Pak Sutan "Tapi kan Mak ngga punya anak cowok"
"Bian udah Mak jodohkan, dan sebentar lagi mereka akan menikah"
"Di jodohkan? Bukannya kata Mak, ngga ada sistem perjodohan di Lampung?"
__ADS_1
"Ini demi kebaikan semuanya, Mak sudah memilih wanita yang baik dan bisa Mak andalkan untuk mengurus kesaibatinan keluarga ini. Mak masih ada urusan, kalian lanjut saja bicara sama Diana, Mak pamit pergi" ucap Bu Lena, ia segera menggandeng tangan Pak Sutan, dan mengajaknya pergi
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Diana baru bisa mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk. Apalagi jika ia ingat tentang pertanyaan Gita, rasanya ia ingin lari ke dasar bumi. "Nanti siang kita langsung jalan menuju wisata berikutnya. Jadi packing barang dari sekarang ya"
"Wisata berikutnya kita kemana?" tanya Gita
"Nanti kalian tau sendiri. gue balik ke kamar ya, bye"
Setelah kepergian Diana, hanya ada keheningan yang tercipta. Gita melirik Ardan, lalu menggenggam tangannya "Kita keluar yuk, cari udara segar" aja Gita
"Boleh" jawab Ardan, langsung bangkit dengan menggandeng tangan Gita
"Gue ikut boleh ngga?" tanya Arga
"Ngapain lo ikut? Mau jadi nyamuk?" tanya Ardan
__ADS_1
"Gue ngintilin lo berdua aja udah. Atau kalo dibolehin sih, gue mau ikut nguping obrolan kalian" ucap Arga cengengesan
"Ngga usah ngelunjak"