
Tante Rossa keluar dari kamar saat merasa sudah lebih baik. Ia melihat Diana dan Lion yang berjalan beriringan menuju dirinya. Melihat Diana yang membawa tas sudah membuat Tante Rossa mengerti dengan semua ini
"Udah mau pulang?" tanya Tante Rossa
"Iya Tan"
"Yaudah, hati hati ya. Dianter Lion kan?"
"Nggak Tan, aku naik gojek aja, udah pesen soalnya"
"Lo... Kok naik gojek? Emang Lion ngga mau nganterin?"
"Aku udah tawarin buat nganterin Ma, tapi Diana ngotot ngga mau di anterin" ucap Lion membela
"Ngga baik sayang. Kamu kesini buat jenguk Lion, masa pulangnya pake gojek, kamu dianterin Lion aja ya, Tante lagi kurang sehat kalo harus nganterin, tapi Lion kan udah mendingan"
"Tapi Tan..."
"Udah ngga usah sungkan, lagian Lion itu udah kebal sama penyakit. Waktu itu aja dia liburan sama temen temennya setelah semaleman demam, dan dia malah lebih baik setelah pulang liburan. Jadi udah, kamu pulang dianter Lion ya"
__ADS_1
Mendapat paksaan dari Tante Rossa membuat Diana merasa tidak enak jika harus menolak. Akhirnya ia mengangguk dengan terpaksa. Diana dan Lion menuju garasi rumah, dan langsung saja pergi menuju kontrakan Diana. Selama perjalanan keduanya hanya saling diam, tidak ada bahan pembicaraan yang bisa menemani. Hingga akhirnya keduanya tiba didepan kontrakan Diana.
"Thanks ya Kak"
"Iya. Oh iya Dee, gue belum nge-save nomer telepon lo. Boleh minta nomer lo ngga?" Lion menyodorkan ponselnya
"Oh... Boleh kok Kak" Diana segera meraih ponsel Lion, dan mengetikan nomor teleponnya disana. Setelah selesai, ia segera mengembalikan ponsel Lion tersebut "Udah ya Kak, itu sekalian nomer whatsapp juga"
"Iya, thanks"
"Sama sama"
Lion menunggu sampai Diana masuk kedalam rumah kontrakannya. Setelah memastikan Diana masuk, Lion segera melajukan mobilnya kembali menuju rumah. Sekarang, nomor whatsapp Diana sudah berhasil ia dapatkan, hanya tinggal menyatakan perasaan, dan Diana akan menjadi kekasihnya. Memikirkan hal itu membuat Lion mengukir senyum tipis di bibirnya
Diana melirik ponselnya yang berkedip sedari tadi. Ia lantas meraih ponsel tersebut, dan melihat pesan yang masuk ke whatsapp-nya. Melihat nama yang terpampang di barisan paling atas chat nya membuatnya berjingkat riang. Nomor yang sudah sangat lama ia simpan di ponselnya, kini tengah menghubunginya? Ini bagai mimpi yang menjadi kenyataan
"Hai Dee save ya, ini nomer aku, Lion"
^^^"Oh my god, ini beneran kan?" Diana menampar pipinya beberapa kali untuk memastikan bahwa semua ini bukanlah mimpi. Setelah yakin dengan apa yang ia lihat, ia segera memberi balasan pada pesan singkat tersebut ^^^
__ADS_1
Diana terus memantau layar ponselnya, berdo'a dalam hati semoga pesannya terbalas. Namun hingga lima menit kemudian, pesan singkat yang ia kirim tidak kunjung mendapat balasan. Ia memang hanya menjawab dengan kata Iya, tapi seharusnya Lion merespon jawabannya setidaknya dengan emoji atau sejenisnya kan? Bukan malah mengacuhkan pesan yang ia kirim. Merasa benar benar tidak mendapat jawaban, Diana akhirnya menghubungi Gita, dan tanpa menunggu lama, panggilan telah terhubung
"Halo Dee..."
"Lo dimana Git? Gue ganggu ngga?"
"Yaelah, kayak sama siapa aja pake nanya ganggu apa ngga. Kenapa? Mau curhat? Udah ayok langsung, gue tampung curhatan lo"
"Barusan Kak Lion chat gue"
"Terus?"
"Dia cuma minta gue buat nge-save nomer whatsapp-nya dia, dan gue cuma jawab Iya, tapi masa dia ngga balas apapun lagi sih? Bete tau ngga"
"Ya ampun... Jadi karena itu lo bete banget, dan akhirnya curhat sama gue? Udah kali Dee, mungkin Kak Lion lagi ada urusan. Lagian ya, itu udah suatu kemajuan besar tau ngga, Kak Lion udah mulai nge-chat lo, itu artinya dia udah mulai ada rasa sama lo" Ucap Gita
"Masa sih Git"
"Ya iyalah Dee, selama ini emang pernah dia nge-chat lo? Ngga pernah kan?"
__ADS_1
"Boro boro, nge-save nomer gue aja ngga"
"Nah, itu dia. Sekarang dia udah nge-chat lo, itu artinya dia udah mulai ada rasa sama lo"