
Diana menggiling bumbu sop dengan manual. Setelah selesai, ia kembali mendekati Lion yang terlihat sudah siap dengan potongan wortelnya. Diana mendekat, dan melihat dari belakang tubuh Lion, dan sebuah kejutan yang benar benar nyata. Potongan wortel dengan potongan asal, ada yang terlihat terlalu tebal, bahkan ada juga yang terlihat tipis setipis tissue
"Hai Dee, nih wortel-nya"
"Thanks Kak"
Diana mengambil wadah yang berisi wortel tersebut dan membawanya mendekati kompor. Diana memanaskan air, dan setelah mendidih, ia memasukkan bumbu yang sudah ia haluskan sebelumnya. Setelah itu ia memasukan beberapa sayuran yang sudah tersedia.
Diana mencicipi masakannya, dan mengangguk angguk saat merasa rasa masakannya sudah cukup. Ia mengambil lagi kuah sop yang ia buat dengan sendok, dan memberikannya pada Lion. Tanpa kata Lion segera mencicipi kuah sop tersebut, dan ia mengangkat kedua jempolnya tanda bahwa rasanya sudah cukup.
Diana beralih mengambil ikan segar yang sudah ia beli tadi pagi, dan menggorengnya. Diana kembali mengambil cobek batu dan mulai mengulek sambal. Lion hanya melihat bagaimana Diana yang begitu cekatan.
"Kak..."
"Ya?" Lion segera berjalan mendekat
"Bisa ngulek?" tanya Diana
"Ngulek? Ngulek sambal maksudnya?"
"Iya, bisa ngga?"
__ADS_1
"Coba dulu kali ya"
Diana menyerahkan batu ulekan tersebut kepada Lion. Sebelum itu ia memberikan arahan terlebih dahulu pada Lion tentang bagaimana cara menggunakan alat tersebut. Setelah di rasa faham, Diana membiarkan Lion memulai atraksinya. Sedangkan dirinya beralih pada ikan gorengnya yang ternyata sudah matang.
"Gimana Kak, udah siap?"
"Tinggal di cicip sih"
Diana menatap tampilan sambal buatan Lion, lalu ia mulai mengulurkan telunjuknya, dan mengambil sedikit sambal tersebut dengan ujung jarinya. Diana mencicipi sambal buatan Lion. Setelah mencicipnya, ia tidak langsung bereaksi, dan hal itu membuat Lion menatap Diana dengan harap harap cemas.
"Gimana Dee?"
"Seriously?" tanya Lion tak percaya, ia lantas melakukan hal yang sama seperti Diana, mengambil sambal dengan ujung jarinya dan mencicipinya secara langsung "Huek... Asin..."
"Hahahaha"
Diana tertawa puas saat melihat reaksi Lion mencicipi sambal buatannya sendiri. Lion bahkan sampai berlari menuju kamar mandi yang ada di samping dapur, dan memuntahkan isi mulutnya. Setelah selesai dengan aksi pembersihan mulut, Lion kembali keluar dari kamar mandi, dan mendekati Diana
"Kayaknya aku ngga ada bakat buat masak deh Dee, maaf ya"
"Ngga papa kok Kak, udah yok makan"
__ADS_1
"Pake sambel ini?" tanya Lion tak percaya
"Iya, why not?"
"Kamu buat yang baru aja ya, jangan ngga enakan, aku ngga papa"
Lion tahu bahwa Diana sebenarnya merasa tidak enak untuk mengacuhkan sambal buatannya. Mengenal Diana lebih dalam membuatnya tahu dan mengerti bahwa Diana adalah pribadi yang selalu merelakan kebahagiaannya tiada hanya untuk melihat kebahagiaan orang lain. Namun ia berjanji bahwa mulai sekarang, bahagia akan mereka rasakan bersama
"Tapi Kak..."
"It's oke"
Lion kembali mengambil beberapa cabai dan garam serta beberapa benda yang ia butuhkan. Setelahnya ia memindahkan sambal buatannya kedalam kantong plastik dan membuangnya. Melihat hal itu, Diana tanpa sungkan mulai membuat sambal baru. Setelah selesai dengan sambal buatannya, Diana kembali mencicipinya, dan diikuti Lion
"Ngga pernah gagal" ucap Lion
"Thanks Kak. Udah yok makan" Diana menyiapkan makanan mereka lesehan di lantai, setelah siap, ia segera mengajak Lion untuk duduk dan makan bersama
"Tapi Dee, aku perhatiin sejak di Lampung waktu itu, orang Lampung tuh kalo makan kenapa harus lesehan?" tanya Lion sebelum ia menyuapkan makanan ke mulutnya
"Kenapa ya Kak? Ngga tau juga. Tapi yang pasti ini udah kayak tradisi gitu sih. Mungkin rasa kekeluargaannya lebih berasa kali ya"
__ADS_1