
"Maaf, kami tidak bisa menerima lamaran kamu" ucap Pak Sutan tak tega
"Tapi Diana berhak menentukan pilihan kan Bak?" tanya Diana menyela "Selama ini aku selalu menjawab oke sama apapun yang Mak dan Bak rencanakan untuk hidup aku. Aku ngga pernah sekalipun bilang ngga, kalau itu berhubungan dengan perintah kalian, tapi untuk perjodohan ini, untuk kali ini aja, aku mohon batalkan perjodohan ini. Aku ngga akan bisa hidup dalam pernikahan tanpa cinta Bak"
"Tau apa kamu tentang cinta?" Ibu Lena beranjak dari duduknya saat mendengar penolakan dari Diana "Kamu ngga tau apa apa tentang cinta, cuma karena kamu suka sama dia, bukan berarti kamu cinta. Lagipula cinta ngga akan bikin kamu kenyang. Kamu mau perjodohan ini dibatalkan, iya? Kalau begitu, pilih kami sebagai keluarga, dan menuruti keinginan kami untuk melanjutkan perjodohan ini, atau pergi dengan laki laki yang kamu cintai itu, dan jangan pernah menganggap kami sebagai keluargamu lagi"
"Mak..."
Pak Sutan sampai ikut berdiri, dan memeluk istrinya yang emosi. Kata kata itu tidak seharusnya keluar. Pak Sutan membimbing Ibu Lena untuk menunu kamar, dan menenangkannya, sedangkan Diana, Lion dan Udo Bian masih berada di ruang tengah
__ADS_1
"Sabar ya, kita istirahat dulu" Udo Bian menepuk pundak Lion berulang kali, ia juga terus memberikan kekuatan kepada Diana lewat senyumnya yang seolah mengatakn tidak akan terjadi apa apa
"Tapi aku takut Do" keluh Diana "Aku takut Mak bener bener ngga mau ngakuin aku sebagai keluarga lagi"
"Itu ngga akan pernah terjadi, percaya sama Udo"
Bian mengambil tas milik Lion dan membawanya menuju kamarnya. Sedangkan Diana, Bian meminta Diana untuk istirahat di kamarnya sendiri. Setidaknya kondisi hati dan kepala mereka harus dingin agar mereka bisa memulai pembicaraan lagi nantinya.
"Bak..." panggil Diana lirih
__ADS_1
Pak sutan berjalan mendekat, memeluk putrinya yang saat ini terlihat tengah menangis. Dalam hidupnya, ia tidak pernah melihat Diana menangis setelah putrinya itu beranjak dewasa, dan kali ini, tangisan itu akhirnya keluar. Diana merenggangkan pelukannya, dan menatap Pak Sutan
"Apa perjodohan ini bener bener ngga bisa di batalkan?" Tidak ada jawaban, hanya helaan nafas yang terdengar dari Pak Sutan "Apa aku tidak berhak menentukan pilihan untuk hidupku? Apa aku memang harus menuruti keinginan kalian, sama seperti Udo?"
"Bak ngga bisa membatalkan perjodohan ini, karena Bak sudah setuju. Tapi kalau kamu memang benar benar menolak, maka datangi Gavin, minta keluarganya untuk membatalkan perjodohan ini"
"Tapi..."
"Bak benar benar ngga bisa sayang, janji Bak sebagai Batin tidak bisa Bak ingkari, tapi jika keluarga Gavin yang mencabut, maka Bak dengan sukarela menerimanya. Sesuai janji Bak waktu itu, kalau kamu menikah secara baik baik, maka Bak ngga akan merelakan siapapun untuk menjadi wali nikah kamu, Bak sendiri yang akan menikahkan kamu"
__ADS_1
Pagi yang cerah dengan munculnya sang surya dari ufuk timur. Namun berbanding terbalik dengan hati Diana yang gelap tak bercahaya. Pagi ini, ia akan mengunjungi kediaman Gavin, sesuai dengan apa yang ayahnya katakan. Ia akan berjuang semampunya untuk meminta keluarga Gavin menggagalkan pernikahan ini, tentunya ia tidak sendiri, karena ia akan datang kesana bersama Lion
"Hati hati di jalan" ucap Bian