
"Makasih ya Kak"
"Sama sama, aku langsung pulang ya, bye"
"Bye"
Lion memastikan Diana hingga masuk kedalam kontrakannya. Setelah Diana hilang dari pandangannya, barulah Lion melajukan mobilnya kembali. Sedangkan Diana, setibanya di kamar, ia langsung menatap ponselnya yang kembali berdering
"Halo Mak, assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam. Udah pulang?"
"Udah Mak, kenapa?"
"Jadi gini, berkaitan dengan apa yang udah pernah Mak bilang sebelumnya sama kamu, kalo Mak sama Bak berharap kamu menikah bersamaan sama Udo kamu. Niku makkung ngejawab waktu seno Mak tanya (Kamu belum jawab waktu itu pertanyaan Mak)"
Diana diam, mencoba menjawab tapi bibirnya seakan kelu. Ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun, entah itu penolakan ataupun menerima. Barusaja beberapa jam yang lalu ia bahagia, seolah melupakan semua kesedihan dan melupakan bahwa hidupnya berada diantara dua pilihan. Tapi kini, ia kembali di hadapkan dengan sang ibu yang terus menerus meminta dirinya untuk menikah
"Kanah nyak mikegh keni pay Mak (Nanti aku mikirin semuanya dulu Mak)"
"Yu, dang muneh saka ga, ucakko geta kik adu wat keputusan (Yaudah, jangan lama lama, bilang sama Mak segera kalo udah ada keputusan)"
"Yu, ghadu kidah Mak, assalamu'alaikum (Iya, kalo gitu udah ya Mak, Assalamu'alaikum)"
__ADS_1
"wa'alaikum salam"
Diana meletakkan ponselnya diatas nakas. Setelah itu ia beralih mengambil handuk, dan masuk kedalam kamar mandi. Setelah cukup lama di kamar mandi, barulah ia keluar dengan tampilan yang lebih fresh
*
Dring...
Diana yang tengah fokus berselancar pada laptop pribadinya segera mengalihkan perhatian saat mendengar ponselnya berdering. Nama Lion tersemat rapi disana. Tanpa menunggu lama, ia segera mengangkat panggilan telepon tersebut
"Halo Kak"
"Hai Dee, aku di depan kontrakan nih sekarang"
"Selamat pagi" sapa Lion disertai senyum manisnya
"Pagi... Kakak kok pagi pagi kesini?"
"Sengaja, mau ngajak kamu jalan jalan" Lion turun dari mobil, dan berdiri di samping Diana
"Jalan jalan se-pagi ini?"
Lion menatap langit yang memang masih pagi. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang mwnunjukkan pukul 07.30 pagi. Ia bahkan lupa untuk melihat jam tadi
__ADS_1
"Iya ya, masih pagi banget ternyata" Lion menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Mmm... ngomong ngomong, kamu udah sarapan?" tanya Lion
"Belum sih Kak, niatnya baru mau masak, karena kan hari ini libur, jadi agak males malesan"
"Pas kalo gitu, kita cari tempat sarapan aja gimana?"
"Sarapan diluar maksudnya?" tanya Diana memastikan
"Iya, gimana?"
"Ngga mending masak aja Kak"
"Masak? Aku ngga bisa masak Dee, masa aku nunggu masakan kamu mateng doang, kan ngga seru"
"Kalo gitu Kakak ikut masak aja, aku yang ngajarin"
"Really?"
"Yeah"
"Oke, lets go"
Diana segera mengajak Lion masuk kedalam kontrakannya. Ia sengaja membiarkan pintu depan terbuka, karena memang peraturan di kontrakan yang ia tinggali ini adalah membiarkan pintu terbuka jika menerima tamu. Diana segera masuk menuju dapur mini miliknya, mengeluarkan beberapa bahan makanan dari rak penyimpanan, dan mengambil pisau.
__ADS_1
Hal pertama yang ia lakukan adalah meminta Lion melihat cara memotong wortel. Setelah di rasa faham, Diana segera memberikan satu pisau lain kepada Lion, dan memintanya melanjutkan potongan wortel. Sedangkan dirinya mengambil kentang, dan satu buah labu, lalu memotongnya membentuk dadu. Pagi ini ia akan memasak sop sayur sayuran.