Cintaku Terhalang Adat

Cintaku Terhalang Adat
Bab 61


__ADS_3

Diana menatap rumah yang ada di hadapannya, sembari menunggu Lion yang masih memarkirkan motor milik Bian di halaman depan rumah Gavin. Beberapa saat setelah itu, Lion datang, dan berdiri disampingnya. Lion mengulurkan tangannya, dan langsung disambut oleh Diana, mereka berjalan dengan bergandengan tangan.


Tok... Tok...


"Assalamu'alaikum..." salam Diana


"Wa'alaikum salam, sebentar" terdengar sahutan dari dalam, dan di detik berikutnya, seorang wanita setengah baya yang Diana ketahui sebagai Ibu dari Gavin keluar dan membukakan pintu "Diana, ija kughuk" (Ayo masuk)


Diana masuk kedalam rumah Gavin, ini adalah pertama kalinya ia masuk kedalam rumah ini. Ia mengajak Lion untuk duduk di sampingnya. Sedangkan Ibu Tumi yang merupakan ibu dari Gavin tersebut duduk di kursi single yang ada di tengah tengah.


"Ajo kutti wat peghlu jama sapa?" (Ini kalian ada perlu sama siapa?)


"Gavin ni wat Enda?" (Gavinnya ada Tan?)


"Gavin? Wat, tunggu seghebok" (Gavin? Ada, tunggu sebentar)


Ibu Tumi segera masuk kedalam, dan memanggil Gavin. Tidak lama setelah itu Gavin pun terlihat, dan duduk bersama Diana dan Lion. Sedangkan Ibu Tumi sudah tidak terlihat

__ADS_1


"Hai Dee, gimana gimana, ada apa?" tanya Gavin to the point


"Sebelumnya perkenalkan, ini Lion, pacar sekaligus calon suamiku"


"Tunggu... Calon suami?" tanya Gavin memperjelas


Hufff


"Aku ingin melanjutkan hidupku ke jenjang yang baru, aku ingin berumah tangga, tapi... Tapi maaf, aku tidak bisa menepati omonganku untuk menerimamu"


"Aku mengerti, aku menunggu ini sejak lama, aku menunggu hari dimana kamu menolakku, aku merasa tidak pantas untuk bersanding denganmu, dengan statusku yang bukan lagi laki laki lajang. Kamu berhak bahagia, bahagialah dengan pilihanmu" ucap Gavin tulus


"Gavin..."


"Iya, aku mengerti. Jangan lupa undangannya jika kalian menikah" gurau Gavin


"Tapi keluargamu?"

__ADS_1


"Biar aku yang memberi pengertian pada mereka"


Diana hampir meneteskan air matanya, ia tidak menyangka bahwa Gavin bisa semudah itu melepas dirinya. Ia pikir semua ini akan sulit. Tapi ternyata, Gavin benar benar mengerti akan dirinya


"Aku titip sahabatku padamu bro" ucap Gavin pada Lion


"Pasti, aku pasti akan menjaganya"


Mereka terlibat obrolan yang cukup panjang setelah itu. Menceritakan masa masa sekolah antara Gavin dan Diana yang memang sudah bersahabat sejak masih sekolah. Setelah cukup untuk berbincang, akhirnya Diana dan Lion pamit untuk pulang.


Diana dan Lion pulang dengan sejuta ke-legaan dalam hati mereka. Tidak seperti yang mereka bayangkan, mereka pikir akan sulit untuk meminta Gavin membatalkan perjodohan tersebut. Tapi ternyata Gavin dengan segala ke-ikhlasan hatinya merelakan Diana untuk bersama dengan Lion.


Sedangkan Gavin, selama ini ia hanya menunggu kapan waktunya Diana mengatakan apa sebenarnya isi hatinya, dan hari ini, ia sudah mendengar langsung bagaimana perasaan Diana yang sebenarnya. Tidak ada rasa sakit hati akan penolakan, yang ada hanya perasaan lega karena Diana berani mengatakan penolakannya dengan terang terangan. Ibu Tumi yang sejak tadi berada dibalik tembok pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga, akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Gavin


"Mengapi di ghilako?" (Mengapa kamu merelakannya?) tanya Ibu Tumi


"Jak awal, nyak mak haga ngelajuko perjodohan sinji, kindang nyak haga ngehaghgako keluarga ni Diana, setelah waktu seno peghnah ku kecewako. Tanno ghadu waktu ni nyak ngeni kebebasan pakaini Diana, gegoh keluargani si peghnah ngeni kebebasan jama nyak" (Sejak awal, aku ngga mau ngelanjutin perjodohan ini, tapi saya berusaha menghargai keluarga Diana, setelah waktu itu pernah aku kecewakan. Sekarang udah saatnya aku ngasih kebebasan buat Diana, sama kayak keluarganya yang udah ngasih kebesan buat aku dulu)

__ADS_1


__ADS_2