
Pak Sutan yang mendengar keributan, segera berjalan mencari tempat keributan terjadi. Bertepatan dengan itu Bian juga tiba dirumah. Kedua laki laki itu melangkah bersama menuju kamar Bian
"Kalau itu yang Mak mau, aku akan pergi" ucap Diana lantang
Pak Sutan segera masuk kedalam kamar, mencoba melerai pertengkaran antara istri dan putrinya. Ia kemudian membawa sang istri untuk keluar dari kamar Bian. Ia tidak ingin terjadi pertengkaran yang lebih hebat diantara anak dan istrinya
"Ada apa Dee?" tanya Bian mencoba mencari tahu, sebab saat ia tiba di rumah, keributan ini sudah terjadi
"Besok aku sama Kak Lion akan balik ke Jakarta Do" ucap Diana tanpa menatap Bian sama sekali
"Oke, tapi ada apa sama Mak? Kenapa kalian bisa sampai ribut disini?" tanya Bian
"Mak abis maki maki Kak Lion, dan aku udah ngga bisa memaklumi itu"
Bian menghela nafas kasar. Ia tidak bisa melakukan apa apa jika Diana sudah mengambil keputusan. Lagipula ini hanya perkara ego, dan yang mampu menyelesaikannya hanya Diana dan Ibu Lena sendiri
"Yaudah kalo itu udah jadi keputusan kalian, besok Udo yang nganter kalian ke bandara"
*
__ADS_1
Pagi sekali, Diana sudah siap dengan keberangkatannya. Ia akan menuju bandara kota Krui pagi ini untuk kembali ke Jakarta, sesuai dengan keinginannya. Ia menyeret kopernya menuruni tangga. Diana meninggalkan kopernya dibawah tangga, kemudian berjalan menuju kamar Bian dan Lion
Tok... Tok...
Pintu terbuka menampilkan Lion diambang pintu dengan tampilan yang sudah rapi "Dee..."
"Kakak udah siap?" tanya Diana
"Sudah"
Lion kembali masuk kedalam kamar untuk mengambil tas pakaiannya. Kemudian ia berjalan kembali menuju Diana. Sementara Bian yang sudah selesai berpakaian segera menyusul Diana dan Lion.
"Kita langsung berangkat aja Kak, jam penerbangan kita jam delapan, jadi kita harus kesana secepatnya"
"Dee... " Peringat Lion, ini adalah hal yang baru Lion ketahui dari Diana, ternyata gadis yang ia cintai ini sangat keras kepala.
"Kalian tunggu disini sebentar, biar Udo yang manggil Bak sama Mak" tanpa menunggu persetujuan, Bian segera menuju kamar kedua orang tuanya. Tiba di kamar kedua orang tuanya, Bian segera mengetuk pintu kamar
"Mengapi?" (Kenapa?) tanya Ibu Lena saat ia mendapati Bian berada diluar kamarnya
__ADS_1
"Lion jama Diana adu haga mit, setidakni ija gham jejama ngighengko tian ghua" (Lion dan Diana mau berangkat, setidaknya ayo kita mengiringi mereka bersama sama)
"Kik tiyan ghua haga mit, taganko. Mak peghlu ngehaghgako sanak si mak pandai ngehaghgako hulun tuha" (Kalau mereka mau berangkat, biarkan. Ngga perlu ngehargain anak yang ngga bisa ngehargain orang tua)
Dubrak
Pintu kamar ditutup kasar oleh Ibu Lena. Bahkan hal itu membuat Bian berjingkat kaget. Bian menghela nafas kasar, dan setelahnya kembali bergabung bersama Diana dan Lion.
"Gimana Do?" tanya Lion
"Ngga papa, kalian langsung berangkat aja, takutnya kalian ketinggalan pesawat"
"Tapi Mak..." Lion masih berusaha untuk mendapatkan restu calon mertuanya itu, setidaknya ia datang ke rumah ini dengan sambutan baik, maka ia ingin pulang juga dengan cara yang baik
"Udah Kak, kita langsung berangkat" putus Diana, ia bahkan segera menyeret kopernya menuju mobil yang sudah terparkir rapi didepan sana. Ya, setelah mempertimbangkan akhirnya ia menolak usulan Bian untuk mengantar dirinya dan juga Lion menuju bandara, dan ia lebih memilih untuk diantar oleh supir yang sudah disiapkan ayah Lion sebelumnya
"Salam buat Mak sama Bak Do, aku janji ngga akan berani macam macam sama Diana tanpa restu mereka" ucap Lion pada Bian, dan di jawab anggukan oleh Bian. Setelahnya kedua laki laki itu berpelukan. Baru setelah itu Lion berjalan menyusul Diana
"Kami pamit Do" ucap Diana, ia mencium punggung tangan Bian, lalu memeluk Kakak laki laki nya itu. Sedangkan Lion hanya mengangguk kepada Bian, dan segera masuk kedalam mobil
__ADS_1