
"Kita mampir ke Atm bentar ya" ucap Lion yang hanya di jawab anggukan oleh Diana.
Lion segera melajukan mobilnya menuju Atm terdekat. Setelah menemukan Atm, Lion segera turun meninggalkan Diana di mobil. Tidak lama berselang, Lion kembali masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya menuju kontrakan Diana
"Akhirnya sampe juga" seru Diana sembari merenggangkan ototnya "Makasih ya Kak"
"Iya sama sama. Oh iya Dee, ini..." Lion menyodorkan beberapa lembar uang kertas ratusan ribu kearah Diana
"Ini maksudnya apa Kak?"
"Buat ngeganti uang lo tadi bayarin makan"
"Kakak ngerendahin gue makanya ngasih uang sebanyak ini?"
"Nggak... Gue sama sekali ngga bermaksud ngerendahin lo, ini cuma gue niat ngasih lo aja, semoga bisa bantu lo. Sorry kalo cara gue salah"
Diana menghela nafasnya, ia sampai tersinggung karena perlakuan Lion yang seolah merendahkannya. Dirinya memang tidak terlahir dengan perekonomian keluarga yang memadai seperti teman temannya, tapi ia tidak bisa jika harus di rendahkan orang lain. Diana memaksakan senyumnya, ia sudah terlalu overthinking dengan perlakuan Lion, yang akhirnya membuatnya salah sangka
"Ini kebanyakan Kak" Diana mengambil satu lembar uang dari tangan Lion, kemudian ia mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompetnya, dan memberikannya pada Lion "Segini cukup"
__ADS_1
"Tapi..."
"Inget Kak, orang miskin kayak gue bakalan tersinggung dengan perlakuan orang kaya yang selalu menggunakan segala upaya dengan uang. Cukup gue, jangan sampai orang lain Kakak perlakukan sama. Makasih udah ngajak makan, gue masuk dulu"
Lion memandang Diana yang mulai masuk ke kontrakannya. Lion semakin kagum dengan Diana, hidup di kota tidak membuat gadis itu menjadi pribadi yang boros dan gengsi. Diana selalu terlihat tampil apa adanya, tanpa ada yang di lebih lebihkan
"Gue bakal pastiin lo jadi milik gue Dee"
*
"Oke, perfect" ucap Arga setelah selesai memberi sedikit bedak di bibir Lion "Sekarang saatnya misi selanjutnya di mulai. Dan lo telepon Diana sekarang, dan bilang kalo Lion sakit"
Ardan mulai menghubungi kontak Diana yang ia dapat dari Gita semalam. Di panggilan pertama, panggilan sudah di angkat oleh Diana "Hallo Dee"
"Hallo, siapa?" tanya Diana di seberang sana
"Ini gue, Kak Ardan"
"Kak Ardan? Ada apa Kak?"
__ADS_1
"Gue cuma mau minta tolong sama lo buat ngasih tau Gita kalo hari ini gue ngga ke kampus, gue udah coba hubungin dia tadi, tapi teleponnya ngga di angkat. Lion lagi sakit soalnya, jadi gue dan temen temen yang lain lagi di rumah Lion sekarang" jelas Ardan panjang lebar
"Apa? Kak Lion sakit? Kok bisa?"
"Gue ngga tau, yang jelas gue sama yang lain udah di rumah Lion dari semalem buat nemenin dia, gue minta tolong, lo sampein pesen gue sama Gita ya. Thanks"
"Kak tunggu" Diana sedikit bingung untuk memulai pembicaraannya "Mmm gue boleh minta sharelock rumah Kak Lion ngga Kak, gue mau jenguk juga sekalian sama Gita nanti"
"Oh, bentar lagi gue sharelock, thank you ya Dee. Bye" Ardan mematikan panggilannya dan tersenyum sumringah menatap teman temannya
"Gimana?" tanya Lion
"Sesuai rencana, Diana udah minta gue buat sharelock rumah lo. Bentar gue sharelock dulu" Ardan mengirimkan lokasi rumah Lion pada Diana, barusaja terkirim, centang biru sudah terlihat disana "Langsung diliat bro. Udah sekarang lo mulai ekting lemes, gue mau liat, meyakinkan nggak"
Lion mulai memperagakan caranya bersikap lemah. Ia mulai berbaring, menarik selimut sebatas dada, tidak lupa batuk batuk kecil ia berikan untuk menambah keyakinan orang tentang dirinya yang sedang sakit. Ia membuka mata dengan sedikit lemah
"Dee... Thanks ya udah jengukin gue" ucap Lion memperagakan, yang di sambut tawa dari teman temannya
"Gokil, abis ini lo bisa ikut casting sinetron sih menurut gue" ucap Ardan
__ADS_1