
Diana tidur terlentang, menatap langit langit kamarnya yang terlihat remang remang. Sebab ia sengaja mematikan lampu kamarnya untuk mencari ketenangan. Sejak kepulangannya dari rumah Gavin, ia belum bertemu dengan ibunya sama sekali, dan hal itu cukup menjadi beban pikirannya. Diana mengambil ponselnya yang terlihat berkedip, ternyata itu adalah panggilan telepon dari Gita, Diana segera menjawab panggilan tersebut
"Halo Git..."
"Halo, gimana disana, kondusif kan?" tanya Gita
"Aman"
"Syukurlah... iya sabar" terdengar suara bising dari seberang sana, Diana yakin saat ini Gita tidak hanya sendiri
"Lo lagi dimana Git?" tanya Diana
"Gue di depan nih, taman halaman rumah, kenapa?"
"Ada Kak Ardan sama yang lain juga ya?"
"Kok lo tau?"
"Kedengeran tadi suara Kak Arga"
"Oh... iya, gue lagi sama Kak Ardan sama yang lain juga. Oh iya, jadi gimana prosesnya, semuanya lancar?" tanya Gita menggali informasi
"Sedikit berantakan"
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Nyokap gue ngamuk"
"What, Segitunya Dee?" tanya Gita terkejut
"Kenapa? Load speaker sekarang" perintah Arga, dan mau tidak mau akhirnya Gita turuti
"Lebih parah lagi, katanya kalo gue tetap sama pilihan gue buat milih Kak Lion daripada Gavin, maka gue harus ngelupain kalo mereka adalah keluarga gue"
"Dan bokap lo?"
"Bokap ngga bisa mutusin perjodohan yang udah mereka sepakati, tapi dia bilang kalo gue berhasil minta keluarga Gavin buat ngebatalin perjodohan ini, maka dia juga ngga keberatan"
"Dan lo berhasil?"
"Alhamdulillah-nya iya"
"Dee... Lion dimana sekarang?" tanya Arga yang tampak tidak sabar untuk ikut bicara
"Kak Lion ada sama Udo, mereka lagi istirahat Kak"
"Yaudah, lo berdua jaga kesehatan disana. Semoga nyokap lo luluh, dan akhirnya ngerestuin hubungan kalian berdua" ucap Arga
"Aamiin"
"Yaudah ya Dee, good night"
__ADS_1
"Good night"
Diana kembali meletakkan ponselnya diatas nakas setelah sambungan teleponnya terputus. Ia kembali memandang langit langit kamarnya. Hingga akhirnya tanpa sadar ia telah tertidur mengarungi mimpi
Pagi menjelang, sama seperti pagi sebelumnya, Ibu Lena masih belum terlihat. Sedangkan yang lain, tampak sudah siap di kursi masing masing untuk memulai sarapan. Diana masih tampak menunggu ibunya tersebut, sebab sudah dua hari ini, tepatnya setelah Ibu Lena menolak keinginan Diana untuk melepas Gavin, Ibu Lena tidak pernah lagi ikut bergabung bersama mereka, meski hanya sekedar untuk sarapan
"Mak makan di kamar aja katanya" ucap Pak Sutan bersuara
"Mak masih marah?" tanya Diana sendu
"Ngga, mungkin Mak lagi capek, udah kamu makan aja, jangan terlalu di pikirin" ucap Pak Sutan
Selesai sarapan, Diana membersihkan dapur kembali. Mencuci peralatan yang kotor, dan membersihkan lantai dapur. Setelah itu ia menuju ruang keluarga dimana Bian dan Lion berada. Sedangkan Pak Sutan sudah tidak terlihat keberadaannya
"Bak dimana Do?"
"Ke kamar kayaknya, tadi bawa piring, mungkin makanan buat Mak"
Diana mengangguk anggukan kepalanya tanda mengerti. Setelah itu ia ikut duduk bersama Udo Bian dan juga Lion "Oh iya, persiapan pernikahan Udo udah berapa persen?" tanya Diana
"masih dua puluh lima persen, lagian kan acaranya juga masih satu bulan lagi, jadi masih belum oke persiapannya"
Diana kembali menganggukan kepala tanda mengerti "Besok pagi, aku sama Kak Lion harus balik ke Jakarta Do, tapi Mak masih belum mau ngomong sama aku dari kemarin" keluh Diana
"Udah, ngga usah terlalu di pikirin, Udo yakin, besok pagi Mak pasti bakal ikut sarapan sama kita"
__ADS_1
"Tapi..."
"Udah, kalian liat aja besok, Udo yakin kok kalo besok pagi Mak udah mau gabung lagi sama kita"