
Ibu Lena keluar dari ruangan Diana, menuju taman rumah sakit. Ia duduk di kursi taman dengan tatapan kosong. Ia dilema antara merestui hubungan Diana dan Lion, atau justru menolak dan tetap pada pendiriannya
"Mak bisa liat kan gimana Lion sangat mencintai Diana. Bahkan saat sadar, yang Lion cari adalah Diana" ucap Bian, duduk disamping Ibu Lena. Ibu Lena hanya diam, ia terus menatap hamparan taman dengan hati yang tidak bisa ia lukiskan
"Mak takut kalau harus melanggar adat kita Bian" ucap Ibu Lena
"Bian faham Mak, tapi kita juga ngga bisa maksain apa yang kita mau, yang menjalani semua ini adalah Diana, dan dia bisa memilih yang terbaik untuk dirinya"
"Tapi Mak... Mak masih takut Bian, Mak takut keluarga kita akan kena musibah kalau kita melanggar janji"
__ADS_1
"Inshaa Allah, atas izin Allah ngga akan terjadi apa apa sama keluarga kita" ucap Bian meyakinkan.
*
Ibu Lena masuk kedalm ruang perawatan Diana kembali, setelah sebelumnya menenangkan diri di taman. Ia mendekati Diana yang ternyata sudah sadar dari pingsan akibat kecelakaan, ia mengusap rambut putrinya dengan sayang. Tidak bisa ia ungkapkan bagaimana perasaannya beberapa waktu lalu saat melihat putrinya tak sadarkan diri. Tapi kini, hatinya sedikit lega karena putrinya telah sadar
"Mak..." Diana memeluk Ibu Lena, ia menahan tangisnya yang hampir keluar. Selama ini ia tidak pernah menunjukan sisi lemahnya pada siapapun, termasuk keluarganya. Begitupun hari ini, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan siapapun "Maaf karena membantah perkataan Mak kemarin, dan sekarang, sekarang aku siap untuk mengikuti apapun yang Mak inginkan"
"Nggak Dee, kamu ngga pernah bilang akan menyerah. Kamu bilang kita akan berjuang bersama sama untuk dapetin restu orang tua kamu" ucap Lion mengingatkan akan janji Diana padanya
__ADS_1
"Kak... Mungkin yang Mak bilang benar, kami yang hidup dalam naungan adat, harus selalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh adat, dan kalau kami melanggar, maka musibah yang akan datang"
"Ngga Dee, kamu bilang kalo kamu ngga percaya sama semua itu, ini semua takdir Dee, dan yang mampu mengubah takdir hanya Allah" ucap Lion kembali mengingatkan Diana tentang apa yang pernah dikatakan kekasihnya itu
Diana menunduk, menyembunyikan wajahnya yang ia yakini sudah memerah menahan tangis. Namun didetik berikutnya, sebuah tangan lembut mengangkat wajahnya, ia menatap sang pemilik tangan yang kini tersenyum kearahnya. Dia adalah Ibu Lena, Ibunya.
"Maafkan atas apapun yang udah Mak lakuin ke kamu. Maaf atas ke-egoisan Mak yang selalu memaksa kamu untuk jadi seperti apa yang Mak mau. Sekarang, Mak persilahkan kamu untuk memilih jalan hidup yang kamu mau, yang kamu inginkan" ucap Ibu Lena
"Tapi Mak..."
__ADS_1
"Maafkan atas kekhilafan Mak yang selalu mengaitkan segala hal buruk yang terjadi dengan pelanggaran adat yang kita anut. Sekarang Mak sadar kalau adat hanyalah penuntun kita untuk melestarikan budaya, bukan suatu hal yang harus menjadi pedoman inti dalam kehidupan kita"
Diana menatap Pak Sutan untuk memastikan bahwa apa yang ia dengar ini bukanlah mimpi. sebab hal yang baru saja Ibu Lena katakan bagaikan sebuah mimpi untuknya. Ia menatap Ibu Lena dan mempertanyakan tentang perkataan Ibunya itu melalui tatapan mata, dan hanya dijawab Ibu Lena dengan senyuman serta anggukan kepala