Cintaku Terhalang Adat

Cintaku Terhalang Adat
Bab 63


__ADS_3

Malam menjelang, Diana keluar dari kamar menuju kamar kedua orangtuanya. Suara makian jelas terdengar di telinga Diana. Bahkan terdengar bagaimana ibunya yang terdengar memarahi ayahnya habis habisan


"Niku lain mak pandai ghepa kik sappai gham ngebatalko perjodohan sinji. Lain akkah pudak gham sai kamak, kattu gham tughut mawek di peghcaya hulun lagi. Makkung suppah ni tiyan sai mena mulang, nyak ghabai tulahan" (Kamu bukannya ngga tau apa jadinya kalau kita membatalkan perjodohan ini. Bukan cuma muka kita yang kotor, tapi kita juga ngga akan dipercaya orang lagi. Belum sumpah mereka yang sudah tiada, aku takut kualat)


"Nayya, kidang kebahagiaanni anak gham jawoh lebih petting ketimbang unyinni seno" (Iya, tapi kebahagiaan anak anak kita jauh lebih penting daripada semua itu)


"Kebahagiaan si injuk ghepa? Kebahagiaan akkah ulehni tiyan dacok hughek jama jelma sai jadi pilehanni tiyan?" (Kebahagiaan yang seperti apa? Kebahagiaan cuma karena mereka bisa hidup dengan seseorang yang jadi pilihan mereka?)


Diana memejamkan matanya mendengar bagaiman kedua orangtuanya yang ribut mengenai dirinya. Ia berjalan diam diam, dan meninggalkan kamar kedua orang tuanya. Niat hati ingin membujuk ibunya agar mau merestui hubungannya dengan Lion, malah berakhir dengan kekecewaan saat mendengar ibunya beberapa kali memarahi ayahnya

__ADS_1


Diana memilih menuju halaman belakang rumahnya. Duduk di kursi belakang, yang memperlihatkan keindahan langit malam diatas sana. Kerlip bintang dan cahaya bulan yang begitu terang membuat Diana merasakan sedikit ketenangan dalam hatinya. Diana tidak pernah mengira jika semuanya akan serumit ini. Tanpa terasa air mata yang semula tidak tergenang, akhirnya menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak sanggup mendengar pertengkaran kedua orang tuanya yang disebabkan olehnya


"Ngga, gue harus tegas kali ini" monolog Diana saat sepintas pemikiran datang dan memintanya untuk kembali mengalah, dan mengikuti keinginan kedua orangtuanya. Selama ini ia selalu menuruti semua keinginan orang tuanya, termasuk meminta dirinya untuk masuk Universitas Harapan Bangsa di Jakarta. Tapi kini, ia akan menanamkan keberanian untuk menolak keinginan kedua orang tunya, dan melanjutkan apa yang menjadi cita citanya.


Diana berlalu menuju kamarnya kembali. Ia kan mempersiapkan keberangkatannya besok pagi. Ia tidak peduli bagaimana reaksi ibunya setelah tahu bahwa dirinya akan kembali ke Jakarta besok pagi, dan memilih teguh pada pendiriannya untuk tetap memilih Lion


"Dee..." sapa Lion saat melihat Diana melintasi dapur


"Kita jadi balik besok?" bukannya menjawab pertanyaan Diana, Lion malah balik bertanya

__ADS_1


"Ngga ada yang harus ditunggu Kak, kita ambil jalan tengah aja sekarang, Mak ngizinin atau ngga, kita akan tetap menikah" ucap Diana datar, ia benar benar tidak peduli jika ibunya sampai mencoret namanya dari daftar keluarga


"Ngga Dee, kita ngga akan menikah tanpa restu kedua orangtua kamu, kita akan disini sampai Mak ngasih kita restu"


"Tapi Kak..."


"Suttt... aku ngga apa apa" ucap Lion, ia faham jika sebenarnya Diana hanya tidak ingin dirinya sakit hati jika mendengar kata kata kasar dari mulut ibunya. Tapi Lion sungguh tidak masalah, ia akan menunggu restu dari kedua orangtua Diana, dan setelahnya ia akan menikahi gadis pujaan hatinya itu "Kamu istirahat ya, lupakan untuk kembali besok, kita akan menunggu sampai Mak ngasih kita restu"


"Tapi kuliah Kakak? Bukannya lusa adalah sidang penentu?"

__ADS_1


"Aku lebih memilih kamu"


__ADS_2