
pagi ini, setelah selesai sarapan pagi dengan bubur, Diana dan Lion kembali berbaring di brankar masing masing. Tidak lama pintu ruangan terbuka, menampakkan empat orang yang kini berjalan memasuki ruangan. Mereka adalah ke-empat sahabat Diana dan Lion.
"Dee, lo ngga apa apa kan?" tanya Gita sembari mengecek seluruh tubuh Diana
"Ngga Git, udah ah ngga usah lebay" ucap Diana risih, karena kini mata para sahabat laki lakinya tengah menatap dirinya dan Gita
"Di khawatirin malah dibilang lebay" sungut Gita
"Udah ngga usah ngambek, udah jelek ngambekan, siapa yang mau nemenin" ucap Diana tak berperasaan
"Dee..." rengek Gita. Namun tak urung hal itu membuat mereka semua tertawa
"Lo oke kan bro?" tanya Daffa pada Lion
"Gue baik baik aja. Kalian kapan kesini?" tanya Lion
__ADS_1
"Ini kita baru nyampe, dan langsung kesini buat jenguk kalian" ucap Daffa
"Thanks ya"
"Udahlah Lion kayak sama siapa aja, kita kan sahabat" ucap Arga menimpali
"Oh iya gue ada kabar bahagia buat kalian semua" ucap Lion saat ia teringat akan kabar bahagia yang belum ia bagi pada sahabat sahabatnya "Gue udah dapetin restu orang tua Diana, dan pernikahan kami akan diadakan bersamaan sama pernikahan Udo"
"Lo serius?" tanya Arga
"Selamat bro, bentar lagi sold out nih" gurau Ardan
Mereka berbincang kecil. Membicarakan bagaimana jalan cerita Lion dan Diana selama dua hari berada di Lampung, dan menceritakan bagaimana Lion bisa berhasil mendapatkan restu dari kedua orang tua Diana. Sepanjang Lion dan Diana bercerita, Gita memeluk Diana, seakan dirinya ikut merasakan perasaan sahabatnya beberapa hari yang lalu saat kedua orang tua Diana menolak Lion
*
__ADS_1
Hari yang di tunggu tunggu telah tiba. Lion sudah siap dengan setelan jas hitam dan celana kain hitam, dan tidak lupa sebuah sarung khas pengantin sudah menggantung di pinggangnya, beberapa jenis kalung (Selambok) sudah menghiasi leher Lion. Saat ini ia tengah duduk di kursi rias, dan hanya menerima apa saja yang dipakaikan pihak keluarga Diana yang bertugas mendandaninya.
Setelah cukup untuk bersiap, kini finishing-nya adalah sebuah peci polos yang sudah diberi hiasan khas pengantin laki laki masyarakat Saibatin. Lion memandang dirinya didalam cermin, pakaian adat yang kini melekat di tubuhnya benar benar menambah kadar ketampanannya berkali kali lipat. Ke-tiga sahabatnya mulai berjalan mendekatinya, setelah sebelumnya mempersiapkan diri masing masing
Ke-tiga sahabatnya sudah mengenakan setelan jas lengkap sama seperti dirinya. Yang membedakan dandanan ke-tiga sahabatnya dengan dirinya hanyalah, sarung yang menggantung di pinggang ketiganya adalah sarung Tapis Lampung, sedangkan miliknya adalah Bintang temabur. Hal lain yang membedakan adalah, Ke-tiga sahabatnya tidak memakai kalung khas seperti miliknya, dan peci ketiganya juga hanya peci yang sudah diberi sulaman tapis biasa, tidak ada hiasan apapun.
"Wih... Ganteng banget sahabat gue" ucap Ardan melihat penampilan Lion
"Kita juga ngga kalah ganteng kok" ucap Arga narsis
"Anak anak, udah siap semuanya" tanya Om Haris pada ke-empat pemuda tersebut
"Siap Om, wihh ngomong ngomong, Om keliatan sepuluh tahun lebih muda dengan setelan seperti ini" gurau Arga yang hanya dijawab Om Haris dengan senyuman.
Mereka berjalan beriringan menuju halaman depan rumah yang mereka tempati. Disana seorang laki laki mulai mengatur barisan mereka. Dimulai dari Lion dan ke-tiga sahabatnya di barisan terdepan. Lalu di barisan kedua terdapat kedua orang tua Lion, dan dibarisan selanjutnya diisi oleh keluarga besar Lion
__ADS_1