
πΎπΎπΎπΎπΎ
.
.
Entah sadar atau tidak? Varo dan Ana masih berjalan dengan bergandengan tangan. Mere seperti pasangan kekasih yang habis jalan-jalan mengelilingi taman.
Tiba di dekat mobil. "Ayo masuk!" titah Varo membukakan pintu mobil buat Ana. Saat ini Varo memang sudah melepaskan tautan tangan mereka. Namum, tanpa sadar sekarang tangannya malah pindah pada pingang gadis tersebut, karena ingin membantunya masuk kedalam mobil. Meskipun masih ragu-ragu Ana pun masuk kedalam mobil mewah milik sang bos.
Setelah Ana duduk Pria itu menutup pintu mobilnya. Lalu dia berjalan memutar untuk menyusul masuk dan duduk di kursi kemudi.
Braaak..
Varo menutup pintu mobilnya cukup keras.
"Terima kasih!" ucap Ana merasa sungkan.
Varo tidak menjawab, tapi hanya mengangguk kecil, dan mulai menjalankan kendaraan roda empat tersebut. Memang tidak ada acara memasang selt belt seperti di drama atau novel, karena Ana sudah memasang sabuk pengaman nya sendiri.
"Sebelah mana?" tanya Varo memecahkan kesunyian di antara kedua nya.
"Sebelah mana? Apanya yang sebelah mana?" Ana tadi memang sempat melamun memikirkan kedua Almarhum orang tua nya. Setiap berada dalam mobil mewah seperti saat ini, Ana memang selalu mengingat kenangan bersama ayah dan ibunya. Sebab dulunya Ana juga bukan orang susah seperti saat ini. Ayahnya juga memiliki perusahaan dan juga aset mewah lainnya. Hanya saja semenjak kedua orang tuanya meninggal semuanya di ambil alih oleh kerabat jauh dari sang ayah.
"Kau memikirkan apa lagi? Perasaan ku, kau suka sekali melamun." pria tersebut tidak menjawab pertanyaan Ana, tapi menanyakan hal lainnya.
"Tidak ada! Saya hanya sedang ingat pada kedua orang tua Saya." jawab Ana jujur. Tadi dia memang sudah menceritakan sering datang ke taman karena merindukan orang tua nya yang sudah tiada.
"Semua yang hidup pasti akan mati. Hanya waktu dan tempat nya kita yang belum tahu. Aku memang belum pernah merasakan kehilangan orang tua. Tapi aku juga tahu rasanya kehilangan saat kakek ku meninggal. Jadi jangan bersedih karena kau tidak sendirian." kata Varo yang kembali lagi mengelus kepala Ana. Entah dia lupa setatus di antara mereka, atau memang sengaja. Hanya Varo sendiri yang tahu. Namun, perlakuan manis tersebut sudah kembali lagi mengobrak-ngabrik jantung gadis yang ada di sampingnya.
Deg..
Deg..
"Oh ... Ana sadarlah! Dia bukan milik mu! Meskipun dia menyukai mu, Ada jarak di antara kalian berdua."
__ADS_1
Meskipun Ana tidak pernah pacaran. Tapi sedikit banyaknya tentang perasaan dia sudah tahu.
"Ana rumah mu di mana?" Varo kembali bertanya karena tadi belum di jawab oleh Ana.
"An! Kau kenapa lagi?" bingung melihat Ana kembali melamun Varo langsung mengetepikan mobilnya dan berhenti di sisi jalan.
"Kenapa kita berhenti di sini?" Ana yang tersadar langsung merasa kaget.
"Memangnya mau kemana lagi? Aku tidak tahu rumah mu ada di mana. Jadi lebih baik kita berhenti sampai kau selesai melamun dan menyebutkan di mana alamat rumah mu." Varo menjawab dengan enteng sambil menghidupkan HP nya yang tadi sengaja dia matikan. Namum, baru saja benda tersebut menyala sudah ada yang meneleponnya.
"Izora! Mau apa dia menelepon tengah malam seperti ini?"
"Kenapa tidak di angkat?" gadis itu bertanya karena Varo tidak mengangkat pangilan tersebut.
"Em ... tidak ada. Apa kau sudah selesai melamun nya? Bila sudah, tunjukkan alamat rumah mu." ucap Varo yang sengaja tidak ingin membahas masalah lain. Ana pun tidak banyak bertanya dan hanya menyebutkan alamat rumah nya.
"Rumah Saya di jalan Melati nomor dua satu."
"Jadi rumah mu di jalan melati! Pantas saja." kata Varo kembali menjalankan kendaraan tersebut.
"Ya ... pantas saja kau bekerja di perusahaan Ravindra. Tempat itu kan tidak terlalu jauh dari perusahaan." elak Varo. Mana mungkin dia mengatakan kalau tadi siang sempat mengikuti Ana.
Setelah itu Ana tidak bertanya lagi, karena apa yang Varo katakan adalah benar. Rumahnya memang tidak jauh dari perusahaan Ravindra.
Hanya kurang lebih sepuluh menit. Mobil Varo sudah tiba di depan rumah yang terbuat dari papan lalu di bentuk menjadi rumah minimalis. Di pinggir rumah tersebut ada beberapa tanaman di dalam pot yang di susun rapi. Bisa di tebak kalau pemiliknya adalah orang yang rajin.
"Apa ini rumah mu?" tanya Varo ragu-ragu, karena meskipun rumah itu terbuat dari kayu. Namum, bila di jadikan uang sangat mahal.
"Bukan rumah Saya. Tapi ini rumah milik ibu yang di berikan oleh kakek."
"Itu namanya sama saja rumah mu."
Ana hanya sedikit tersenyum sebelum turun dari mobil tersebut dan langsung mengucapkan terima kasih nya karena sudah di antar pulang oleh sang bos.
__ADS_1
"Tuan muda ... terima kasih sudah mengantar saya pulang dan menemani Saya malam ini, dan maaf Saya tidak bisa membawa Anda mampir, karena ini sudah larut malam."
"Hem tidak masalah! Mungkin lain waktu kita masih bisa pergi bersama dan mencari hiburan lainnya." kata Varo yang sangat berharap masih bisa pergi bersama.
"Semoga! Kalau begitu Anda hati-hati di jalanya." ucap Ana melambaikan tangannya pada Varo yang masih berdiri di luar mobil.
Lalu setelah itu barulah dia masuk kedalam rumahnya, karena tadi Varo sudah mengatakan akan pulang setelah melihat Ana masuk kedalam rumah nya.
"Benar-benar gadis yang menarik." Varo ikut tersenyum setelah Ana masuk kedalam rumahnya, dan dia sendiri juga kembali masuk kedalam mobilnya.
Selama dalam perjalanan pulang. Pria tersebut tidak henti-hentinya tersenyum. Mengigat bagaimana saat Ana mengangap kalau pertemuan mereka adalah mimpi.
Belum lagi saat dia dengan beraninya mengecup bibir gadis itu. Dengan dalil ingin menyadarkan Ana bahwa pertemuan mereka nyata bukan di alam mimpi seperti yang gadis itu katakan.
"Aku rasa dia belum pernah berciuman. Rasanya sangat berbeda dari bibir gadis yang pernah aku cicipi." kembali tersenyum-senyum sendiri sambil menyentuh bibirnya.
"Jika Ana sudah pernah berciuman, maka dia tidak akan gemetaran seperti tadi." gara-gara mengigat Ana. Varo membiarkan HP nya yang berbunyi berulang kali.
"Berarti aku adalah orang pertama yang sudah mengambil ciuman pertamanya. Aaah ... Varo kau beruntung sekali." semakin girang seperti orang yang baru merasakan jatuh cinta.
Tapi dia tersadar setelah HP nya kembali berdering. Tidak berpikir lagi Varo mengambil HP di sakunya dan langsung mengeser tombol hijau untuk menghubungkan dengan si penelepon.
π± Izora : "Varo kau ada di mana? Kenapa telepon dari ku, kau biarkan dari tadi?" begitu sambungannya terhubung. Izora langsung mengoceh.
π± Varo : "Ada apa? Bukannya selama ini kau juga sering tidak mengangkat telepon dari ku." menjawab acuh karena malas harus kembali bertengkar.
π± Izora : "Varo ... kita berbeda. Aku sibuk bekerja."
π± Varo : "Ck, lalu apa bedanya! Aku juga sibuk bekerja. Tapi kau sudah marah-marah. Bukannya baru kali ini aku tidak langsung mengangkat pangilan dari mu."
π± Izora : "Sejak kapan kau bekerja sampai malam seperti ini? Tadi Arga menanyakan mu. Dia bertanya, katanya kau tidak datang ke tempat biasa kalian bertemu."
π± Varo : "Aku seperti ini karena dirimu. Kau katakan pada Arga tadi aku ada pekerjaan yang harus aku urus."
Varo langsung memutuskan sambungan teleponnya dan kembali menonaktifkan HP tersebut.
__ADS_1
"Kita lihat saja Izora apa kau benar-benar akan kembali saat waktu pernikahan kita. Bila tidak, maka aku akan menikahi gadis lain." ucap Varo yang sudah lelah selalu mengalah.