Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Nyata atau mimpi.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


"Nama Saya Ana, Tuan muda." jawab Ana setengah sadar. Bagaimana dia tidak mengira kalau dia sedang bermimpi. Laki-laki yang beberapa bulan ini menjadi penyemangat nya untuk tetap bertahan bekerja di perusahaan Ravindra ada di dekat nya. Sangat dekat mungkin boleh dikatakan tadi tubuh mereka sampai saling menempel walaupun hanya sesaat karena Ana sudah lebih dulu menjauhkan tubuhnya.


"Aku sudah tahu kalau namamu Ana." menjawab dengan enteng. Seolah-olah Ana yang memperkenalkan dirinya.


Padahal tadi Varo sendiri yang bertanya lalu kenapa masih menyakan nama gadis itu bila sudah tahu. Membuat Ana menahan kesal di dalam hatinya.


"Kenapa Kau melihat ku seperti itu?" Varo ikut menjauhkan tubuh mereka lalu dia duduk di bangku yang gadis itu duduki tadi. Varo sengaja menjauhkan tubuhnya juga, karena bila terus berada dekat seperti itu dia takut khilaf untuk melakukan silaturahmi pada gadis yang baru di temuinya tadi pagi.


"Hei ... itu tempat duduk ku. Jangan mentang-mentang Tuan muda bos boleh berbuat seenaknya." berkata dengan ketus sampai-sampai lupa ingin menanyakan dari mana Varo mengetahui namanya.


"Inikan alam mimpi, jadi aku bukan bos mu. Kenalkan namaku Varo" pemuda itu mengulurkan tangannya untuk melakukan perkenalkan yang sebenarnya. Meskipun di dalam hatinya menahan tawa dari tadi. Namun, dia tahan karena ingin mengetahui sampai mana gadis itu terbangun dari mimpi yang dia katakan.


"Oh begitu ya! Baiklah karena ini alam mimpi mari kita berkenalan. Jika di dunia nyata kita bagaikan langit dan bumi." cekikikan setelah menerima uluran tangan sang bos dan kembali lagi menyebutkan namanya juga.


"it's oke kalau begitu mulai sekarang kita berteman ya?" ajak Varo semakin gencar ingin melihat bagaimana reaksi Ana bila sadar bahwa pertemuan mereka adalah nyata.


"Tidak, tidak, tidak! Kita mana boleh berteman. Apa kata-kata orang nanti bila tahu seorang CEO berteman dengan Clening servis di perusahaannya. Aaahh kita tidak boleh berteman. Aku tidak mau di bilang mengoda bos ku sendiri." Ana menggeleng-gelengkan kepalanya sudah seperti orang yang sedang mabuk berat.


"Kenapa tidak boleh? Inikan alam mimpi, jadi sah-sah saja bila kita berteman." rasanya Varo ingin mengigit gadis itu saat ini juga karena sudah tidak tahan menahan gemas melihat betapa polosnya Ana. Jelas-jelas semuanya nyata malah dikiranya sedang bermimpi.


"Iya juga ya! Inikan alam mimpi mana ada yang tahu." Ana tersenyum karena di dalam hatinya sedang berpikir tidak apa memanfaatkan waktu bermimpi nya.


"Kau kenapa tersenyum sendiri? Membuatku takut bila terus seperti itu." ucap Varo sambil menyeruput minuman yang sudah di keluarkan oleh Ana. Tidak! Bukan hanya di keluarkan saja, tapi ... sudah di minum oleh gadis itu.

__ADS_1


"Agh ... tidak apa-apa! Tapi tunggu dulu--- kenapa Anda meminum, minuman punya Saya?" tanya Ana dengan heran. Apakah sang bos tidak sadar kalau sudah meminum, minuman bekas nya.


"Apa! Aku meminum, minuman bekas mu?" ulang Varo dengan sengaja.


"I--iya! Tapi Saya tidak memberikannya, Anda sendiri yang mengambilnya." jawab Ana ragu-ragu.


"Ah sudahlah! Tidak apa-apa. Berhubung kita masih di alam mimpi aku memaafkan mu yang sudah lalai sehingga bos seperti ku meminum bekas mu."


"Benarkah? Wah Saya tidak menyangka ternyata bila di alam mimpi seorang bos bisa menjadi rendah hati seperti Anda." memuji karena belum juga sadar. Lalu diapun ikut duduk di sebelah Varo yang hanya berjarak beberapa senti meter saja.


"Hem benar! Tapi ... bila ini nyata kira-kira apa yang akan Kau lakukan?" tanya Varo menatap muka Ana yang kembali lagi melihat kearah langit seperti tadi.


"Kalau ini nyata, mana mungkin Saya masih berada di sini. Mungkin sudah lari dari tadi."


"Kenapa lari? Memangnya aku semenakutkan itu?" kurang senang mendengar jawaban gadis di sampingnya.


"Bukan menakutkan. Justru karena---" Ana terdiam tidak melanjutkan ucapannya. Di dalam hatinya baru menduga-duga sendiri ini mimpi atau nyata.


"Tunggu, tunggu! Tolong cubit dulu tangan Saya. Bila tidak sakit, maka akan Saya katakan karena apa." pinta Ana seraya mengulurkan tangannya untuk di cubit oleh Varo.


"Kenapa harus di cubit dulu? Kau ini aneh sekali." Pria itu semakin dibuat bingung mendengar permintaan Ana.


"Bukannya aneh, tapi Saya sedang membuktikan ini nyata atau mimpi." tegas nya yang tidak mau dibilang aneh.


"Hem ... baiklah! Tapi Kau duduknya jangan jauh-jauh. Aku susah untuk mencibut tangan mu."


"Sepertinya tidak susah! Tangan Saya kan bisa Anda cubit walaupun kita tidak duduk berdekatan juga."


"Baiklah jika tidak mau, aku tidak akan mencubitnya, Kau cubit saja sendiri. Lagian aku ini seorang CEO mana pernah aku bekerja mencubit tangan seseorang. Pekerjaan ku hanya memeriksa dan menandatangani berkas-berkas penting." kata Varo mulai bersikap sombong.

__ADS_1


"Huh ... iya juga ya. Baiklah Saya akan mendekat. Tapi jangan terlalu keras takutnya ini nyata." Ana pun mengeser duduknya sedikit. Namum, Varo malah merangkul pingang gadis itu agar menempel padanya.


"Aaakkh ... a--apa yang Anda lakukan?" tanya Ana kembali merasakan gugup seperti tadi.


"Diamlah! Pejamkan saja matamu, aku akan membuatmu sadar ini mimpi atau nyata."


Ana yang sudah tidak tahan karena merasa gugup pun langsung saja memejamkan matanya seperti permintaan Varo.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Sampai pada lima belas detik kemudian. Ana belum juga merasakan sakit pada tangannya yang akan di cubit. Lalu dia membuka matanya perlahan dengan hati lega, karena tidak merasakan apa-apa. Jadi gadis itu berpikir benar-benar sedang bermimpi.


Padahal Varo memang belum mencubitnya dari tadi. Pria itu malah hanya menatapnya yang sedang memejamkan mata, dan begitu Ana sudah membuka matanya.


Cup...


Sebuah kecupan menempel begitu saja pada bibi Ana yang masih perawan. Keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Namun, meskipun begitu tidak ada yang menjauhkan bibir mereka lebih dulu.


"Kenapa rasanya jantung ku berdebar-debar seperti nyata? Apakah ini memang bukan mimpi? Ya Tuhan bila ini mimpi tolong cepat sadarkan aku. Namum, bila ini nyata tolong bawa aku cepat-cepat menghilang dari sini."


Pikiran Ana semakin berkecamuk setelah merasakan bibir Varo yang masih setia menempel pada bibirnya. Untung saja Pria tersebut hanya sekedar menempelkan bibirnya tidak lebih.


Kenapa rasanya berbeda saat berciuman dengan Izora? Bila seperti ini terus ... bisa-bisa aku khilaf pada gadis ini. Varo--- ayo sadarlah apa yang Kau lakukan."


Lain yang Ana pikirkan, maka lain pula yang ada di dalam hati Varo.

__ADS_1


*BERSAMBUNG...πŸ˜†*


__ADS_2