
πΎπΎπΎπΎπΎ
.
.
Setelah melewati waktu yang cukup lama. Akhirnya Varo beserta Sekertaris pribadi dan istrinya sudah mendarat di ibu kota B. Saat ini mereka lagi berada di dalam mobil menuju hotel tempat mereka menginap selama enam hari ke depan.
"Apa masih pusing?" tanya pemuda tampan itu pada istrinya yang saat ini ia sandarkan pada bahunya.
"Eum.. masih," jawab Ana membuka matanya sedikit. Untuk menatap muka sang suami yang juga menatap padanya.
Cup!
"Jangan memandang ku seperti itu." tegur Varo mengecup sekilas bibir Ana yang lagi terngaga melihat wajah mahluk tampan tempat dia bersandar.
"Aku... bersandar pada tubuh malaikat tampan ini lagi? Kenapa ada manusia setempan ini, ya? Eh, tunggu, tunggu! Bukan malaikat. Melainkan bos yang sudah menikahiku. Varo jujur saja, aku takut ini hanya mimpi yang terlalu tinggi."
Gumam gadis itu meskipun sudah di kecup. Ternyata malah membuatnya larut dalam khayalan.
"Sayang, kau kenapa?" yang dipuji malaikat tampan bertanya heran. Sebelum dia tertawa dan menarik hidung minimalis sang istri. Hal tersebut tentu saja langsung menyadarkan Ana dari alam khayal nya.
"Jangan bila kau sedang berhalusinasi lagi?" kata Varo baru menyadari kebiasaan gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
"Ha... ha... Aku memang tidak salah tebak. Ana hei, kau lagi berhalusinasi apa heum? Ini aku, suamimu," ucap Varo masih tertawa bahagia.
Sehingga membuat Arsad merasa heran. Antara percaya dan tidak, kalau Varo yang sekarang adalah Varo yang menjadi bos nya.
"A--a--apa, aku, aku bukan sedang berhalusinasi. Tapi... lagi memikirkan nanti malam apakah kita akan tidur satu kamar?" Ana menjawab asal. Alhasil jawaban tersebut menyulitkan dirinya sendiri.
"Tentu saja kita akan tidur satu kamar. Memangnya mau tidur sama siapa lagi."
Gleeek!
"Kenapa? Apa kau tidak mau tidur satu kamar dengan ku?" tanya Varo menjauhkan tubuh mereka beberapa senti. Agar bisa menatap wajah bagun tidur istri kecilnya.
__ADS_1
"Tidak, tidak! Aku hanya bertanya saja." jawab Ana cepat. Padahal tadi dia sempat menelan ludahnya sendiri.
"Maaf Tuan, Nona. Kita sudah sampai." suara Arsad menyadarkan Varo dan Ana kalau mereka telah tiba di depan lobby hotel. Tidak berkata apa-apa, Varo turun lebih dulu. Lalu dia memegang tangan sang istri karena takut terjatuh.
"Terima kasih!" ucap Ana tersenyum kecil. "Koper kita bagaimana? Kenapa tidak di turunkan sekalian?" tannya Ana lagi.
"Tidak perlu selalu berterima kasih, semua yang aku lakukan memang sudah menjadi tugas ku." setelah Ana turun dari mobil pun Varo tetap mengengam tangan istrinya.
"Koper nya akan dibawa oleh pegawai hotel. Sekarang ayo kita ke kamar untuk istrirahat, karena nanti sore kita akan pergi jalan-jalan. Lalu malamnya lagi kita akan makan malam." ajak Varo yang tidak menyebutkan bahwa dia sudah mempersiapkan makan malam romantis yang bertema ulang tahun sang istri.
"Wah... kita akan jalan-jalan? Seru sekali," kata Ana yang tidak menyangka Varo akan membawanya jalan-jalan. Dia mengira suaminya itu hanya minta di temani melakukan perjalanan bisnis saja.
"Heum, iya. Kita akan pergi jalan-jalan. Aku ingin mengajakmu ketempat yang sangat bagus."
"Tempat seperti apa? Apakah dirimu sudah sering datang kesini?" tanya Ana setelah mereka tiba di dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai tempat kamar mereka berada.
Sedangkan Arsad masih tertinggal di loby. Pemuda itu lagi mengurus koper tuan mudanya lebih dulu. Lagian kamar mereka juga sudah dipesankan olehnya dari satu Minggu yang lalu.
"Tempatnya tidak terlalu ramai. Tapi jika menurutku sangat nyaman ketika duduk bersantai di sana." jawab Varo yang sudah dari dulu memiliki rencana. Apabila sudah menikah dengan Izora, akan membawa gadis itu pergi kesana.
Namun, ternyata semuanya berubah, karena dia malah membawa Ana. Bukan Izora wanita yang pernah bertunangan dengan nya selama kurang lebih dua tahun.
"Setelah semua masalahnya selesai. Aku berjanji akan membawamu ke berbagai tempat yang jauh lebih indah dari kota ini." ucap Varo berjanji sambil menatap Ana.
Untuk saat ini dia hanya membutuhkan agar Ana percaya dan selalu berada di sampingnya. Hanya itulah yang dia butuhkan. Entah serumit apa masalah yang akan Varo hadapi untuk kedepannya. Sehingga dia begitu serius meminta Ana percaya padanya.
"Tidak usah berjanji akan membawaku ke berbagai tempat. Cukup kita selalu bersama, bagiku itu semua sudah membuatku bahagia." jawab Ana yang tidak ingin serakah dengan apa yang telah dia miliki saat ini.
"Aku tahu itu, tapi aku tetap ingin melakukannya." begitu pintu lift terbuka. Varo kembali lagi manarik Ana menunju kamar mereka.
Ting!
Bunyi pintu kamar terbuka setelah Varo menempelkan kartu akses yang diberikan oleh Menejer hotel saat mereka masuk tadi, karena mereka sudah mengenal Presdir Ravindra. Jadi tidak banyak bicara, cukup memberikan pelayanan yang terbaik.
"Istirahatlah!" ucap Varo melepaskan pegangan tangan mereka, karena dia ingin melepas jas dan dasi nya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Ana yang tidak tahu jika Varo ingin melepas jasnya. Ia mengira kalau suaminya mau pergi.
"Aku... mau melepaskan jas ku. Memangnya kenapa? Apa kau mau melakukannya? Anggap saja sebagai pekerjaan pertama mu." Varo yang tidak memiliki niat untuk menjahili. Tiba-tiba datang ide tersebut setelah Ana menanyakan dia mau kemana.
"A--aku, aku mau ke kamar mandi dulu. La--lain kali saja, ya." tidak menunggu jawaban dari suaminya. Ana langsung saja menuju pintu kamar mandi.
"Ck, Kau mau menghindar rupanya." Varo bukanya kesal atau apapun. Tetapi dia malah tersenyum semakin gemas. "Kita lihat nanti malam, apakah kau akan menghindar." ucapnya lagi yang mulai melepaskan jas dan dasi nya.
Sekitar enam menit kemudian. Ana sudah keluar dari kamar mandi. Terlihat wajahnya lebih segar karena sudah mencuci mukanya.
"Sayang, Kemarilah!" pangil Varo yang lagi duduk di Sofa.
"Eum, iya!" jawab Ana mendekati sofa yang di duduki oleh suaminya. Seperti itulah seorang Ana Rehana. Dia memang seringkali gugup bila berdekatan dengan Varo. Akan tetapi semua itu tidak lama. Asalkan dia bisa menghindar walaupun hanya beberapa menit.
"Duduk!" perintah pemuda itu seakan tidak bisa dibantahkan lagi.
Ana yang sudah paham Varo hanya menurut saja. Dia duduk disampingnya. "Ada apa?" tanyanya singkat.
"Besok pagi, aku akan berkunjung ke perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Revindra Company. Jadi kau diam saja disini menjelang aku kembali, ya?" ucap Varo yang tidak mungkin membawa sang istri pergi berkunjung ke tempat kerjanya.
"Iya, tidak apa-apa. Bukannya kita sudah membicarakannya kemarin?"
"Aku takut kau merasa tidak nyaman di tinggal sendirian." ungkap Varo membelai wajah cantik sang istri. Niatnya hanya ingin membelai sambil menyelipkan rambut istrinya saja. Akan tetapi begitu melihat bibi ranum sang istri jiwa kelelakianya langsung bangkit.
Tanpa aba-aba. Varo langsung mendekatkan wajahnya. Lalu Ana yang sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya, memejamkan matanya, karena sejak kemarin siang. Mereka berdua sudah mulia mempraktekkan berciuman dengan durasi cukup lama.
Jika Varo berciuman adalah hal biasa, karena sebelum pacaran dengan Izora. Pemuda itu memiliki banyak mantan kekasih.
Namun, bila Ana memang belum pernah melakukan hal tersebut. Sebab ciuman pertamanya adalah bersama Varo. Saat mereka berada di taman ibu kota.
Cup!
Varo menempelkan bibirnya pada bibir ranum sang istri yang terasa begitu manis, karena Varo adalah orang pertama bagi istrinya itu.
Eumgghkk!
__ADS_1
Lenguh Ana saat Varo mulai melancarkan aksinya. Sehingga membuat gadis itu melenguh karena merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
*BERSAMBUNG...π*