
🌾🌾🌾🌾🌾
.
.
"Ayo kita pulang!" Varo berdiri dari duduknya, lalu dia mengulurkan tangannya untuk membantu gadis yang dua hari akan dia nikahi.
"Terima kasih!" pemuda itu kembali lagi mengucapkan terima kasih yang entah keberapa kalinya. Dia benar-benar merasa bahagia karena Ana bersedia menikah dengannya. Malam ini pun Varo tidak hanya melamar, tapi juga telah mengungkapkan perasaannya.
Meskipun Ana tidak ikut mengungkapkan perasaan yang dia miliki. Varo tidak masalah karena tanpa gadis itu ungkapkan. Dia sudah mengetahuinya dari dua bulan lalu. Saat Ana membersihkan ruangannya. Gadis itu mengungkapkan perasaan pada foto Varo yang berada di meja kerjanya.
Ana gadis yang sangat polos. Bagaimana mungkin dia berbicara sembarangan di dalam ruangan yang memiliki cctv nya. Untungnya cctv ruangan CEO hanya Varo yang bisa melihatnya.
"Tidak usah berterima kasih padaku. Justru akulah yang berterima kasih karena dirimu mau menerima ku." jawab Ana sambil mengikuti Varo menuju mobilnya. Sejak Varo mengungkapkan perasaannya. Gadis itu tidak terlalu takut, sedari tadi mereka juga selalu menautkan jari tangannya. Seakan-akan takut bila terpisahkan.
"Silahkan masuk calon istriku."ucap Varo begitu sudah membuka pintu mobilnya untuk gadis yang dia cintai. Mendengar perkataannya membuat pipi Ana langsung berubah merah merona. Malu, ya Ana malu diperlakukan seperti itu. Apalagi yang melakukannya adalah bos tempatnya bekerja.
"Tidak usah malu, mulai saat ini dirimu harus terbiasa karena aku akan selalu melakukan nya." pemuda itu tersenyum melihat Ana menutup muka mengunakan tangannya.
"Ayo masuk, bila kau seperti ini aku bisa-khilaf untuk menciummu lagi." ancam Varo karena dia memang tidak tahan melihat Ana yang begitu menggemaskan.
Selama ini Varo berpacaran dengan wanita yang selalu memperhatikan penampilan, karena Izora adalah seorang penari balet internasional. Jadi begitu melihat gadis sederhana seperti Ana membuat rasa itu berbeda.
"Apa, tidak aku akan masuk." kata Ana langsung menurunkan tangannya dan masuk kedalam mobil yang sudah di buka oleh calon suaminya. Bos yang selama ini selalu dia kagumi dari kejauhan.
"Gadis lain berlomba-lomba ingin mendapatkan ciumanku. Tapi --- dia malah takut. Aku enar-benar beruntung bisa menikahinya."
gumam Varo tersenyum sambil berjalan memutari mobil dan duduk di bangku kemudi.
Braaak ...
Pria itu menutup pintunya lalu menoleh kearah Ana sebelum menjalankan kendaraannya.
"An, menjelang kita menikah, diamlah dirumah. Tidak usah masuk bekerja." ucap Varo baru menggigat hal tersebut. Tadi karena terlalu asik bercanda bersama calon istrinya. Varo sampai lupa membahas hal tersebut. Padahal tadi sudah membahas tempat mereka melakukan pernikahan.
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya kita sudah sepakat kalau aku masih boleh bekerja?"
"Siapa bilang kau tidak boleh bekerja. Ini hanya menjelang akhir pekan. Setelah kita menikah, maka dirimu boleh bekerja seperti biasanya." jelas Varo yang ingin Ana bekerja setelah mereka menikah saja.
"Oh, begitu! Baiklah, aku akan dirumah saja sampai waktunya tiba." sahut gadis itu baru mengerti kalau dia tidak berhenti bekerja selamanya. Tapi hanya untuk dua hari.
"Oke, kalau begitu besok kau tunggu saja di rumah. Setelah aku pulang dari perusahaan, kita akan pergi fitting baju pengantin." kata Varo mulai menjalankan kendaraan mewahnya menuju rumah sederhana calon istrinya.
Ana hanya menganggukkan kepalanya karena tadi mereka sudah membahas masalah baju pengantin juga. Meskipun mereka tidak melakukan acara apapun selain menikah. Tapi keduanya sudah sepakat akan memakai baju pengantin seperti pengantin lainya.
Hanya sembilan menit perjalanan. Mobil mereka sudah tiba di kediaman Ana. Lalu gadis itu turun setelah Varo membukan pintu untuknya.
Tiba di depan pintu.
Cup...,
"Masuklah! Setelah kau masuk, aku baru pergi. Aku tidak ingin calon istriku kenapa-napa." tidak ada pemberitahuan. Varo kembali lagi mencium Ana yang hanya bisa membisu di tempatnya berdiri. Sekarang bos nya itu sudah berubah menjadi seekor angsa. Malam ini bila Ana tidak pelupa, Varo menciumnya sudah lebih dari sepuluh kali.
Cup...,
"Masuklah! Bila kau terus seperti ini, maka aku akan menciummu lagi." tergelak karena belum selesai dia berbicara. Secepat kilat Ana masuk kedalam rumahnya dan langsung menutup pintu tersebut cukup keras.
Deg ...
Deg ...
"Huh .. huh ... Aghkk! Kenapa dengan jantungku. Lama-lama bersamanya bisa-bisa aku mati berdiri." gadis itu berkata dengan nafas terengah- engah akibat selalu di sosor.
"Kenapa juga dia bisa berubah seperti itu. Apa jangan-jangan Tuan muda keracunan makanan, ya? Sehingga dia selalu menciumiku." menebak-nebak sambil berjalan menuju kamarnya.
*
*
Sementara itu setelah memastikan sendiri kalau calon istrinya sudah masuk. Varo kembali lagi masuk kedalam mobilnya. Saat ini dia akan pulang untuk menemui neneknya, karena Varo sangat yakin jika wanita tua itu sudah tahu kalau dia sudah membatalkan pertunangannya dengan Izora.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kek. Bila nenek selalu mengekang ku. Maka aku akan meninggalkan perusahaan Ravindra. Aku juga akan membawa keluargaku meninggalkan rumah kakek." ucap Varo pada dirinya sendiri.
Dia sudah bertekad tidak ingin lagi mengikuti kemauan neneknya. Dulu Varo bertunangan dengan Izora atas paksaan sang nenek. Mereka berdua memang pacaran, tapi saat itu Varo belum memiliki niat untuk menikah. Tidak ingin mengecewakan neneknya. Varo menerima acara pertunangan tersebut.
Apa yang dia lakukan semata-mata bukan hanya ingin menyenangkan hati Rosa neneknya saja. Tapi berharap wanita tua itu tidak menghina ibunya lagi. Namun, semuanya tidak ada yang berjalan dengan baik. Dia harus membatalkan pernikahan sebanyak tiga kali dan neneknya tetap saja menghina ibunya.
Sebelum mengambil keputusan tersebut tentunya Varo sudah menyiapkan semuanya. Bila dia bodoh, maka tidak mungkin bisa mengendalikan perusahaan besar seperti Ravindra Company.
Dua puluh lima menit kemudian.
Tiiin...
Varo membunyikan klakson mobilnya begitu melewati gerbang yang di bukakan oleh Satpam yang berjaga di kediaman mereka. Sebagai tanda hormatnya pada penjaga tersebut.
Setelah tiba di garasi. Varo langsung saja masuk kedalam rumah mengunakan kunci yang selalu dibawa olehnya, karena tidak ingin menyusahkan para pelayan. Apalagi dia pulang tidak tahu waktu.
Cek... lek ...
Begitu Varo masuk semua ruangan sudah terlihat sepi tidak ada siapa-siapa lagi. Meskipun penghuninya cukup banyak. Akan tetapi baru saja Varo akan melangkah menuju tangga. Serli ibunya memangil sang putra dengan suara pelan.
"Varo, ayo kekamar ibu. Ada yang ingin ibu bicarakan." ucapannya dengan suara pelan karena takut ada yang mendengarnya.
"Ibu, ibu kenapa mengendap-endap seperti pencuri?" dasar Varo, masa iya ibunya dibilang seperti pencuri.
"Aiissh, sudahlah! Jangan banyak bertanya, ikut saja bersama ibu." jawab Serli tidak mau mendengar protes sang putra. Dia menarik tangan Varo menuju kamarnya. Bukan apa-apa dia membawa kesana, karena bila berbicara di dalam kamar Varo. Takut si ibu mertuanya datang tiba-tiba.
Kleeeek...
Suara pintu kamar yang di kunci oleh Serli setelah mereka tiba didalam kamarnya. Lalu dia memerintahkan sang putra untuk duduk di dekat suaminya yang sudah menunggu sejak tadi.
"Duduklah! Ada hal yang harus kita bahas malam ini, sebelum bertemu nenekmu besok pagi." ucap wanita itu juga ikut duduk di sofa dihadapan Varo.
"Memangnya ada apa? Apa ibu dan Ayah belum memberitahu nenek kalau Varo akan menikahi Ana dalam dua hari lagi?" tanya Varo setelah itu duduk.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1
Sambil menunggu ceritanya update lagi, yuk baca novel sahabat Mak author.