
🌾🌾🌾🌾🌾
.
.
"Aku menyukaimu." ulang Varo untuk kedua kalinya. Sehingga pernyataan pemuda itu membuat Ana membeku, karena takut kalau dirinya kembali berhalusinasi.
"Ana, kau kanapa?" Varo yang melihat calon istrinya hanya diam langsung berdiri seperti tadi.
"Ana ... Kau kenapa, hem? Apa aku tidak boleh menyukaimu?" tanya Varo menyentuh pundak Ana, dan hal tersebut menyadarkan gadis itu.
"Agh, iya. Aku tidak apa-apa!" menjawab sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Didalam hatinya sembari mengatakan.
"Ana, ayo bangun. Ada apa denganmu? Mana mungkin dia langsung menyukaimu, padahal tadi siang baru saja putus dengan tunangannya."
"Kau kenapa lagi? Apa aku tidak boleh menyukaimu?" saat bertanya, wajah tampan pria itu sedikit masam.
"Eh, bukan, bukannya tidak boleh!" menjawab saja dulu, dari pada bos anehnya berprasangka yang bukan-bukan.
"Lalu?" Varo sudah tidak sabar menunggu jawaban gadis itu.
"A--aku hanya takut berhalusinasi lagi." setelah menjawab pertanyaan tersebut Ana menundukkan kepalanya.
Mendengar jawaban calon istrinya. Varo tersenyum, lalu diapun berkata. "Ana, aku tahu kamu pasti tidak akan percaya begitu saja. Tapi apa yang aku katakan ini benar-benar tulus. Sudah Sejak lama aku menyadari perasaan ini." pemuda itu berhenti sesaat, lalu melanjutkan lagi.
"Akan tetapi, aku tidak berani mengatakan kalau itu perasaan suka antara laki-laki dan perempuan, karena bisa jadi itu hanya sekedar suka sebagai teman." ucap Varo kembali berhenti sambil melihat reaksi Ana.
"Namun setelah Izora membatalkan pernikahan kami hari ini. Aku baru menyadari kalau aku menyukaimu bukan sebagai seorang teman. Tapi suka sebagai pasangan." ungkap Varo yang langsung diam karena Ana menatap matanya minta kejujuran.
"Aku tidak berbohong, apa yang aku sampaikan adalah kebenaran dari dalam lubuk hatiku." malam ini, akhirnya Varo menyampaikan apa yang dia rasakan selama ini.
"Tap--tapi bagaimana mungkin!" bila saja pemuda itu tidak langsung memeluk tubuhnya, mungkin Ana sudah terjatuh sejak tadi. Dari saat mendengar pengakuan Varo yang juga mencintainya.
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian, karena perasaan itu tiba dengan sendirinya. Aku sendiri saja tidak tahu, kalau sudah menyukaimu sejak lama." Varo yang mengerti seperti apa sifat calon istrinya langsung memeluknya.
"Ak--ak--aku, aku takut jika ini hanya mimpi." ucap Ana masih juga tergagap.
"Ini nyata, sekarang ayo duduk. Aku ingin berbicara banyak hal bersama dirimu." ajak Varo melepaskan pelukan mereka berdua. Lalu setelah sama-sama duduk, barulah dia kembali mengengam tangan calon istrinya.
Cup ...
"Apa kau tahu kenapa aku mengungkapkan perasaan ku malam ini?" tanya Varo setelah mencium tangan Ana yang masih digenggam olehnya.
"Aku, aku tidak tahu." menjawab singkat. Jika jantung gadis itu memiliki batas waktu. Mungkin sudah meledak dari beberapa menit yang lalu.
"Eum, baiklah! Aku akan bercerita sekarang." menatap wajah Ana sambil tersenyum bahagia. Bahagia? Ya Varo sangat bahagia karena dia adalah pacar pertama bagi calon istrinya itu.
"Maksudku mengatakan semua ini karena tidak ingin dirimu mengira kalau aku menikahimu hanya sebagai pelarian. Jadi apapun yang orang katakan nantinya, jangan percaya." Pemuda itu kembali lagi mengungkapkan perasaan nya.
"Aku menyukaimu dengan tulus. Maukah kau berjuang mempertahankan hubungan kita? Sesulit apapun nantinya, kita harus saling percaya." Varo sangat tahu seperti apa sifat neneknya yang selalu memusuhi Serli ibunya. Maka dari itu dia ingin Ana berjuang mempertahankan pernikahan mereka sama seperti sang ibu.
Sedari mereka kecil sampai saat ini. Seringkali neneknya menyewa wanita untuk mengoda Martin ayah Varo. Agar Serli sakit hati lalu pergi meninggalkan keluarga Revindra. Namun, sayangnya Serli tidak pernah percaya dan tetap bertahan bersama suami dan anaknya.
"Kenapa menangis, eum," Varo menjauhkan tubuh mereka untuk melihat wajah Ana yang masih menangis.
"Aku, aku tidak percaya saja. Semua ini seperti mimpi buat ku." jawab Ana jujur, karena dia tidak pernah berpikir akan disukai oleh CEO tempatnya bekerja. Belum lagi perkataan Varo yang mengajaknya untuk berjuang bersama.
"Kau bukan hanya cantik, tapi juga gadis yang sangat baik. Aku menyukai semuanya. Jadi maukah kau berjuang bersama ku?" tanya Varo menghapus air mata Ana dan mencium keningnya juga.
Tidak berpikir lagi. Ana langsung menganggukkan kepalanya dan menjawab dengan yakin. "Aku mau berjuang bersamamu. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap berada disisi mu. Sampai dirimu sendiri yang menyuruhku untuk pergi. Baru aku akan meninggalkan mu."
Meskipun bukan lulusan dari sebuah Universitas ternama. Tapi Ana tahu kalau perjalanan rumah tangga mereka pasti tidak akan mudah. Kedua orang tua Varo memang menerima pernikahan mereka. Tapi belum tentu keluarga Varo yang lain bisa menerima dirinya, dan yang pasti bila sampai orang lain tahu mereka berdua menikah. Ana akan dihina atau dituduh penghancur hubungan Varo dan Izora.
"Jangan khawatir, aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Aku yang meminta dirimu untuk menjadi istriku. Maka aku berjanji akan mempertangung jawabkan keputusan yang sudah aku buat. Hanya saja aku juga butuh dukungan dari dirimu, agar bisa melewati semuanya." hal ini, sebetulnya sudah dipikirkan oleh Varo sejak beberapa bulan lalu. Dia sudah tahu pasti Izora akan membatalkan pernikahan mereka lagi.
Dia sangat tahu bagaimana mantan tunangannya itu. Selalu serakah bila ada sangkut pautnya dengan pekerjaannya. Padahal bila dia mau menikah, lebih dari itu saja, Varo mampu memberikan segala yang Izora inginkan.
__ADS_1
"Baiklah, aku pun berjanji padamu. Akan berjuang semampuku." Ana tersenyum manis saat mengatakan dia juga akan berjuang untuk hubungan mereka.
Cup ...
Varo yang tidak tahan melihat senyuman calon istrinya. Langsung saja menyambar bibir ranum gadis itu.
"Eum" Ana yang ingin mengatakan sesuatu langsung berhenti saat lidah Varo mulai menjelajahi rongga mulutnya.
"Hmp" bunyi Ana yang hampir kehabisan pasokan oksigen.
Menyadari hal itu Varo langsung melepaskan pangutan bibir mereka.
"Apa kau belum pernah berciuman?" Varo tergelak bukanya merasa bersalah pada calon istrinya itu.
Plaaak ...
"Mana pernah aku berciuman. Pacaran saja aku tidak pernah." ditanya seperti itu membuat tangan Ana dengan berani memukul tangan Varo yang masih mengengam tangannya.
"Kau sudah berani melakukan tindakan KDRT pada CEO mu!" pura-pura marah padahal dihatinya lagi berbunga-bunga karena akhirnya Ana mengatakan sendiri kalau Varo adalah yang pertama baginya.
"Jangan berlebihan!" ucap Ana yang tidak merasakan takut lagi setelah merubah bahasa pormal seperti biasanya. Apalagi setelah mendengar pengakuan Varo yang menyukainya.
****
Berbeda dengan pasangan Varo dan Ana yang sedang merasakan bahagia.
Di kediaman keluarga Ravindra. Rosa neneknya Varo sedang marah-marah setelah diberitahu kalau Martin dan Serli sudah membatalkan pertunangan Varo dan Izora. Hal tersebut diberitahu oleh keluarga Izora satu jam yang lalu. Tepatnya saat Varo melamar Ana untuk menjadi kekasihnya.
BERSAMBUNG ...
.
.
__ADS_1
Sambil menunggu bbg Varo update, yuk mampir di novel sahabat Mak author. Dan berikan dukungannya juga.