Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Untuk istriku.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


Setelah kurang lebih dua jam pergi jalan-jalan mengelilingi taman kota dan danau. Varo dan Ana kembali lagi ke hotel tempat mereka menginap. Sekarang mereka berdua sudah mandi dan berdandan untuk makan malam yang sudah pemuda itu siapkan.


Cup!


"Kau benar-benar cantik," Varo mengecup sekilas bibir ranum sang istri yang sedari kemarin selalu dia cicipi. Presdir Ravindra Company itu berubah drastis apabila lagi bersama Ana. Dia selalu bersikap romantis dan memanjakan gadis tersebut.


"Kamu juga sangat tampan!" Ana juga ikut memuji ketampanan sang suami. Untung saja dia tidak kembali berhalusinasi ataupun mengira sedang bermimpi seperti biasanya.


"Kalau begitu, kita berdua adalah pasangan yang serasi." Varo tersenyum lalu menarik pinggang kecil Ana agar tubuh mereka saling menempel.


"Aaghk! Tolong jangan seperti ini. Bagaimana bila ada yang melihat kita," mencari alasan tapi sayangnya membuat Varo tergelak.


"Memangnya kenapa bila ada yang melihat kita sedang seperti ini? Siapa yang berani melarang kita, heum!" bukanya melepaskan pinggang sang istri. Akan tetapi Varo semakin mendekap sampai wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti.


"Ah, jika seperti ini aku jadi malas untuk makan malam." keluh Varo tidak tahan ketika menghirup wangi tubuh istrinya. Padahal mereka memakai sabun dan shampo yang serupa.


"Jika malas ya sudah, kita tidak usah pergi ke mana-mana." sahut Ana yang tidak mengetahui apa maksud dari perkataan suaminya.


Andai dia tahu mungkin saja tidak akan mau pulang ke kamar hotel mereka, karena sudah jelas bahwa Varo ingin memakan dirinya.


"Eh, tidak, tidak! Mana mungkin aku menggagalkan makan malam yang sudah aku siapkan dari kemarin. Ayo kita berangkat sekarang." ucap Varo menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar hotel menuju ke atap gedung apartemen, yang telah disiapkan acara makan malam romantis untuk merayakan ulang tahun sang istri.


"Kenapa kita malah naik ke atas? Apakah makan malamnya di gedung ini juga?" tanya Ana merasa heran.


Dia mengira kalau Varo akan membawanya pergi makan ke restoran mewah atau tempat indah lainnya.


"Iya kita hanya akan makan malam di atas atap gedung ini, tapi kau tidak perlu khawatir, karena tempatnya begitu indah." tersenyum sambil menggenggam tangan istrinya.

__ADS_1


Setibanya mereka di atas Varo berhenti dan menoleh ke arah Ana lalu ia pun berkata. "Sayang matamu, aku tutup dulu ya? Nanti bila sudah tiba pada tempat tersebut, baru kita buka penutup matanya." tidak menunggu persetujuan dari Ana, pemuda itu langsung merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kain untuk menutup mata sang istri. Ternyata dia sudah menyiapkan segala sesuatu hanya saja istrinya yang tidak tahu.


"Kenapa mataku harus ditutup? Lalu kalau ditutup seperti ini, bagaimana caranya aku bisa berjalan?" protes Ana karena tidak tahu ada sebuah kejutan besar yang menanti dirinya.


"kan ada aku yang menggandeng mu, tenang saja tidak usah khawatir karena aku tidak mungkin menyakiti istriku sendiri." Jawa paro mulai berjalan pelan sambil menuntun istrinya Ana yang tidak memiliki pilihan hanya mengikuti ke mana paru menuntun dirinya berjalan.


Ternyata tempatnya tidak jauh, hanya tiga menit setelahnya, mereka berdua sudah tiba pada tempat yang sudah dipersiapkan oleh Sekretaris Arsad.


"Apakah kita sudah sampai?" tanya Ana menggenggam tangan suaminya ada rasa takut, ada rasa berdebar-debar yang gadis itu rasakan. Apalagi sejuknya tiupan angin malam membuat suasana semakin terasa hening itulah yang dirasakan oleh Ana.


"Iya kita sudah sampai! Tunggu sebentar ya, biar aku buka penutup matanya." Varo langsung mundur ke arah belakang dan membuka kain tersebut dengan pelan dan hati-hati karena takut menyakiti mata istrinya.


Setelah kainnya dilepas, pemuda itu menyuruh sang istri untuk membuka matanya. "Ayo buka matamu!" titahnya yang saat ini sudah berpindah disamping tubuh kecil istrinya lagi.


Ana yang memang sudah penasaran sejak tadi, membuka matanya dengan perlahan. Setelah itu dia pun termanggu di tempatnya berdiri. Saat ini mereka berada di depan tulisan ber kalimat selamat ulang tahun istriku.


"Va--Varo... ini kamu yang menyiapkannya?" menangis, Ana bertanya sambil meneteskan air mata bahagianya.


Semenjak kedua orang tuanya meninggal. Gadis itu tidak pernah memikirkan acara ulang tahunnya sendiri, karena tidak memiliki saudara ataupun kerabat yang bisa diajak untuk merayakan atau juga yang mengingatkan di saat dirinya sendiri lupa pada hari kelahirannya sendiri.


"Huem, iya! Apa kau suka?" pemuda itu mengangkat jarinya untuk menyerka air mata sang istri. "Sudahlah jangan menangis, malam ini adalah malam ulang tahun mu. Jadi mari kita rayakan, walaupun hanya berdua. Tapi percayalah di tahun berikutnya aku akan membuatkan pesta yang mewah." lanjutnya sambil tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lagi.


"Sebentar ya aku akan memasangkan kalung ini," ucap Varo.


Belum lagi Ana menjawab dan berkata sesuatu, suaminya itu sudah memberi kejutan lagi. Varo memasangkan seuntai kalung berlian yang berliontin huruf A dan V. Ya itu singkatan dari nama mereka berdua.


"Varo... ini, ini semua---"


Cup!


"Iya, ini semua sengaja aku siapkan untuk hari ulang tahun istriku." tersenyum setelah mengecup singkat bibir istrinya. "Maaf ya, untuk sekarang aku hanya bisa memberi perayaan seperti ini." ucapnya merasa bersalah, padahal semua itu bukan kesalahan Varo.


Ana menggelengkan kepalanya cepat. Lalu dia tiba-tiba langsung memeluk tubuh suaminya sambil menangis. Walaupun sudah di seka berulang kali air matanya tetap saja menetes.

__ADS_1


"Tidak, ini semua sudah cukup, bagiku tidak penting pesta mewah ataupun sebagainya, bisa bersama denganmu saja aku sudah merasa bahagia." ungkap Ana yang merasa terharu pada ketulusan suaminya.


"Huem, baiklah! Kalau begitu jangan menagis lagi, ya." merenggangkan pelukan sang istri dan menghapus air matanya lagi untuk kesekian kalinya. "Ayo kita tiup lilin dan sampaikan permohona mu. Setelah itu baru kita makan malam." ajaknya menuntun Ana untuk duduk di kursi yang telah disiapkan.


Di atas meja selain ada kue ulang tahun. Makanan untuk mereka makan malam juga telah disiapkan.


Setelah Ana duduk pemuda itu pun menyalakan lilin pada kue ulang tahun istrinya. Lalu mereka berdua menyanyikan lagu ulang tahun dan berakhir pada peniupan lilin, sekaligus pemotongan kue.


Potongan pertama. Langsung Ana berikan pada sang suami. Dia menyuapi Varo dan setelahnya bergantian lagi, Ana yang disuapi.


Begitu acara ulang tahun itu berakhir. Mereka pun menyantap makan malam dengan saling melempar senyum bahagia. Selama mereka menikmati makan malam tersebut pemain musik yang sudah diperintahkan untuk menghibur mereka, juga mulai membunyikan musiknya.


Sehingga suasana romantis semakin terasa, beriringan dengan cuaca semakin dingin dan larut malam.


Tiga puluh menit kemudian.


"Ayo kita kembali ke kamar." ajak Varo melihat istrinya seperti kedinginan, karena terkena tiupan angin malam.


"Iya." jawab Ana ikut berdiri dari tempat duduknya. bukan hanya karena dingin saja akan tetapi jam pun sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


Sambil bergandengan tangan mereka berdua kembali lagi ke kamar hotel.


"Masuklah!" ucap Varo menyuruh istrinya masuk lebih dulu. Baru setelah itu dia menyusul di belakangnya.


"Varo terima kasih, terima kasih untuk semuanya. Aku benar-benar merasa sangat bahagia," seru Ana masih tidak percaya bahwa Varo akan merayakan hari kelahirannya.


"Tidak usah berterima kasih, Kau adalah istriku. Memang sudah seharusnya kan aku membahagiakan Istriku sendiri." jawab Varo mendekati istrinya yang sudah duduk di pinggir ranjang.


"Iya, tapi aku merasa tidak panta---"


Cup!


Varo langsung membungkam mulut istrinya. Dia yang sudah menahan diri untuk tidak menyentuh Ana dari tadi siang. Merasa tidak ingin menyia-nyiakan waktunya lagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2