
🍂🍂🍂🍂🍂
.
.
"Jadi bagaimana keadaan istri Saya, Dok?" tanya Varo tidak sabaran begitu Dokter bernama tag Rosita Khumaira itu duduk di kursi kerjanya.
"Jadi benar, Nona Ana sudah menjadi istri sah Anda?" Dokter Rosita belum menjawab pertanyaan Varo. Namun, ia balik bertanya, karena dia benar-benar harus menjelaskan penyakit pasien pada keluarganya sendiri, bukan pada orang lain. Meskipun Dokter tersebut tahu siapa orang yang berbicara dengannya saat ini, karena peraturan tetaplah peraturan yang harus di patuhi oleh siapapun. Meskipun anak presiden sekalipun, begitulah peraturan di kota B.
"Benar, dia istri Saya. Tunggu sebentar, Saya memiliki buktinya." kata Varo mengeluarkan dompetnya, lalu ia keluarkan Foto kecil dia dan Ana lagi memegang buku nikah. "Ini foto saat kami menikah beberapa bulan yang lalu, dan ini cincin perkawinan kami berdua. Anda bisa mengeceknya pada jari manis Ana, karena dia juga memakai cincin ini," papar Varo yang tidak bisa memaksakan sesuatu, seperti kehendak dirinya sendiri, hanya karena dia memiliki kekuasaan dan uang.
"Oh, sudah cukup Tuan Muda, simpan lagi saja. Mohon maaf, Saya tidak mempersulit Anda, tapi ini adalah peraturan rumah sakit ini. Tentunya Anda mengerti akan hal itu." kata dokter tersebut sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Iya, Saya mengerti akan hal itu, tapi Saya sangat mengkhawatirkan keadaan Ana," tutur Varo dengan wajah cemasnya.
"Keadaanya saat ini sangat lemah, begitu pula dengan janin yang ia kandung. Sepertinya sejak kemarin Nona Ana tidak memakan apapun, makanya keadaan istri Anda bisa seserius ini." jelas Dokter Rosita dengan helaan nafas berat, karena dia tahu siapa Ana dan seperti apa menderitanya gadis tersebut setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.
Masa iya sekarang saat sudah memiliki calon anak, harus keguguran juga. Kebetulan sekali Dokter Rosita dulunya memang dokter yang menangani penyakit Ana. Jadi boleh dikatakan, sudah kenal baik. Tadi pun jika tidak pingsan, Ana juga akan menemui Dokter Rosita.
"Ap--apa, apa! Ja--jadi, istri Saya lagi hamil maksudnya?" tanya Varo tergagap tidak percaya.
"Iya, apa Anda tidak tahu jika dia sedang hamil?" Dokter Rosita meyergit sampai satu alisnya terangkat ke atas.
"Tidak, saya tidak mengetahui kalau istri Sa hamil, dan baru mengetahuinya hari ini," Varo mengelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Pantas saja bisa seperti ini, Nona Ana tidak makan dan di dalam perutnya kosong tidak memiliki makanan apapun, terkecuali angin," jelas si dokter lagi.
Saya rasa, Nona Ana juga tidak tahu berita ini, dia tidak tahu bahwa di dalam perutnya sudah terdapat malaikat kecil." Dokter Rosita tersenyum kecil sambil menulis keterangan yang di berikan Varo, dan menyimpulkan apa yang sudah terjadi.
"Jadi sekarang apa yang harus Saya lakukan, Dok? Tolong bantu sembuhkan istri dan juga anak Saya yang masih di kandungan nya." mohon pria tersebut, yang selama ini belum pernah meminta tolong pada siapapun.
"Sekarang kami akan merawat intensif Nona Ana di rumah sakit ini, sampai keadaannya benar-benar pulih." jelas si dokter lagi. "Dan Anda tidak perlu melakukan apa-apa, hanya cukup buat dia senang dan jangan sampai tertekan. Sebab bila pikirannya tertekan, maka Saya juga tidak bisa menolongnya dengan semampu kami." pesan si dokter yang tadi juga mendengar para suster mengatakan bahwa Presdir Ravindra company sudah kembali lagi dengan mantan tunangannya.
Jadi Dokter Rosita mengaitkan, pingsannya Ana pasti ada hubungan dengan suaminya itu. Lagian istri mana yang akan menerima kenyataan bila sang suami memiliki wanita lain lagi.
"Baiklah, lakukan saja yang terbaik, Dok. Dan tolong pindahkan istri Saya ke ruang VIP di rumah sakit ini, karena bila tidak ada, maka Saya akan memindahkannya ke rumah sakit lain," ucap Varo sambil berdiri menyalami tangan dokter tersebut. Sebab ia sudah tidak sabar ingin menemui istrinya dan mengatakan berita bahagia tentang Ana yang lagi hamil muda.
"Tentu Saya akan melakukan yang terbaik dan memindahkan Nona Ana ke ruang yang bisa terjamin kenyamanannya. Namun, sebelum itu, kita akan melakukan USG sebentar, agar bisa mengetahui kehamilannya dengan jelas." kata Dokter Rosita yang hanya di iyakan saja oleh Varo.
"Baiklah, Saya ikut saja. Kalau begitu Saya permisi," pamit Varo keluar dari ruangan Dokter Rosita. Kebetulan sekali ruang tempat Ana saat ini hanya terpisah dinding saja.
Varo membuka pintu kamar tempat sang istri dengan pelan.
"Rani, apa nona muda belum sadar juga?" tanya Varo pada Rani yang setia menemani istri majikannya dari tadi.
"Belum Tuan Muda," jawabnya seraya berdiri dari kursi, karena tahu tuan mudanya akan duduk di samping istrinya.
"Tolong ceritakan, apa yang terjadi. Kenapa Istriku bisa seperti ini?" tanya Varo yang duduk menggenggam tangan pucat istrinya.
"Mohon maaf Tuan, kami semua hanya tahu tadi pagi-pagi sekali nona muntah-muntah tidak mau sarapan apa-apa." jawab perempuan itu gugup karena takut Varo akan marah.
__ADS_1
"Huem, apakah nona muda, ada menanyakan Saya pada kalian?" Varo kembali bertanya untuk memastikan jika dugaannya tidak sala. Ana adalah gadis yang ceria, jadi jika sampai tidak makan dari kemarin siang, berarti ada sesuatu, dan Alvero tahu jika ada hubungannya dengan dia dan Izora.
"Ada, dari semenjak pulang bekerja kemarin sore, nona memang sangat murung. Namun, dia tidak berbicara apapun, dan tadi malam, saat di suruh makan nona juga tidak mau, katanya sudah makan di Restoran sebelum pulang ke rumah," jelas Rani panjang kali lebar.
"Huh! Ya sudah, sebentar lagi Jepri akan datang, kamu pulanglah bersamanya." kata Varo menghela nafas panjang, karena menyesali perbuatannya yang tidak bisa tegas, menganggap jika semua sepele. Sekarang Varo harus menuai hasil dari sikapnya yang mengabaikan istri sendiri hanya karena mengasihani Izora, dan malah mengakibatkan keadaan Ana dan calon bayinya dalam bahaya.
"Baik Tuan Muda, nanti Saya akan menitipkan segala keperluan Nona dan Tuan," jawab si Bibi Rani yang sudah tahu apa saja tugas ia selanjutnya.
Setelah itu tidak ada pembicaraan antara keduanya lagi, Varo hanya duduk sambil menggenggam tangan kecil istrinya.
"Semua ini kesalahan diriku yang mementingkan menjaga Izora daripada pulang ke rumah, dan menemui Ana untuk menjelaskan semuanya. Bodoh, bodoh! Aku benar-benar bodoh! Mana mungkin Ana tidak mendengar berita kedatangan Izora ke perusahaan."
Gumam Varo di dalam hati penuh dengan penyesalan. Dia benar-benar menyalahkan dirinya sendiri.
"Sekertaris Arsad!" seru Rani berdiri dari sofa.
"Heum!" jawab Sekertaris Arsad berdehem saja. Lalu ia berjalan masuk setelah menutup pintunya kembali.
"Tuan Muda, Saya akan mengantar Rani pulang dan sekalian mengambil keperluan nona," ucap Arsad menunduk hormat.
"Bukannya ada Jepri? Kenapa kau yang mengantarnya?" Alvaro berdiri menjauhi tempat ranjang Ana, karena takut menganggu istrinya.
"Jepri lagi mengurus masalah yang di timbulkan oleh paman Anda Tuan, jadi biar Saya yang mengantar Rani,"
"Apa! Ya Tuhan, ini yang aku takutkan. Pergilah sekarang, dan cepat kembali ke sini lagi. Bawa pengawal untuk menjaga ruangan Ana. Aku yakin, jika nenek akan melakukan sesuatu. Sekarang semuanya sudah mengetahui pernikahan ku dan Ana." jelas Varo yang sudah tahu akan ada kekacauan setelah hubungan dia dan Ana di ketahui oleh keluarganya.
__ADS_1
"Baik, Saya akan pergi sekarang." Sekertaris Arsad langsung saja berpamitan pergi, di ikuti oleh Rani dibelakangnya.
BERSAMBUNG...