Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Memiliki hak.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


Pagi pun tiba.


Di kediaman keluarga besar Ravindra. Semuanya sedang berada di meja makan. Termasuk Varo, adik perempuan dan kedua orangtuanya. Sejauh ini belum ada yang membuka suara karena tahu kalau Nyonya besar di rumah tersebut sedangkan marah karena batalnya pertunangan Varo dan Izora.


Namun, Varo tidak ambil pusing, meskipun dia mengetahui kalau sang nenek marah karena hal tersebut. Dia terus saja melanjutkan sarapan, sampai suara si nenek bertanya padanya. Barulah Varo meletakkan sendok yang dia pegang di atas meja makan.


"Varo, apa benar kau membatalkan pertunangan kalian karena ingin menikahi gadis lain?" langsung ke inti permasalahan saja, tidak bertele-tele karena Rosa memang orang yang sangat keras.


Wanita tua itu sebetulnya bukanlah berasal dari keluarga kaya raya. Dia hanyalah gadis biasa yang dinikahi oleh Almarhum Tuan Ravindra, yaitu kakek kandung Varo.


Akan tetapi sikapnya langsung berubah setelah beberapa tahun menjadi Nyonya Ravindra. Dia mulai menunjukkan sifat aslinya yang serakah akan harta dan tahta. Semua sifat buruknya menurun kepada putra keduanya. Yaitu ayah dari Artha. Namun, berbeda dengan Martin. Dia seakan terlahir dari rahim yang berbeda. Pria itu memiliki sifat seperti Ayahnya Tuan Ravindra.


"Jika Nenek sudah tahu, kenapa masih bertanya?" tidak menjawab akan tetapi Varo kembali melontarkan pertanyaan.


"Varo jangan kurang ajar pada nenekmu." sentak paman Varo yang sedari tadi hanya diam sambil menyimak.


"Paman, salahnya dimana? Apa aku salah bicara? Nenek kan bertanya apakah aku akan menikahi gadis lain, jawabannya tentu saja iya, lalu untuk apa nenek masih bertanya." Varo yang biasanya selalu berbicara sopan. Pagi ini memperlihatkan kekuasaannya.


Entah apa yang terjadi sehingga Varo bisa seperti itu. Apakah Ana penyebabnya? Entahlah, yang jelas pasti ada suatu hal yang masih disembunyikan oleh Mak author.


"Apa! Jadi benar karena kau ingin menikahi gadis lain. Apa kau akan mengikuti jejak ayahm---"

__ADS_1


"Cukup! Sudah cukup, Nek. Nenek tidak berhak selalu menghina ibuku. Walaupun benar aku memutuskan pertunangan dengan Izora. Hal tersebut tidak ada merugikan Nenek." Varo berdiri dari meja makan, walaupun dia belum selesai menghabiskan makanan didalam piringnya.


"Aku juga memiliki hak dengan gadis mana aku akan menikah. Lagian Nenek tahu sendiri, semua ini kesalahan Izora sendiri yang membatalkan pernikahan kami. Jika Nenek ingin marah, maka marahlah pada wanita itu. Bukannya melemparkan kesalahan pada ibuku." sergah Varo langsung pergi meninggalkan mereka semuanya.


"Kenapa kalian berdua diam saja? Kalian lihat sendiri kan, seperti apa Varo membentak ku. Belum apa-apa, tapi dia sudah jadi anak kurang ajar." marah pada pasangan anak dan menantunya. Padahal Martin dan Serli tidak ikut campur.


"Huh! Mungkin hari ini kami akan pulang larut malam. Jadi makan malam nanti tidak usah menunggu kami." jawab Martin berdiri dan dia juga sama seperti putranya tidak menghabiskan sarapannya yang di ikuti oleh Serli.


Martin sengaja berbuat seperti itu agar dia tidak bertengkar dengan sang ibu. Berbeda dengan putrinya, gadis itu tidak pernah ambil pusing mau seperti apa saja keluarganya bertengkar. Dia tetap menghabiskan sarapannya, karena hal seperti itu sudah biasa terjadi.


"Kalian benar-benar membuat ku marah," Rosa menatap anak dan menantunya yang sudah pergi. Dimarah seperti apa pun Martin dan Serli tetap saja seperti itu. Mereka berdua memiliki cinta yang kuat, sehingga akhirnya Rosa menyerah untuk memisahkan mereka. Namun, dia masih terus menghina sang menantu.


Di dalam mobil.


πŸ“² Varo : "Pagi--- Apakah kau baru bangun tidur?" tersenyum begitu mendengar suara calon istrinya.


πŸ“± Ana : "Tentu saja aku sudah bangun dari tadi. Aku lupa kalau hari ini dan besok aku cuti." jawab Ana dari sebrang sana.


πŸ“± Ana : "Uuhukk ... uuhukk ... bukannya hanya dua hari? Kenapa bisa satu Minggu?" Ana yang mendengarnya langsung terbatuk-batuk.


πŸ“² : "Tidak jadi dua hari,satu hari lagi kita menikah. Lalu hari Seninnya aku akan ada perjalanan bisnis ke kota B selama tiga hari. Jadi kau akan ikut bersama ku."


πŸ“± Ana : "Memangnya tidak apa-apa kalau aku libur selama itu? Lagian perginya kan hanya tiga hari, kenapa aku harus libur satu Minggu?"


πŸ“² Varo : "Walaupun bekerjanya hanya tiga hari. Tapi kita akan berada disana selama satu Minggu. Sudahlah, jangan banyak bertanya. Tidak usah kemana-mana, nanti sepulang dari bekerja aku akan ke sana. Ada hal yang harus kita bicarakan." ucap Varo yang sudah mematikan mesin mobilnya karena sudah tiba di perusahaan Ravindra Company.


πŸ“± Ana : "Eum, baik. Hati-hati. Jangan lupa untuk makan dan istirahat." pesan gadis itu karena menduga jika calon suaminya sudah tiba di perusahaan.

__ADS_1


πŸ“± Varo : "Oke, terima kasih! Kau juga berhati-hati. Jangan membuka pintu, bila ada orang yang tidak dikenal datang ke sana. Aku mencintaimu," pesan pemuda itu langsung memutuskan sambungan telepon mereka. Lalu dia langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke perusahaan peninggalan sang kakek.


Begitu tiba dalam ruangannya. Varo langsung membuka laptop dan mulai bekerja. Hari ini pekerjaannya sangat banyak, apalagi dia akan melakukan bulan madu berkedok perjalanan bisnis.


Hampir dua Jam dia berkutat dengan laptop dan dokumen. Pintu ruangannya kembali lagi di ketuk, setelah tadi sekertaris pribadinya yang datang.


"Masuk!" ucap Varo tidak mengalihkan pandangan matanya dari laptop yang masih menyala.


Kleeeek ...


"Jangan bekerja terus, sekali-kali bawalah bersantai. Ini sudah seperti memiliki keluarga saja." ejek Arga yang di ikuti oleh Rizki dari belakangnya.


"Kalian? Tumben sekali pakai acara mengetuk pintu. Biasa langsung masuk seperti kambing." Varo balas mengejek. Melihat jika yang datang adalah sahabatnya, dia pun menutup laptop dan berdiri dari kursi kebesaran Revindra. Lalu berjalan menuju sofa dan duduk bersama kedua sahabatnya.


"Ada apa?" tanya Varo saat melihat Rizki tidak banyak bicara.


"Aku juga tidak tahu, coba kau tanyakan saja padanya ada apa." jawab Arga melirik kearah sang sahabat. Sebetulnya hari ini Arga memiliki banyak pekerjaan. Hanya saja karena Rizki memaksanya, jadilah dia menemani sahabatnya itu.


"Kenapa, Ki? Apa ada masalah di perusahaan, mu?" tidak biasanya melihat Rizki seperti itu membuat Varo merasa heran. Temannya itu memang pendiam, tapi bukan diam seperti sekarang.


"Ana kemana?" bukannya menjawab. Namun, Rizki malah menanyakan Ana. Gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta.


Varo yang mendengar pertanyaan tersebut, menyergit keningnya. Lalu karena pertanyaan tersebut di tujukan untuk dirinya, maka mau tidak mau Varo pun menjawab nya.


"Ana libur." menjawab singkat. Berharap Rizki tidak bertanya lagi. Akan tetapi dugaannya salah karena sahabatnya itu kembali bertanya.


"Libur kenapa? Berapa lama?"

__ADS_1


"Mana aku tahu dia libur kenapa. Berapa lamanya aku juga tidak tahu. Memangnya ada perlu apa pada Clening servis ku?" berkata santai, tapi dari ucapannya. Varo sedang mengklaim kalau Ana adalah miliknya.


*BERSAMBUNG* ...


__ADS_2