Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Sarat dari Ana.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


"Ana, jadi bagaimana? Apa kau mau menikah dengan ku?" tanya Varo dengan jantung berdebar-debar. Takut bila gadis itu menolaknya. Meskipun dia sudah mengetahui jika Ana menyukainya.


"Eum, eum ... Sa--saya, saya bukannya tidak mau. Ta--tapi diantara kita bagaikan langit dan bumi. Saya bukanlah wanita yang pantas bersanding dengan Anda Tuan Muda." Ana menundukkan kepalanya setelah berbicara seperti itu.


Meskipun dia menyukai Varo. Bukan berarti mereka berdua harus menikah. Apalagi pemuda itu baru saja putus dengan tunangannya tadi pagi. Membuat keraguan dihatinya. Antara harus menerima atau tidak.


Mau menolak, Ana malu pada kedua orang tua Varo. Namum, bila diterima dia ragu pada pilihannya sendiri.


"Nak, semua itu bukanlah masalah bagi kami. Asalkan dirimu mau menikah dan mencintai Varo saja, itu sudah cukup. Memiliki harta berlimpah, tidak bisa menjamin membuat kita bahagia." Serli ikut menyakinkan Ana untuk menerim putra sulungnya.


"Tapi Tante, Saya takut orang-orang berpikiran buruk tentang Saya." ungkap Ana sejujurnya karena takut bila dinilai wanita murahan.


"Soal itu, dirimu tidak perlu khawatir. Om akan mengurusnya, bila ada yang berbicara buruk tentangmu." timpal Martin menegaskan.


Mendengarnya Ana terdiam beberapa saat sebelum memberikan jawaban. "Kalau Saya menerima, apa boleh jika pernikahannya tidak usah diumumkan?"


"Kenapa? Apa kau malu menikah dengan ku?" hardik Varo sambil menatap Ana dengan lekat.


"Varo, biarkan Ana mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Kita tidak boleh menekannya." cegah Martin agar putranya mendengarkan dulu apa alasan Ana yang tidak mau pernikahan mereka diketahui oleh orang lain.


"Huh, baiklah!" Varo menghela nafas berat.


"Sebelumya Saya minta maaf, pada kalian semuanya. Saya, saya mau menikah dengan Tuan muda, Tapi dengan syarat pernikahannya tidak di umumkan." walaupun ragu-ragu Ana pun menyampaikan apa yang ada didalam pikirannya.


"Bagaimana Varo? Apa kamu setuju dengan permintaan Ana?" Martin melihat kearah putranya.


"Hem, tidak apa-apa! Aku setuju, tapi kita akan menikah akhir pekan. Untuk tempat ataupun yang lainnya. Terserah padamu mau dimana saja. Biar nanti sekertaris pribadi ku yang mengurus semuanya." Varo akhirnya mengikuti seperti apa kemauan Ana.


Gleeek ...

__ADS_1


"Ak--akhir pekan?" Ana menelan ludahnya sendiri. Antara percaya dan tidak akan menikah dengan bos-nya dalam waktu dua hari lagi.


"Iya, akhir pekan! Seumur hidupku selalu menyandang status bertunangan. Makanya aku tidak ingin kita tunangan lagi." putus pemuda itu dengan sangat yakin.


"Eum ... baiklah, Saya setuju. Tapi tolong jangan pecat Saya. Saya masih ingin bekerja di perusahaan Anda." pinta Ana. Sehingga ketiga orang yang ada dihadapannya langsung melihat kearahnya.


"Benar-benar gadis yang langka. Putraku tidak salah pilih, dia sudah menemukan pendamping yang cocok untuknya. pantas saja Varo mau menikahi pegawai Clening Servisnya. Ternyata dia memang sangat spesial dari gadis lain."


Puji Martin di dalam hatinya. Begitu pula Varo dan Serli juga sedang mengaguminya Ana. Di zaman sekarang bisa menemukan gadis seperti Ana benar-benar sangat langka.


"Oke, aku setuju!" tanpa mempertimbangkan lagi. Varo langsung saja setuju.


"Akhirnya!" Serli berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Ana dan langsung memeluk gadis itu.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah mau menerima putra Tante. Eh, bukan Tante. Tapi mulai saat ini pangil Ibu." seru wanita paruh baya itu tersenyum bahagia.


"Saya yang seharusnya berterima kasih kepada kalian semua, karena sudah menerima Saya apa adanya." gadis itu pun ikut membalas pelukan dari calon mertuanya.


"Ehem ... Ibu sekarang biarkan Varo memasang cincin ke jari manisnya, sebagai tanda kalau Ana sudah menjadi milik ku." pemuda itu berdehem, karena sudah tidak sabar mengikat gadis yang selalu membuatnya tersenyum akhir-akhir ini.


"Agh, Maafkan ibu, Nak. ibu benar-benar bahagia, akhirnya Ana mau menikah dengan mu. Jadi kita bisa menjaganya." Serli melepaskan pelukan mereka, lalu kembali ketempat duduknya seperti semula. sedangkan Ana tetap berdiri karena Varo mendekati gadis itu untuk memasang cincin sebagai pengikat mereka berdua.


"Jika kau bersedia, maka ulurkan tanganmu." lanjutnya lagi. Sambil menahan gemuruh didalam hatinya. Tidak berbeda jauh, Ana pun merasakan hal yang serupa. Laki-laki yang dia kagumi dari kejauhan. malam ini mengajaknya untuk menikah. Bahkan kedua orang tuanya merestui hubungan antara mereka berdua.


Ana pun akhirnya mengulurkan tangannya agar Varo menyematkan cincin tersebut sebagai bentuk kalau dia bukanlah gadis lajang. Tapi gadis yang sudah memiliki pasangan.


Sambil tersenyum Varo menyematkan cincin tersebut. Lalu Ana pun melakukan hal yang sama. Cincin pertunangan Varo dan Izora, sudah di kembalikan oleh kedua orang tuanya kepada keluarga Izora tadi Sore. Jadi di jari pemuda itu kosong tidak memiliki hubungan dengan gadis mana pun.


"Wah, selamat untuk kalian berdua, Nak. Ibu benar-benar bahagia." ucap Serli kembali berdiri untuk memeluk keduanya.


"Terima kasih Bu. Kalian berdua sudah memberikan Varo restu untuk menikahi Ana." ujar pemuda itu setelah melepaskan pelukan mereka.


"Varo, Ana. Kami akan pulang duluan. Ada hal yang harus Ayah urus." Martin berdiri setelah membaca pesan dari ponselnya.


"Kenapa buru-buru sekali, Yah?" tanya Serli bingung.

__ADS_1


"Ibu menyuruh kita kembali, termasuk Varo. Tapi cukup kita saja yang pulang duluan." jawab lelaki paruh baya itu menatap mata istrinya. Seakan-akan memberitahukan sesuatu lewat sorot matanya.


"Oh, kalau begitu mari kita pulang sekarang." sahut Serli langsung mengambil tasnya.


"Varo, kalian tidak usah buru-buru. ini masih setengah sembilan." pesan kedua orang tuanya sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Ada apa? Seperti ada masalah?" tanya Ana merasa seperti ada sesuatu.


"Tidak ada apa-apa. Sudah biarkan saja. Mereka berdua sudah biasa selalu terburu-buru." elak Varo karena tidak mungkin dia mengatakan kalau itu pasti ada masalah dengan mereka berdua. Sudah pasti neneknya marah karena pertunangannya dan Izora dibatalkan.


"Hem, baiklah. Kalau begitu ayo kita pulang." ajak Ana milirik jam pada pergelangan tangannya.


"Apa mau langsung pulang?"


"Memangnya mau kemana lagi? Kita sudah makan malam juga." jawab Ana sambil mengikuti Varo berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Jalan-jalan." menjawab singkat.


"Eh, tungu-tungu! Kita mau langsung pergi dari sini." bisik Ana karena Varo langsung menariknya keluar dari Restoran.


"Iya, memang kenapa?"


"Makanan kita tadi, makanan nya belum di bayar." masih berbisik takut orang lain mendengar ucapannya.


Sebelum menjawab Varo tersenyum lebih dulu. "Itu urusan sekertaris ku. Sudah ayo kita pergi jalan-jalan."


Saat Ana ingin mengatakan sesuatu lagi. Varo sudah menarik tangannya menuju mobil.


"Ayo masuk!" titah Varo membuka pintu mobilnya. Setelah Ana masuk, barulah dia menyusul dan langsung duduk di bangku kemudi.


"Anda mau a--a--apa?" tanya gadis itu langsung memejamkan matanya.


*BERSAMBUNG* ...


__ADS_1


Halo Kakak Raeder semuanya.


yuk, baca novel sahabat Mak author juga. Jangan lupa berikan dukungannya, ya πŸ€— Terima kasih.😘


__ADS_2