
πΎπΎπΎπΎπΎ
.
.
Begitu mendapatkan telepon dari keluarga besar Izora. Rosa neneknya Varo langsung menghubungi kedua orang tuanya. Termasuk Varo sendiri. Namun, pemuda itu tidak menghidupkan HP miliknya, karena sudah tahu kalau sang nenek akan menggangu waktunya bersama Ana.
Beliau benar-benar marah besar, karena kedua orang tua Varo sudah memutuskan hubungan Varo dan Izora tanpa memberitahu nya. Apalagi berita yang mereka sampaikan kalau cucu laki-lakinya akan menikah dengan gadis lain.
Izora sendiri yang mendengar berita tersebut tidak berbicara apapun. Dia hanya mengatakan biarkan saja mereka menikah. Nanti setelah dia kembali, maka Varo akan meninggalkan wanita tersebut.
"Apa maksud kalian memutuskan hubungan Varo dan Izora." Rosa menatap Martin dan istrinya penuh emosi. Apalagi melihat Varo tidak bisa dihubungi sampai saat ini.
"Ibu, kami tidak memutuskan hubungan Varo. Tapi Izora sendiri yang membatalkan pernikahan mereka." Martin menjawab dengan santai, karena sudah muak harus mengikuti permintaan dari ibunya.
"Kalian!" wanita tua itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua yang dikatakan oleh Martin anaknya adalah benar. "Sudahlah, tidak usah membahas pertunangan mereka yang batal. Sekarang tolong jelaskan apa maksud kalian mengatakan kalau Varo akan menikah?" tanya beliau yang baru menggigat hal tersebut.
"Ibu, biarkan Varo memilih siapa wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya. Sudah cukup ibu menantang pernikahan kami berdua." ucap Martin.
Dalam perjalanan pulang menuju kediaman keluarga Ravindra. Dia dan Serli istrinya sudah membicarakan keputusan apa yang akan mereka lakukan demi kelangsungan hubungan Varo bersama gadis pilihannya.
"Apa maksudmu?" untungnya si nenek tua itu tidak memiliki penyakit jantung. Bila tidak, mungkin sedari tadi dia sudah serangan jantung karena amarahnya. "Jangan bilang kalau Varo ingin menikahi gadis yang berstatus sama seperti istrimu." tidak sedang marah saja Rosa selalu menghina menantu pertamanya itu. Apalagi disaat seperti sekarang, karena beliau sangat ingin Varo menikah dengan cucu dari sahabatnya.
"Ibu sudah cukup! Siapapun gadis yang dipilih oleh Varo, ibu tidak ada hak untuk melarangnya." jawab Martin yang tidak suka sang ibu masih mengungkit status istrinya.
"Tidak ada hak, bagaimana mungkin dirimu berani mengatakan kalau ibu tidak punya hak? Varo adalah CEO dari perusahaan Ravindra. Apa pantas bila dia menikah dengan wanita yang tidak setara dengan keluarga kita?" sergah wanita paruh baya itu menggebu-gebu. Lalu dia kembali lagi berkata.
"Wanita yang cocok menjadi istrinya hanya Izora, lagian mereka juga saling mencintai. Ibu sangat yakin bila pun Varo menikahi gadis tersebut, itu karena sedang dalam pengaruh perempuan itu." seru Rosa tidak bisa menerima begitu saja.
__ADS_1
"Ibu ... terserah ibu mau menerima atau tidak. Ibu berhak berpikiran seperti apa saja. Tapi sebelum ibu menyesalinya, maka biarkan putraku memilih jalan hidupnya sendiri." ucap Martin berhenti sejenak lalu kembali lagi melanjutkan.
"Dulu, Varo memang sangat mencintai Izora. Tapi kalau sekarang aku rasa perasaan tersebut sudah hilang. Ini sudah ketiga kalinya Izora membatalkan pernikahan mereka. Untung saja Varo melarang kita untuk memberitahu orang luar tentang rencana tersebut. Tidak perlu aku jelaskan, ibu pasti sudah tahu apa yang akan terjadi pada saham Ravindra." jelas Martin berusaha untuk memberikan pengertian pada sang ibu.
"Ini sudah malam, ibu kembalilah ke kamar untuk istrirahat. Tidak usah memikirkan masalah yang bisa menggangu kesehatan ibu." ucap Martin langsung menarik tangan Serli istrinya pergi meninggalkan ibunya diruang tengah.
"Apa, aku tidak akan membiarkan cucuku terjebak pernikahan dengan wanita yang tidak jelas, seperti dirimu." teriak Rosa melihat kepergian anak dan menantunya.
"Sayang, seharusnya kita tidak meninggalkan ibu saat dia belum selesai berbicaranya." Serli menahan pergelangan tangan suaminya agar berhenti sesaat.
"Sudah tidak apa-apa. Sekali-kali kita harus berani menantang kehendak ibu. Bila dibiarkan ibu pasti akan memaksa Varo menikahi Izora." menyentuh pundak sang istri lalu kembali lagi menarik tangan wanita yang selalu dihina oleh ibunya ke kamar mereka.
Tiba di dalam kamar.
"Menurutku keputusan yang diambil oleh Ana bagus juga. Untuk saat ini pernikahan mereka lebih baik kita rahasiakan termasuk dari ibu." ucap Serli setelah mereka duduk di sofa yang ada dalam ruangan tersebut.
"Maksudmu apa kita juga harus merahasiakan dari ibu?" Martin langsung menoleh kearah sang istri. Untuk memastikan perkataan istrinya.
"Tapi bagaimana mungkin merahasiakan pernikahan ini dari ibu. Mereka harus tinggal bersama, pasti ibu akan mengetahuinya." jawab laki-laki itu merasa binggung. Bila putranya sudah menikah, sudah jelas akan tinggal bersama dengan istrinya.
"Maksudku, Varo dan Ana akan bersama disaat siang saja. Malam harinya putra kita akan kembali kerumah ini. Sedangkan Ana tetap tinggal di rumahnya. Untuk sementara waktu, hanya ini satu-satunya jalan agar tidak ada yang mengangu hubungan mereka berdua." menggigat kalau calon menantunya masih ingin bekerja di perusahaan Ravindra. Membuat Serli memiliki ide seperti itu.
"Jadi meraka akan tinggal terpisah? Tidak sayang, aku rasa Varo tidak akan mau tinggal terpisah dengan istrinya. Kamu melihat sendiri tatapan penuh cinta dari putra kita saat menatap Ana." Martin merasa ide tersebut sedikit sulit.
"Biar aku yang berbicara dengan Varo. Dia pasti mau, ini semua demi hubungan mereka berdua." Serli mengengam tangan sang suami untuk memberitahukan bahwa dia bisa menyakinkan putra mereka.
"Eum, baiklah! Aku percaya Varo pasti mau mengerti, bila dirimu yang berbicara padanya." balas Martin ikut menyatukan jari-jari tangan mereka berdua lalu mengecup tangan sang istri.
Cup ...
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu!" tersenyum sambil menatap penuh cinta. Wanita yang sudah membuat Martin berani menantang ibunya. Demi gadis yang dia cintai. Makanya mereka berdua sangat mendukung apa yang menjadi pilihan anak-anaknya.
"Aku juga sangat mencintaimu." jawab Serli juga ikut tersenyum. "Sayang, sebetulnya Ana tidak akan hidup susah bila harta kedua orang tuanya tidak diambil oleh saudara jauh dari ayahnya." ucap wanita itu setelah dari Restoran ingin bertanya pada Ana. Namun, karena takut salah bicara atau membuat calon menantunya bersedih jadinya tidak jadi bertanya.
"Benarkah? Kenapa bisa seperti itu?" Martin yang mendengar cerita sang istri langsung memperbaiki duduknya. Martin memang pernah bertemu dengan kedua orang tua Ana beberapa kali. Tapi dia tidak dekat, karena disaat bertemu mereka selalu dalam keadaan sibuk.
"Iya benar sekali, disaat aku mendatangi kediaman Airin. Tetangga mereka yang bicara seperti itu."
"Kenapa tidak memberitahuku? Mungkin aku bisa membantu Ana untuk mempertahankan harta kedua orang tuanya."
"Sebetulnya aku ingin meminta bantuan mu. Tapi disaat itu keluarga kita sendiri juga banyak masalah." ungkap Serli baru menceritakan pada suaminya. Martin hanya tahu kalau sahabat istrinya sudah meninggal dunia saat mereka berada di luar negeri.
"Iya, keluarga kita selalu ada masalah, tapi semua masalahnya karena ibu. O'ya aku akan menyuruh Varo menyelidik masalah keluarga Ana. Tapi kita harus diam-diam saja, jangan sampai Ana mengetahui kalau Varo menyelidik masalah tersebut. Takutnya kita malah membuat Ana tersinggung."
*BESAMBUNG*...
.
.
.
Hayo ada yang penasaran nggak sama kisah mereka? kira-kira hubungan seperti apa yang di jalani oleh Ana dan Varo. Mungkinkah CEO Ravindra itu mau tinggal terpisah dengan istrinya? Padahal, Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan ya π€ Biar Mak author semagat juga buat nulisnya.
Like.
Vote.
Komentar.
__ADS_1
Subscriber.
Bintang lima, bunga dan kopinya π Biar Mak author gak ngantuk saat nulis.π΄π΄ Terima kasih.πππ