
πΎπΎπΎπΎπΎ
.
.
"Varo, Nenek menyuruh mu, kenapa malah kembali menyuruh Nenek." jawab wanita yang Varo sebut nenek.
"Nek, ayolah Varo malas selalu berdebat seperti ini." setelah mengatakan itu Pria tersebut langsung pergi dari sana menuju lantai atas tempat kamar nya berada.
Meskipun tinggal di rumah besar, bila tidak memiliki ketentraman sama saja berdiam diri di padang tandus. Itulah yang Varo rasakan setiap harinya. Dia memang menjabat sebagai Presdir dari perusahaan besar. Namun, perusahaan tersebut bukanlah milik dirinya sendiri.
Melainkan milik sang kakek yang di wariskan pada ayahnya dan sekarang di serahkan kepada Varo sendiri, karena ayahnya adalah anak pertama. Begitupun dengan dirinya yang juga menjadi cucu laki-laki dari anak tertua.
Setelah kepergian Varo dari ruang keluarga.
"Ibu... tolong jangan terlalu keras menekan Varo untuk segera menikah. Bila sudah saatnya, pasti dia akan menikahi Izora." ucap Serli yang terkadang kasihan melihat putranya selalu di desak.
"Heh, tahu apa kau! Aku tidak pernah menekan nya. Aku hanya menjaga cucuku agar tidak menikahi wanita biasa. Sudah cukup ayahnya yang membuat setatus keluarga Ravindra menurun karena menikahimu." bicara tanpa memikirkan perasaan menantunya. Itulah yang selalu di ucapkan oleh wanita tua tapi masih sangat cantik karena beliau merupakan Nyonya dari Ravindra.
"Ibu, sudah! Cukup! bagaimana pun Serli adalah istri dan ibu dari kedua anakku. Sudah cukup ibu menghinanya selama ini. Apa salahnya bila dia hanya anak seorang guru." seru Martin tidak terima istrinya selalu di rendahkan.
Martin adalah anak pertama dari Tuan Ravindra bersama istrinya yang bernama Rosa. Mereka memiliki tiga orang anak yang sekarang sudah berumah tangga dan memiliki beberapa orang keturunan yang sudah seumuran juga dengan Alvaro dan adik perempuannya.
"Memang tidak salah. Tapi yang salah karena derajat kita berbeda." Wanita tua itu dari dulu sampai sekarang memang tidak pernah menyukai Serli ibu kandung Varo yang hanya anak dari seorang guru PNS di kota mereka.
Namun, karena Martin menyukainya. Tuan Ravindra mengizinkan mereka menikah. Tapi tidak dengan Rosa yang sangat menjunjung tinggi derajat dan martabat.
__ADS_1
"Ayah sudahlah!' Ibu, kalau begitu kami permisi untuk kekamar dulu." ucap Serli yang tidak pernah mau ambil hati perkataan ibu mertuanya. Asalkan dia dan suaminya tetap bersama dan tidak di pisahkan, itu sudah cukup. Sebab dari dulu mertuanya hanya menghina saja agar Serli menyerah, lalu meninggalkan putranya.
"Aiissh! Selalu saja seperti itu." mengerutuk karena apapun yang dia katakan. Serli tidak pernah menghiraukannya, yang ada hanya pergi meninggalkan dia agar tidak menimbulkan pertengkaran antara Martin putra nya sendiri.
Sedangkan di dalam kamarnya. Varo kembali lagi duduk melamun memikirkan gadis Clening servis yang tanpa sengaja dia peluk karena ingin menolong nya.
"Ana... nama yang cantik dan imut. Sama seperti orangnya." kembali tersenyum seperti di perusahaan, dan sudah melupakan bad mood yang di sebabkan oleh sang nenek.
"Kira-kira dia sudah berumur berapa tahun ya? Kenapa perasaanku dia kecil sekali?" bertanya hal yang bukan menjadi bagian dari urusannya.
"Dia benar-benar wanita langka, aku tidak menyangka masih bisa bertemu gadis baik sepertinya." ucap Varo semakin larut dengan pikirannya, sampai jam tujuh malam setelah HP miliknya berdering, barulah dia tersadar sudah membuang-buang waktu hanya memikirkan gadis tersebut.
"Arga!" gumam Varo setelah melihat siapa yang sudah meneleponnya.
π± Varo : "Iya, Ga, ada apa?" bertanya karena sudah lupa kalau tadi siang mereka sudah membuat janji akan berkumpul di tempat biasa mereka mencari hiburan.
π± Varo : "Eh, maaf aku lupa. Baiklah kalau begitu aku mau mandi dulu, kalian tunggu saja tidak sampai setengah jam lagi aku akan datang."
π± Arga : "Apa! Jadi kau belum mandi? Varo ini sudah jam tuj---"
Tuuuuut....
Sambungan tersebut sudah di matikan sepihak oleh Varo, karena dia langsung mengambil handuknya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tidak sampai waktu lima belas menit. Pria tersebut sudah membersikan dirinya, lalu dia mengambil baju kaos lengan pendek dan di tambahkan jaket di luar baju itu. Pakaian yang biasa digunakan apabila berkumpul bersama kedua sahabatnya.
Merasa sudah siap semuanya. Varo mengambil kunci mobil dan HP miliknya yang ada di atas meja samping tempat tidur. Dengan langkah santai Varo melewati ruang tengah tempat nenek dan para sepupunya berkumpul.
__ADS_1
Seluruh keluarga Ravindra memang tinggal di rumah megah itu semuanya. Rosa tidak mengizinkan para anak-anak nya tinggal di rumah mereka sendiri. Meskipun sudah dari dulu Martin ingin pindah karena tidak mau sang ibu selalu menghina istrinya.
"Varo, kamu mau pergi kemana malam-malam seperti ini?" tanya Rosa menahan kesal karena Varo hanya melewati mereka begitu saja.
"Mau keluar, Nek." jawab Varo dengan malas.
"Nenek juga tahu kalau kamu akan keluar. Tapi mau bertemu siapa?"
"Nek, Varo bukan lagi anak kecil yang selalu Nenek atur ingin pergi kemana dan mau bertemu siapa." jawab Varo yang benar-benar sudah lelah, terus-menerus berdebat dengan sang nenek.
"Nek, sudahlah! Kakak pasti akan bertemu dengan kedua sahabatnya." cegah sepupu Varo bernama Artha Ravindra yang merupakan anak pamannya. Umur mereka hanya berbeda empat bulan lebih tua Artha dari pada Varo, karena orang tua Varo tidak langsung bisa memiliki anak. Namun, meskipun umur Artha lebih tua tentu saja dia harus memangil Varo kakak.
"Nenek hanya tidak ingin dirimu berhubungan dengan gadis lain. Makaknya nenek selalu bertanya."
"Ck, bila Nenek tidak mau aku berhubungan dengan wanita di luaran sana. Maka Nenek telepon Izora suruh dia kembali agar kami segera menikah, maka aku tidak akan mencari hiburan di luar sana." tekan Varo pada neneknya, sebab yang memaksa mereka bertunangan juga wanita tua itu.
Sebetulnya Varo dan Izora memang sudah berpacaran sejak tiga tahun lalu. Tapi yang memaksa agar keduanya bertunagan adalah Rosa dan neneknya Izora, karena mereka adalah sahabat jadi takut hubungan Varo dan Izora tidak sampai ke jenjang pernikahan. Namun, lucunya lagi setelah mereka bertunagan yang di tekan oleh Rosa adalah cucunya sendiri.
"Jadi kamu mau menyalahkan Nenek?"
"Aku tidak perlu menjawab, karena Nenek sendiri pasti sudah tahu jawabannya 'kan," Varo langsung saja pergi tidak mau mendengar ucapan sang nenek.
Andai saja Varo tidak memikirkan pesan almarhum kakek nya. Sudah lama Pria tersebut meninggalkan perusahaan Ravindra dan menyerahkan pada Artha sepupunya.
"Bila tidak memikirkan permintaan terakhir kakek, sudah lama aku pergi meninggalkan perusahaan. Gara-gara aku menyandang tangung jawab ini. Nenek selalu mengatur hidup ku." ucap Varo yang tidak tahu harus marah pada siapa lagi.
Saat mobilnya melewati lampu merah dekat taman ibu kota. Tidak sengaja matanya melihat sosok gadis yang sudah membuat seorang Alvaro tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Ana... mau kemana dia malam-malam seperti ini pergi ke taman? Apa mau menemui kekasihnya? Agh aku harus mengikuti gadis itu." tidak berpikir ulang, Varo langsung saja memarkirkan mobilnya tidak jauh dari tempat lampu merah dan turun untuk mengikuti Ana.