
🌾🌾🌾🌾🌾
.
.
"Varo, tolong angkat kaki mu, aku mau mandi." sudah hampir lima belas menit. Gadis itu belum juga berhasil menyingkirkan kaki Varo yang berada di atas kedua kakinya.
"Varo, eh salah! Tuan Muda, tolong singkirkan kaki mu. Aku mau mandi," ucap Ana yang tidak sadar kalau sebetulnya Varo sudah bangun dari tadi. Bahkan sebelum dirinya, suaminya itu sudah bangun lebih dulu.
"Tuan Muda Varo---"
Cup, cup, muuuaaah! Kenapa kamu berisik sekali, heum!" tanya Varo berpura-pura baru bangun. seakan suara Ana mengangu tidurnya.
"Kenapa malah menatapku seperti itu?" Varo sudah kembali lagi mendekatkan mukanya. Akan tetapi Ana langsung menutup bibir Varo yang sudah mau mengecupnya lagi.
"Kenapa kamu suka sekali mencium tanpa permisi lebih dulu?" Ana balik bertanya dan masih membekap mulut Varo mengunakan tangan kecilnya.
"Kenapa aku harus permisi? Kau adalah istriku," Varo merebahkan lagi tubuhnya keatas bantal. Lalu tangannya menarik Ana agar berbaring pada lengannya.
Ana yang memiliki tubuh kecil. Tentu saja akan tertarik begitu saja dan melepaskan tangannya yang tadinya membekap mulut sang suami.
"Ana... aku mencintaimu." ucap Varo sambil mencium pucuk kepala Ana.
"Ya, aku sudah tahu. Sekarang tolong lepas, aku mau mandi. Ini sudah sore." jawab Ana tetap tidak membalas kata-kata cinta dari suaminya.
"Apa kau tidak mau mengucapakan kalau dirimu juga mencintaiku?" tidak melepaskan tapi justru memeluk semakin erat.
"Cinta itu tidak perlu diucapkan. Tapi cukup dibuktikan. Sekarang ayo lepas, aku mau mandi." pinta Ana tidak mau menyerah. Jantungnya sudah berdebar-debar dari tadi karena takut Varo meminta haknya.
"Benarkah seperti itu? Aku tidak mau melepas mu. Sebelum kau menciumku di sini, sini, sini dan di sini." tersenyum menyeringai.
"Apa! Kenapa banyak sekali?" protes Ana merasa jika Varo sedang mengambil kesempatan.
"Tentu saja harus banyak. Ingat cinta itu tidak perlu diucapkan. Tapi cukup buktikan " kata pemuda itu mengikuti ucapan sang istri.
"Ayo cepat cium! Nanti kita malah kesorean pargi jalan-jalannya." ucap Varo melepaskan pelukannya. Agar sang istri mudah saat mau mencium dirinya.
"Agh, iya aku lupa. Baiklah sekarang pejamkan matamu. Aku akan menciummu." jawab Ana tersenyum. Saat Varo sudah memejamkan mata dan siap menerima ciuman darinya. Ana mengecup pipi Varo satu kali, setelah itu dia turun dari atas ranjang dan berlari masuk kedalam kamar mandi.
"Dia membohongi ku?" Varo membuka matanya dan tersenyum. "Awas kau ya, aku tidak memakanmu dari tadi karena takut kau tidak bisa berjalan. Lalu acara yang sudah aku persiapkan malah menjadi gagal."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Varo turun dari atas ranjang, karena ingin mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Sekertaris Arsad agar menyiapkan mobil untuk dia pergi jalan-jalan bersama istrinya.
Hampir lima belas menit kemudian. Ana sudah keluar dari kamar mandi. Gadis itu mengenakan Barthrobe yang sudah disediakan di dalam kamar mandi.
"Apa sudah selesai?" tanya Varo melihat kearah istrinya yang berjalan mendekati koper pakainya.
"Sudah, kamu mandi saja. Aku juga mau berganti pakaian ku." suruh Ana karena tidak mungkin dia mengganti pakaiannya dihadapan Varo.
"Oh, iya aku mandi sebentar. Kau bersiap-siap saja. Setelah siap, kita akan langsung berangkat." kata Varo belalu ke kamar mandi. Dia sengaja menghindari sang istri karena takut tidak kuat menahan dirinya untuk menyentuh sang istri yang terlihat semakin menggoda jiwa kelelakianya.
Selama Varo membersihkan dirinya. Ana yang sudah selesai memakai pakaiannya sendiri. Memberanikan diri untuk membuka koper Varo dan menyiapkan pakaian sang suami.
Meskipun tidak ada yang mengajarnya. Ana tahu seperti apa saja tugas seorang istri, karena saat Almarhum ibunya masih ada. Dia sering melihat sang ibu menyiapkan pakaian untuk ayahnya. Maka dari itu pagi ini Ana mulai mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri.
Ceklek!
Bunyi pintu kamar mandi yang dibuka oleh Varo. Pemuda tampan itu semakin terlihat lebih tampan lagi dan mempesona. Rambutnya yang basah tubuhnya yang atletis, beserta roti sobeknya terlihat begitu jelas, karena Varo hanya memakai handuk sebatas pinggangnya.
"Sayang, Kau menyiapkan pakaian untuk ku?" Varo tersenyum bahagia. Meskipun hanya sekedar menyiapkan baju. Tapi bagi Varo yang selalu hidup dalam tekanan neneknya selama ini. Merasa jika hal tersebut adalah sebuah kebahagiaan tersendiri baginya.
"Iya, pakailah! Maaf aku sudah lancang membuka koper mu. Tapi aku hanya mengambil pakaian saja. Tidak memegang barang yang lainya." jawab gadis itu menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap tubuh putih suaminya.
Cup!
"Terima kasih!" ucapannya mengecup bibir Ana sekilas. Lalu setelah itu Varo berjalan kearah ranjang mengambil pakainya yang sudah disiapkan oleh sang istri.
Saat Varo memakai pakaiannya. Ana masuk kedalam kamar mandi. Untuk mengumpulkan pakain kotor mereka dan dimasukan kedalam keranjang cucian. Setelah kira-kira Varo selesai, barulah dia keluar dari sana.
"Sayang, aku sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang." ajak Varo sambil mengambil ponsel dan juga dompetnya.
"Iya, tunggu aku memasang sepatu." kata Ana duduk diatas Sofa memakai sepatunya. Sedangkan Varo sudah memasang disaat istrinya berada di dalam kamar mandi.
"Duduklah! Biar aku yang memasangnya." ucap Varo berjongkok memasang sepatu sang istri yang terlihat seperti gadis ABG. Pada dasarnya Ana memang masih berumur delapan belas tahun pada hari ini.
Acara ulang tahun sang istri lah yang sedang di persiapkan oleh Varo. Pemuda itu telah menyiapkan kado dan juga makan malam yang romantis. Namun, Ana sendiri belum menyadari bahwa dirinya lagi berulang tahun.
Ana hanya diam karena percuma saja. Menolak pun pasti tidak akan bisa, sifat Varo suka memaksa.
"Sudah! Ayo," Varo berdiri dan membantu Ana untuk bangkit dari atas sofa. Lalu mereka berdua keluar dari kamar hotel saling berpegangan tangan dan bergurau.
__ADS_1
Tiba di depan lobby hotel. Mobil yang disiapkan oleh Sekertaris Arsad sudah menunggu di sana.
"Masuklah!" ucap Varo membuka pintu mobil untuk sang istri. "Ar, Kau tidak perlu ikut. Aku akan membawa mobilnya sendiri." Varo menoleh kearah sang Sekertaris yang siap untuk menyopiri mobil tersebut.
"Apa Anda yakin?" tanyanya Arsad memastikan, karena biasanya Varo selalu minta diantarkan apabila dia ingin pergi.
"Tentu saja! Hari ini aku hanya ingin berdua dengan Istriku. Kau boleh pergi bersenang-senang kemanapun. Asalkan untuk acara nanti malam sudah siap, tidak ada yang kurang." sebetulnya Varo mengizinkan Arsad bersenang-senang atau tidak?
"Baiklah! Kalau begitu Saya akan melihat persiapan untuk nanti malam. Selamat bersenang-senang." Sekertaris Arsad menundukkan sedikit kepalanya sebelum Varo masuk kedalam mobil.
"Sebentar!" kata Varo memasang selt belt pada tubuh kecil istrinya. Dapat Ana rasakan bau harum dari tubuh Varo karena jarak mereka berdua hanya beberapa senti. Hal yang sama pula dirasakan oleh suaminya.
"Sial! Baru seperti ini saja dia sudah bangun lagi. Tahan, tahanlah Varo! Bersabarlah tunggu nanti malam, dia sudah menjadi milikmu. Tidak ada yang mau merebutnya."
Gumam Varo di dalam hatinya. Lalu dengan nafas naik turun. Dia menjauhkan tubuh mereka dan mulai menjalankan kendaraannya.
Di kota B Varo memang memiliki kendaraan khusus apabila dia datang ke sana. Untuk menenangkan si adik kecilnya. Varo sengaja mengajak Ana bercerita sampai ke tempat yang di tuju.
Kebetulan tempat tersebut tidak terlalu jauh dari hotel mereka menginap.
"Apa kita sudah sampai? Cepat sekali?" tanya Ana merasa heran, karena tidak sampai lima belas menit. Varo sudah membelokan mobilnya dan langsung memarkirkan di samping kendaraan lain.
"Iya, kita sudah sampai. Ayo turun!" Varo kembali lagi membantu melepaskan selt belt yang di pasangnya tadi.
Setelah mereka sama-sama turun dan menutup pintu mobil. Varo mengandeng istrinya berjalan santai.
Wah, aku tidak menyangka. Di tengah-tengah kota besar seperti ini. Ada tempat indah yang membuat hati kita merasa tenang." Ana yang memang menyukai tempat terbuka seperti taman ataupun sebagainya. Tentu saja langsung menyukai tempat tersebut.
"Coba lihat kesini," pinta Varo mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar mereka berdua.
"Buat apa? Apakah mau mengambil gambar?" tanyanya Ana melihat kearah ponsel suaminya.
"Jangan banyak bertanya. Ayo cepat lihat kameranya." pinta Varo sudah mengambil gambar beberapa kali.
"Hei, aku belum siap. Cepat ulang! Ambil gambar yang benar." setelah istrinya siapa. Varo mengambil gambar lagi. Walaupun hanya foto Selfi biasa.
"Wah, hasilnya lucu. Kirim ke ponselku juga, ya." kata Ana seraya menarik tangan Varo berjalan mendekati danau.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1